OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 124 : SADARKAN DIRI


Dengan mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa. Sedapat mungkin Muna mendirikan tubuh yang yang seketika lemas tadi. Berusaha masuk dan melangkah mendekati nyak dan Kevin yang masih tampak bingung menghadap tubuh babe yang masih belum sadarkan diri.


Muna berusaha menetralkan mimik wajahnya, seolah tak mendengar apa-apa, tentang yang nyak sampaikan tadi. Juga masih berharap jika hal itu adalah bohong.


Pelukan Kevin tiba-tiba terlerai saat Muna menghampiri mereka. Sepasang netra biru itu basah berkaca-kaca melihat keadaan babe yang masih dalam keadaan luka-luka dan bibir makin pucat pasi.


"Be... babe harus sembuh. Pan... sabtu depan Muna nikah be." Tangis Muna pecah saat melihat keadaan babe yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Dengan selang infus tertancap di erglangan tanganny, bahkan oksigen yang tertempel di hidungnya untuk membantunya agar tetap dapat bernapas.


"Be.... bangun be. Babe kagak boleh begini!!!" Suara Muna meninggi tak dapat menahan emosinya.


"Mae...!!! jangan memperburuk keadaan. Kita harus berusaha yang terbaik dan tercepat dulu untuk babe." Suara Kevin tak kalah meninggi sedikit emosi di sana. Entah benar emosi melihat respon Muna, atau mulai sedikit geli menyadari jika Muna adalah anak pungut. Sehingga suara yang meninggi itu terdengar seperti sebuah bentakan, yang bagi Muna itu sangat menyayat hatinya.


Muna hanya menyipitkan matanya memandang ke arah Kevin yang tiba-tiba kasar padanya. Mungkin Muna salah dalam mengartikan tekanan suara Kevin itu, sehingga ia merasa dongkol dan merasa bahwa Kevin hanya memikirkan keadaan babenya. Tapi tidak menyadari bahwa ia pun hancur dengan kenyataan yang baru ia tau bahkan belum secara detail ia ketahui.


Namun belum sempat sepatah kata keluar dari mulut seorang Muna untuk meladeni penyampaian Kevin tadi. Tubuh Muna hampir tertubruk brankar yang di dorong ke arahnya untuk mendekati babe. yang akan segera di evakuasi menuju rumah sakit rujukan.


Kevin sesungguhnya bingung, ingin membuka pembicaraan, tetapi juga galau akan memulai yang mana. Sementara ingin menggali info lebih rinci dari nyak, tentu tidak mungkin karena nyak hanya menangis tersedu.


"Mun... babe lu kagak ape-ape pan Mun?" tangis nyak pecah lagi sambil memeluk Muna.


"Tenang nyak... nangis aja kagak bakal bisa cepet bantu babe sembuh." Muna mencoba menenangkan walau hatinya pun sedang rapuh, melayang ringan bagaikan kapas terbang.


"Semua sudah siap, kami akan mengirim pasien dengan beberapa perawat sebab alat medis belum bisa di lepas. Untuk keluarga korban boleh ikut di depan atau mengiringi dengan mobil lain.


"Bang... nyak ikut abang ye. Nanti biar Muna yang ikut di ambulance." Ucap Muna tanpa memandang wajah Kevin.


"Kagak use Mun... nyak ikut di ambulance juga. Nyak kagak mau jauhan ame babe pokoknye." Nyak berkeras bahkan memilih duduk berdekatan dengan perawat di belakang, sembari selalu memegang tangan babe dan tidak berhenti merafalkan doa untuk suaminya tercinta.


"Ya sudah Mae ikut abang saja. Tapi setelah abang nyelesaikan administrasi di sini dulu." Pinta Kevin.


"Kagak use bang, Muna tetep ikut di ambulan." Tolak Muna yang sebenarnya masih dongkol dengan hardikan Kevin juga bingung sendiri dengan status barunya tadi.


Kevin tidak merasa memiliki waktu lama untuk berdebat. Sebab Muna juga bagai memiliki langka seribu untuk segera mengikuti perawat yang sudah dengan sigap mendorong brankar tadi ke mobil yang sudah siap meluncur ke rumah sakit yang telah di pesan sebelumnya.


Membutuhkan waktu lebih dari 30 menit untuk berkendara menuju Hildimar Hospital tersebut. Rumah sakit swasta bertaraf internasional yang sangat terkenal dengan kelengkapan fasilitas juga tenaga medis pilihan juga memiliki peralatan canggih. Jangan tanya berapa biaya yang nanti akan di keluarkan untuk di rawat di sana, tentu saja akan mengelontorkan dana yang tidak sedikit. Namun, yang sakit adalah calon mertua Kevin, seorang CEO tajir melintir, tentu saja ia tak pernah mempermasalahkan hal tersebut asalkan babe segera tertolong.


Babe sudah di tangani oleh pihak rumah sakit rujukan. Sementara Muna hanya saling berpegangan tangan dengan nyak Time yang lebih memilih menangisi keadaan babe.


Kevin tampak tergopoh menyusul ke rumah sakit tersebut. Mendekati Muna dan nyak yang sudah tampak selesai mengisi data babe.


"Bang... maaf. Tadi kartu abang Muna pake buat bayar biaya jaminan buat babe." Muna memilih membuka obrolan walaupun ia terpaksa melakukan hal itu.


"Apaan sih...? Itu milikmu. Sudah abang kasih." Jawab Kevin sedikit lembut dan menolak kartu yang sepertinya akan Muna kembalikan pada Kevin.


Kevin tidak menerimanya, dan memilih duduk di samping Muna sedikit dempet.


Muna meletakan 2 kartu yang selama ini ia pegang itu ke saku kemeja Kevin. Kemudian beringsut berdiri untuk meninggalkan Kevin dan nyak yang masih terlihat memilih duduk dengan pikiran mereka masing-masing.


Muna melangkah dua langkah, tetapi tangan Kevin menariknya untuk ia tidak terus maju meninggalkan Kevin.


"Muna mau sholat sebentar bang, sudah hampir ashar. Nyak... bareng?" tawar Muna yang sesungguhnya ingin kembali menggali informasi yang sebenarnya dari Nyak Time.


"Kagak Mun, nyak masih halangan." Jawab Nyak tanpa menoleh ke arah mereka.


"Ya sudah abang ikut." Ujar Kevin yang juga memilih untuk ikut sholat demi mendapatkan ketenangan atas segala cobaan yang tengah melanda mereka.


Muna tak memiliki alasan dan merasa nyaman, saat jari-jari Kevin menyusupi lima jari kanannya, memberi kesan mesra dan sangat melindunginya di sepanjang koridor rumah sakit menuju mushola itu.


Keduanya mengambil tempat untuk berwudhu lalu mulai mencari posisi sesuai ajaan agama yang mereka anut tersebut.


Muna terlihat khusuk berdoa, seolah banyak yang ia ingin sampaikan pada sang pencipta. Hingga Kevin sudah selesaipun ia tampak belum selesai mengungkapkan keluh kesahnya.


Kevin ingin menunggu, tetapi panggilan nyak Time membuatnya berlari untuk mendatangi calon mertuanya tersebut, sehingga melupakan Muna yang masih terlihat asyik menikmati keintimannya dengan Tuhan.


"Pin... babe Pin." teriak nyak Time.


"Iya nyak ada apa?"


"Babe sudah sadar Pin. Muna mane?"


"Mae masih belum selesai mengaji nyak. Biarkan saja dulu ia menyelesaikan ibadahnya." Jawab Kevin sembari melangkah mendekat ke ruang IGD rumah sakit tersebut.


"Be..."


"Tong, maafkan..."


"Stt... babe jangan banyak pikiran dulu. Masih banyak waktu untuk kita bicara apapun yang babe ingin bicarakan dengan Kevin. Babe sembuh dulu ya be." Pinta Kevin dengan lembut.


"Keluarga pasien Rojak Baidilah." Panggil perawat yang sudah berdiri di dekat mereka.


"Iya suster." jawab Kevin menoleh ke arah perawat itu.


"Silahkan keruangan dokter." Pintanya dengan ramah.


Kevin memilih maju lebih dahulu ke perawat itu. Sementara nyak memilih mengelus puncak kepala suaminya dan merasa terharu, sebab akhirnya babe sadarkan diri.


Bersambung....


Terimakasih untuk like, komen, mawar, kopi dan vote yang tetap di berikan untuk nyak othor yak.


Nyak seneng banget liat respon readers yang sudah berusaha menduga-duga alur yang nyak sajikan.


Percayalah cerita ini akan Happy Ending. Hanya prosesnya, tidak semulus aspal Korea.


Keep stay, keep healt n keep FAV


❤️❤️❤️