
Tangan dokter sudah sibuk menyentuh, meraba, dan menekan permukaan tubuh kakek Hildimar. Sesekali membuka mata kakek dengan alat penerangan untuk membantu netranya memastikan keadaan pasien.
Segera mengambil alat bantu pernapasan dan meletakan pada hidung kakek agar dapat membantu, mempertahankan keadaan pasiennya agar kembali pada keadaan stabil.
"Tidak apa-apa bu. Tuan hanya pinsan. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya shock. Terus berdoa yang terbaik untuk beliau." Ucap dokter mantap sambil menatap ke arah Rona yang matanya sudah bersimbah air mata.
Muna terenyuh luruh, terhanyut pada keadaan melow di depannya. Muna belum sepenuhnya percaya jika mereka yang kini di hadapinya adalah keluarga aslinya.
Namun entah mengapa hati kecilnya merasa nyaman dan berkata mereka orang baik.
Muna memberanikan diri memeluk tubuh Rona. Memberikan penguatan kepada wanita yang kini ia panggil mama itu.
"Mama.... Pegimane kalo kite sholat aje. Ini pan sudah waktunya ashar." Ajak Muna percaya diri.
Ajakan Muna di sambut baik oleh Rona dan Dadang. Maka merekapun melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sembari kembali menitipkan kakek pada dokter. Sebab mereka akan pergi ke mushola yang terdapat di rumah tersebut.
Muna selalu terkesima dengan tatanan yang ada dalam rumah tersebut. Tak dapat Muna hitung kekayaan yang di miliki keluarga yang katanya keluarga aslinya ini.
Muna memang tidak punya waktu banyak bahkan pulang ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian dan keperluan lainnya pun ia tak sempat.
Namun Muna hampir sah menjadi anak sultan maka sampai mukena pun semua sudah di siapkan semua untuknya.
Sholat itu kembali di pimpin oleh Dadang, abah Muna. Suasana itu sangat khusuk. Awalnya mereka seperti orang asing. Namun, dengan kebersamaan dalam beberapa jam selama di perjalanan dan kisah yang telah saling mereka utarakan, membuat mereka terlihat semakin akrab.
Muna menyalami kedua tangan abah dan mama dengan takzim. Mengikuti kata hatinya, memilih percaya bahwa mereka benar orang tua yang juga sangat rindu akan kehadirannya.
Kini mereka telah kembali ke ruang rawat kakek Muna. Rasa cemas dan khawatir kembali tersampir dalam hati Rona yang tadinya sudah berangsur tenang setelah sembahyang.
Jemari kakek Muna sedikit bergerak, ada pergerakan kecil pada tubuhnya. Menandakan jika kini ia sudah siuman. Dadang memanggil dokter kembali, agar segera memeriksa keadaan terkini pasien.
Kakek melambai dan menunjukkan ke arah kepalanya. Saat matanya sudah terbuka sempurna, bahkan tangannya sudah dengan cepat melepas alat bantu bernapas yang tadi tertancap di indera penciumannya.
Dokter mengerti akan maksud kakek. Ia meminta agar posisi tidurnya di buat agak condong kedepan, setengah duduk demi mendapatkan posisi nyaman baginya.
"Papaaaa..." Panggil Rona pelan mendekat ke arah kakek Muna.
"Dia... Cucuku. Kemarilah." Ucap Kakek percaya diri berbicara ke arah Muna.
Muna tercekat, mendadak ragu apakah harus maju atau tetap berdiri di tempatnya bertahan.
Kakek Muna menyadari jika Muna hanya mematung, kaki itu seperti berat walau hanya untuk maju selangkah. Jarak mereka tak jauh dari tempat tidur itu, namun Muna seolah enggan dan memilih takjub dengan berjuta pikiran tak jelas pada nalarnya.
Maka, tangan kakek kembali melambai ke arah Rona. Meminta pertolongan, untuk membantunya beringsut dari tempat tidurnya.
Dadang reflek memapah mertuanya untuk berdiri. Sedangkan Rona memilih memegang kantung infus yang masih tersambung dengan tubuhnya. Rupanya kakek Muna itu, ingin mendekatkan dirinya pada Muna.
"Maaf... Ampuni kakek yang pernah tak menginginkanmu hadir di dunia. Terima kasih sudah bersedia bertemu dengan manusia penuh dosa seperti ku, Ampun tolong ampuni aku." Ucap kakek itu pelan namun jelas.
Rona dan Dadang hanya bertukar pandang. Tidak berminat untuk mengkontaminasi pikiran Muna. Semua keputusan ada pada Muna. Seandainya tak Muna maafkan pun semua adalah haknya. Begitu arti tatapan kedua pasang suami istri itu.
Muna menatap nanar bola mata yang persis seperti yang ia miliki. Kabut penyesalan jelas tergambar di sana. Siapa sih Muna, yang bahkan teman sekantor pun selalu ia maafkan terlebih-lebih seorang tua renta yang mungkin akan segera di panggil Tuhan pulang ke hari baannya.
"Sudah lah Kek. Muna kagak punye hak untuk selalu membenci kakek, abah juga mama. Yang penting, besok besok kagak di ulang lagi. Muna cuma mau kite hidup wajar saling sayang, juga jangan pisahin Muna ame orang tua yang ude rawat Muna ame segini besar." Jawab Muna lirih, yang selalu menekankan agar tidak di jauhkan dari babe dan nyak yang sangat ia sayang.
Menepuk sayang punggung bayi berusia 3 bulan yang dulu sempat tega ingin ia buang, bahkan kini telah bermetamorposis menjelma menjadi gadis remaja belia yang tumbuh cantik, sehat sempurna.
"Dokter... Dokter..." Panggil kakek dengan suara agak lantang dan terdengar tegas.
Dokter tergopoh mendekatkan dirinya pada gumpalan manusia yang saling berpelukan.
"Siap... Ada apa tuan?" tanya dokter meminta penjelasan.
"Cabut semua alat peralatan mu yang melekat di tubuhku ini. Aku sudah sembuh, saat berjumpa dengan obat hidupku ini." Ucapnya lembut.
Mengundang rasa bingung pada dokter yang hanya mampu menatap pada tuan yang selama ini mereka rawat.
"Siap tuan..., kita periksa dulu secara keseluruhan ya tuan. Baru saya bisa melepas semua peralatan medis ini." Jawab dokter sedikit beralasan. Bagaimana mungkin semudah itu mereka melepas semua jenis pengobatan, jika sudah hampir 5 tahun terakhir pria tua ini bertahan hanya karena peralatan medis yang intensif di berikan padanya.
Sementara di Jakarta.
Kevin mendapat laporan dari detektif yang di sewanya untuk mencari dan melacak keberadaan Muna tunangannya.
"Bos... Kami ada menemukan gadis yang sangat mirip dengan yang bos cari, kemarin malam ada di bandara." Begitu isi chat yang Kevin terima.
Tanpa menunggu info lainnya. Kevin bagai terbang berlari ke arah luar koridor rumah sakit menuju tempat yang di sampaikan untuknya.
Tampak di depannya dua orang detekfif yang sudah menunggunya. Memastikan foto yang sempat tertangkap pada layar ponsel milik detektif tersebut.
"Benar... Ini gadis yang ku cari. Tetapi siapa sedang bersamanya?" Tanya Kevin gusar melihat beberapa foto itu berganti ganti juga kadang ia zoom untuk lebih memastikan bahwa itu benar Muna.
"Kami sudah memastikan dengan pihak maskapai. Tetapi tidak mendapat clue. Sebab wanita yang bos cari ini tidak sesuai dengan data yang bapa berikan." Jelas salah satu orang dari derektif tadi.
"Maksudnya?"
"Jika wanita yang bos cari bernama Muna. Itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan wanita yang berangkat bersama keluarganya ini."
"Memangnya mereka siapa?"
"Mereka itu keluarga Hildimar. Dan hanya menumpang parkir bandara ini. Sebelum terbang dengan jett pribadi mereka ke Belanda." Jawab detektif itu, membuat runtuh lagi semua harapan Kevin untuk bertemu Muna.
"Jika kalian sudah tau ini tidak ada hubungannya, mengapa kalian katakan telah menemukan orang yang aku cari?" Bentak Kevin pada orang suruhannye tersebut.
Merasa di permainkan, Kevin melengos pergi meninggalkan tempat itu. Semakin menyadari jika hilal wanita yang begitu ia cintai semakin tak terlihat.
Bersambung...
Ayooo dukungan buat Kevin agar tak lelah apalagi menyerah untuk berusaha mendapatkan Muna kembali.
Mawar kopi dari reader... makin buat nyak semangat nulis nihn
Happy weekend ya
Mau libur up,
tapi takut reader kelamaan nunggu🙏