OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 127 : CCTV (PART 2)


Kevin terkesiap tatkala matanya bersirobok dengan layar monitor saat melihat Muna yang saat itu masih berada di dalam mushola dan di dekati 2 orang perempuan masih mengenakan APD berwarna merah hati. Tampak berbicara sebentar dengan Muna. Ada sedikit anggukan dari kepala Muna di sana, kemudian mereka berjalan beriringan meninggalkan mushola tersebut.


"Bisa kalian jelaskan siapa dua wanita yang berbicara dengan calon istriku tersebut?" Geram Kevin yang mudah tersulut emosinya.


Dadang Sudrajat hanya memandang Kevin tak kalah kaget, tak dapat memberikan penjelasan apa-apa. Akan adegan yang baginya biasa saja. Tetapi cukup menguras emosi Kevin.


"Sebentar kami akan cek pihak terkait pa." Jawab operator yang dapat membaca aroma marah dalam perkataan Kevin tadi.


Tampak pria itu sudah memainkan telepon yang bertengger di mejanya. Menekan nomor sekena tangannya untuk memastikan siapa gerangan dua wanita ber APD merah hati yang tampak akrab berbicara dengan Muna dalam rekaman CCTV tadi.


"Pak... menurut informasi pihak terkait. Dua perawat tadi menanyakan golongan darah yang bersangkutan. Dan ternyata cocok dengan golongan darah yang sedang di perlukan di rumah sakit ini, lalu mereka memutuskan untuk untuk melakukan transfusi darah wanita itu." Jelas operator CCTV setelah melakukan pembicaraam via telepon.


Kevin mengusap wajahnya dengan kasar, sedikit lega di sana menyadari jika tidak ada hal yang seperti ia cemaskan.


"Oke... boleh kita pantau kembali pada rekaman CCTV apakah Muna benar melakukan donor darah tersebut?" Kevin masih belum bisa menerima rekaman itu dengan hati yang puas.


Dengan lincahnya jari jemari operator itu kembali bermain-main pada kursor demi mendapatkan rekaman lainnya.


Dan benar saja, Muna tampak berjalan menuju ruang tranfusi yang sangat tertera denga jelas pada tulisan di atas pintu ruang tersebut.


Kevin lega, dan mengucapkan banyak terima kasih pada pak Dadang dan juga operator rekaman CCTV tersebut. Kemudian memilih pergi meninggalkan ruang pengendali CCTV tersebut. Sebab sesuai jadwal, kemungkinan operasi babe sudah selesai.


Bara dan nyak Time tampak masih duduk pada kursi di depan sebuah kamar operasi yang lampunya masih terlihat kelap-kelip tak beraturan, menandakan operasi masih berlangsung.


Namun ketika kaki Kevin sudah berada di antara Bara dan nyak Time, mendadak lampu itu padam. Proses operasi selesai.


Dalam hitungan menit pintu itu sudah terbuka, nampak dokter keluar dengan senyum sumringah dari ruang tersebut.


"Operasi berjalan lancar dan sukses, kita hanya menunggu proses penyembuhan dan pemulihan saja. Kita tunggu pasien siuman dulu baru bisa di pindahkan keruangan yang sudah di pilih. Mari pak." Ujar dokter tersenyum sambil menepuk bahu Kevin dengan akrab.


"Iya...baik. Terima kasih dokter." Jawab Kevin tak kalah ramah.


"Oke, Bara. Terima kasih sudah menemani nyak selama saya tidak ada. Silahkan istirahat di rumahmu. Dan tolong di pending saja pengiriman undangan pernikahan kami, sebab mungkin akan ada perubahan waktu dalam pelaksanaannya."


"Siap. Baik pa. Kebetulan, undangan memang sudah jadi, tetapi belum di sebar." Jawab Bara tegas.


"Baguslah. Sekali lagi, terima kasih Bar."


"Sama-sama pak. Tolong, segera beri kabar dan perintah jika bersifat darurat, saya siap 24 jam pa." Bara merintis kariernya menjadi sekretaris yang sangat dapat di andalkan oleh Kevin.


"Muna di mane Pin?" nyak Time merasa janggal dengan ketiadaan Muna sedari tadi.


"Muna tadi sedang donor darah nyak. Sepertinya ada orang yang membutuhkan darah sesuai dengan golongan darahnya." Jawab Kevin antusias meyakinkan nyak Time.


"Alhamdulilah. Tadinye nyak pikir dia sedih Pin. Habis tau golongan darahnya beda ame babe, dan mungkin sempet denger cerite nyak tadi tentang asal usulnye. Mulut nyak emang kagak ade sekolah nye, kagak ade rem, jadi brabe pan." Nyak lagi-lagi curhat dengan semua kemungkinan yang terjadi.


"Iya tadinya Kevin juga mikirnya gitu nyak, apalagi di rumah sakit sebelumnya. Kevin sempat membentak Muna hanya karena terlampau panik melihat kondisi babe. Makanya Kevin sampai bela-belain cek CCTV rumah sakit ini untuk mencari Muna." Jelas Kevin.


3 jam berlalu. Babe sudah siuman namun tetap masih dalam keadaan mengantuk akibat obat penenang. Maka, secepatnya kini babe sudah di antar ke ruang rawat VVIP.


Penunjuk waktu sudah berada di angka 12 malam, dan kantuk pun mendera mereka. Sehingga Kevin yang berniat ingin berjaga, pun tertidur di sofa dan nyak Time memilih tidur di kursi sambil menggengam tangan babe yang tidak terkena jarum infus.


Adzan subuh sontak membangunkan mereka bertiga di dalam ruang VVIP tersebut. Namun hanya Kevin yang bisa mengadakan sholat, sebab nyak masih halangan dan babe belum boleh bisa bergerak sebab kakinya masih di balut.


"Muna di mane...?" pertanyaan pertama yang babe ucapkan ketika Kevin selesai melaksanakan subuhan tersebut.


Kevin dan nyak Time saling berpandangan. Bertukar pengelihatan, saling mengeryitkan alis mereka. Sebab baru menyadari jika hingga pagi selasa ini pun Muna belum terlihat ada di antara mereka.


"Kemarin sore setelah sholat ashar Muna sempat melakukan pendonoran darah be. Tapi setelah itu, Kevin tidak mencarinya lagi. Karena Kevin pikir ia masih dalam masa pemulihan pasca donor." Jawab Kevin seperti orang beg0.


"Eh... Tong. Lu pikir tranpusi darah pemulihannya selama orang habis operasi patah tulang. Yang bener aje lu Tong." Suara khas nyolot babe menguar di ruang rawat tersebut.


"Iya juga ya be. Masa Muna tersesat untuk cari keberadaan kita di sini. Kan Muna tinggal ke pusat informasi cari nama babe. Tapi sudah semalaman Muna ga ke sini." Kevin seolah baru sadar. Sembari mengumpulkan pikiran positifnya berharap Muna baik-baik saja.


"Kali aje Muna pulang kerumah Pin. Buruan susulin gih." Jawab nyak enteng.


Kilat netra Kevin memandang ke arah nyak Time. Ingin pulang ke rumah tapi tidak tega meninggalkan nyak dan babe berdua di sana demi memastikan keberadaan Mun.


Tok


Tok


"Walaikumsallam." Jawab mereka serempak saat 3 pasang mata itu melihat Siska datang dengan tas lumayan besar mendekati ranjang babe.


"Alhamdulilah, babe sudah enakan ya be?" tanya Siska dengan ramah sembari menyalimi tangan nyak dan babe dengan hormat


"Alhamdulilah, udah mendingan dari kemarin Sis." Jawab babe apa adanya.


"Muna di rumah Sis...?" tanya babe tidak sabar.


"Tidak. Bukannya sejak berita kecelakaan kemarin nyak dan Muna tidak pulang. Makanya ini Siska bawakan pakaian ganti untuk nyak dan Muna juga. Maaf, mestinya kemarin Siska datang. Tapi ban motor kempes, jadi kesorean baru kelar di perbaiki. Jadi subuhan saja Siska kemari."


"Lalu di mane Muna, kalo di rumah juga kagak ade?" Babe blingsatan.


Seketika suasana ruang rawat itu menegang. Seolah menyadari bahwa muna benar-benar hiatus.


"Sebentar Kevin cek CCTV lagi." ujarnya tanpa pamit berlari menuju ruang rekam CCTV semalam.


Dengan percaya diri walau tanpa pengawalan dari sang wakil direktur seperti kemarin. Kevin menerobos ruangan itu, bahkan saat operator masih tampak tidur di sana.


Kevin bukan anak kemarin sore yang tidak mengerti dengan pengendalian CCTV, maka tanpa permisi ia ambil alih kursor pemindai rekaman disana.


Tak kalah lincah dengan operator yang tertidur itu, tangan Kevin bahkan lebih gesit menjelajah seluruh sudut ruangan rumah sakit tanpa terlewat sedikit pun.


Dan tangan Kevin terhenti dengan sebuah adegan, Muna yang tampak masih lemah keluar dari ruang tranfusi yang kemudian di hadang oleh beberapa orang berpakian serba hitam, bertopi dan bermasker.


Tampak jelas di mata Kevin, salah satu dari mereka meletakkan sapu tagan ke hidung Muna. Dan tak lama, Muna tampak lemas, gontai, lunglai dan hampir jatuh ke lantai.


Dengan sigap mereka meletakkan Muna pada sebuah kursi roda, lalu membawanya pergi ke arah luar pintu darurat.


Kevin bagai menyaksikan sebuah nontonan drama laga. Bahkan persis dengan adegan penculikan, sebab Muna yang dalam keadaan tidak sadarkan diri, kini telah berhasil mereka gendong dan masukkan ke sebuah mobil hitam besar.


Celakanya... mobil itu sudah tidak bernomor polisi. Dan CCTV hanya terpindai sampai gerbang rumah sakit. Tanpa Kevin dapat pastikan ke arah mana mobil itu membawa Muna sang gadis belia pujaan hatinya.


Tes


Tidak Kevin sadari, air dari sudut matanya bagai berdesakkan mengalir luruh, tanpa permisi.


Hati calon pengantin mana yang tidak perih, tatkala menyadari bahwa sang calon mempelai wanitanya hilang dan tak meninggalkan jejak sedikit pun.


Rahang itu seketika mengeras, kepalan tangan Kevin membulat putih tak berdarah, matanya sudah memerah. Kemarahannya sudah pada ubun-ubun. Kevin ingin menuntut pihak keamanan rumah sakit yang bgitu teledor.


Bersambung...


Apa kabar readers?


Udah berasa di rooller coaster belom cerite nyak ???🤭


Inilah akibatnya klo di awal kite terlalu banyak ngakak sampe guling-gulingan😂


Tiba nyak ajak ke pinggir jurang dikiiit, pada mau nyerah🙏🙏


Keep stay, Keep healty n Keep Fav.👌


⚠️Ingat yee


Nyak suka pelangi sehabis ujan.


Lopeh se-Indonesia Raya


❤️❤️