
Satu semester Muna berlalu begitu saja, hampir tak terasa karena kesibukannya yang mulai menggarap tugas akhir. Usia Aydan pun sudah 15 bulan. Aydan tumbuh dengan baik dan sehat. Ia sudah bisa berjalan, sudah sering ikut mengatur perabotan rumah tangga yang tidak semestinya ia atur dan urus. Namun, itulah anak-anak di usia itu yang memiliki rasa ingin tau secara berlebihan dan belum mengerti mana yang berbahaya atau tidak baginya.
Kevin benar tak sering lagi menjenguk anak istrinya. Benar hanya 3 bulan sekali ia ke Apeldoorn. Untuk urusan kebutuhan biologisnya, sesuai permintaan Muna, mereka saling bersepakat untuk tidak membahas dan tidak berbicara menyerempet ke hal tersebut. Bisa di alihkan pada kegiatan olahraga, ngegyim juga sholat. Namun, pernah juga jika kepepet Kevin memilih untuk bersolo karir sambil melakukan video call dengan Muna. Nasiib.
Libur semester akhir tiba kembali. Muna ingin pulang. Tapi kali ini tugas kampus tidak semudah itu untuk di tinggal, sebab jadwal dosen sudah semakin tak jelas. Dan Muna tidak ingin skripsinya tertunda. Maka memilih tetap berada di Belanda saja, agar sewaktu-waktu bisa segera datang jika dosen memiliki waktu untuk membuat janji temu.
Perihal ke tidak pulangan Muna tentu berdampak baik untuk kakek Hildimar. Maka ia memohon agar selama libur, Muna dan Aydan tinggal bersamanya di istana 7 tingkat tersebut.
Muna tidak keberatan. Sebab juga ingin mendekatkan Aydan bersama kakek buyutnya tersebut. Adalah hal yang menyenangkan bagi kakek juga Aydan sendiri. Yang bagai berada di pusat permainan dunia anak, semua tersedia dia sana, berikut para pemandu yang sudah kakek Hildimar siapkan unyuk buyutnya tersebut. Harinya ia habiskan untuk terkekeh-kekeh melihat tingkah polah yang di lakukan Aydan. Hal terindah yang tak pernah ia nikmati, saat Muna bayi. Karena kesalahan dan ke egoisannya di masa lalu.
Namun hanya dua pekan kakek dapat bermain-main dengan Aydan. Tiba-tiba saja kesehatan kakek memburuk. Mendadak drop begitu saja. Padahal pola makan dan istirahat kakek cukup dan sudah sesuai dengan aturan yang dokter jadwalkan padanya. Begitu juga dengan obat-obatan yang mesti seumur hidup harus ia konsumsi pun tak pernah kurang dan terlambat sedikitpun.
"Nyonya muda. Tidak ada satupun yang bisa memprediksi apapun yang terjadi di dunia ini. Maka tanpa ingin mendahului Tuhan. Jika bisa, segera kumpulkan sanak keluarga yang mungkin bisa beliau temui, Sebelum hal lebih buruk terjadi. Saya kira nyonya paham dengan yang saya maksudkan." Tukas dokter setelah melihat keadaan tekanan darah beliau yang tak kunjung turun. Masih berada di angka 200/120, HB nya pun rendah. Responnya terhadap orang di sekitarnya semakin tidak menunjukkan reaksi. Bisa di katakan kakek Hildimar hanya bertahan oleh alat medis saja.
"Baiklah saya paham dengan yang dokter maksudkan. Namun, apakah segala usaha sudah maksimal?"
"Sudah nyonya, kami juga sudah melakukan pemindaian melalui CT scan. Perdarahan di otaknya yang sudah menyebar. Kemungkinan di lakukan operasipun hanya 10% keberhasilannya. Maaf, bisa saja beliau justru akan hilang di atas meja operasi." Jelas dokter itu panjang lebar.
"Baiklah. Baiklah... saya akan segera menghubungi mama dan semuanya. Agar datang ke sini. Sebab, kakek pernah menyampaikan wasiatnya. Jika saja ia akan tutup usia, ia tak ingin merepotkan siapapun dalam hal meletakan jasad terakhirnya. Di negara manapun ia tutup usia maka di situlah tempat peristirahatan terakhirnya." Muna mengenang.
Muna masuk mendekati tubuh yang di penuhi alat medis itu. Mengelus kulit tangan yang telah keriput di makan usia tersebut.
"Kakek... jika lelah istrirahatlah. Tetapi jika boleh Muna meminta. Janganlah pulang saat hanya Muna yang berada di sisimu. Tunggu mama dan yang lainnya. Mereka semua menyayangimu." Ada air bening yang mengalir dari dari sudut mata yang terpejam rapat itu.
"Kakek... ampuni salah dan dosa Muna jika dalam kebersamaan kita, Muna ada khilaf salah pada kakek. Pun segala yang pernah kakek perbuat pada kami di masa lalu. Lilahi ta'ala, Muna ikhlas kek. Terima kasih untuk semuanya. Semoga Muna amanah menjalankan semua wasiat kakek." Muna tak berhenti berbicara pada kakek Hildimar yang hanya mampu merespon dengan airmata yang keluar dari sudut matanya.
Selanjutnya Muna hanya merapalkan doa dan terus berzikir. Sesekali Muna mengajak Aydan kedalam ruangan itu, untuk mengambil momen kebersamaan Aydan dengan kakek Hildimar. Muna merasa bangga, misalkan kakek sudah waktunya kembali, setidaknya ia sudah meloloskan permintaan kakek dalam hal melanjutkan nama Hildimar di belakang nama putra pertama mereka. Dan hal itu menjadi kepuasan tersendiri baginya dan Kevin. Untuk menyematkan nama besar keluarga asli Muna, dan tidak berarti melupakan dan tidak bangga dengan nama Mahesa. Tetapi mereka terlalu yakin, bahwa nanti mereka pun akan di berikan rejeki di lain waktu untuk memiliki buah hati kembali. Untuk adil dan menlanjutkan nama Mahesa di sana.
Mama Rona, abah Dadang, Asep, Ambu, nyak Time, babe Rojak juga Kevin telah tiba di kediaman Hildimar.
Wajah lelah di perjalanan bertambah sendu saat mereka melihat keadaan kakek yang semakin menurun tingkat kesadarannya.
Mama Rona yang paling lama berada di dalam, bagaimanapun juga. Ialah satu-satunya keturunan langsung dari kakek Hildimar, walau nama itu tak tersemat di belakang namanya. Tidak seperti Muna. Yang sengaja ingin ia kuatkan untuk di kenal sebagai pewaris Hildimar.
Tak ada yang tau waktu yang Tuhan tentukan kapan saja ia ingin menjemput miliknya untuk kembali padanya.
Maka pada hari yang ketiga setelah kedatangan mereka, kakek Hildimar pun tutup usia. Menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang, walau masih dengan peralatan medis yang memang sesuai kesepakatan mereka. Tidak akan di lepas sampai, alat tersebut tidah berfungsi dengan sedirinya. Saat tubuh ringkih itu sudah tidak merespon, dan semuanya berhenti berdetak. Ngiiiiiiiiiiing.
Inalilahi Wainailaihi Rojiun, Kakek Hildimar Herlod kembali pada sang pencipta pada usia 79 tahun. Meninggalkan seorang anak, satu cucu juga seorang buyut. Itulah harta yang di ucapkan saat tanah merah itu menutupi liang lahatnya. Sungguh betapapun banyaknya harta dunia yang mampu di kumpulkan manusia selagi nyawa di kandung badan. Pun tak satupun di bawa mati. Pulang seorang diri terbenam dalam petakan 2x1. Tak ada mobil mewah, tak guna rumah bak istana yang di miliki selagi di dunia, sebab itu barang duniawi yang boleh di nikmati selama hidup saja. Saat kembali ke hari baan, hanya amal ibadah manusia itu sendiri yang akan menyelamatkan, yang dapat menentukan sungguhkah kita akan mendapat tempat terindah di sisi Allah SWT. Semua kembali sebagai mana datang. Tangan kosong, tubuh telanjang, berbalut kain kapan hanya untuk menutup aurat. Demikianlah perjalanan Hildimar Herold berakhir dengan damai, banyak ampun untuknya dari mereka yang sungguh menyanyanginya. Kiranya Tuhan pun bersepakat untuk menghapus segala dosa khilaf selama beliau di dunia.
Bersambung...
Yang berakhir baru perjalanan hidup kakek ya. Kisah Muna & Kevin masih ongoing kok.
Tapi...
Nyak mohon maaf, mohon ijin kepada readers semua. Untuk kelanjutan cerita cinta Duo G sudah siap tayang dan masih di judul ini. Hanya, tidak sekarang. Sebab ingin selesaikan kisah pemeran utama terlebih dahulu. Pliss, penasarannya di perpanjang dulu ya.
Semoga di mengerti.
Nyak sayang readers semua ❤️❤️