OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 146 : MENGALAH PADA TAKDIR


Kevin sadar kehilangan yang di rasakannya hanya sebagian kecil dari derita yang sesungguhnya di rasakan oleh babe dan nyak.


Maka saat babe ataupun nyak tidak lagi membuka suara tentang orang tua kandung Muna pun, Kevin memilih mengalah pada takdir. Tidak ingin lagi menoreh luka pada hati orang tua yang telah merawat Muna sejak bayi. Yang tentu lebih banyak merasakan kesedihan atas kembalinya Muna pada keluarganya.


Makin di pikir, Kevin makin kecewa dengan Muna. Yang di rangkumnya sendiri, Muna begitu tega berpaling tidak hanya darinya, tetapi juga dari orang tua angkatnya. Semudah itu Muna berpaling, mendadak berbalik arah hingga dengan segera meninggalkan mereka, demi keluarga barunya. Oh... Tuhan masih sanggupkan aku mencintainya? Apapun rasa yang berkecambuk dalam hati Kevin. Ia hanya dapat memastikan bahwa hatinya tak sanggup membenci untuk Muna.


Hari telah berlalu, Kevin berusaha tegar dan memberanikan dirinya untuk masuk kantor setelah 2 pekan ia tinggalkan karena insiden kecelakaan babe, hilangnya Muna dan tak jadi nikah.


Lirik lagu 'Mendung Tanpo Udan' pada aplikasi TikTok yang viral itu, samar Kevin tau artinya membuatnya sedikit membuang napas dengan menaikKan sisi kanan bibirnya. Merasa tersentil, saat tangannya sengaja menscroll gawinya. Berharap ada mendapatkan sedikit clue tentang Muna pada benda itu.


Awak Dewe tau duwe bayangan ( Kita pernah membayangkan)


Besok Yen wes wayah omah-omahan (Nanti kalauh sudah resmi menikah)


Aku Moco koran sarungan (Aku baca koran sambil pakai sarung)


Kowe blonjo dasteran (Kamu pakai daster belanjanya)


Nanging Saiki wes dadi kenangan (Namun sekarang jadi kenangan)


Aku Karo Kowe wes pisahan (Aku dan kamu berpisah)


Aku kiri Kowe kanan (Aku ke kiri kamu ke kanan)


Wes bedo dalan (Sudah berbeda jalan).


Pintu ruangan Kevin di ketuk seseorang. Siapa lagi kalau bukan Ferdy, sepupu merangkap asprinya sekaligus penasihat hidupnya. Yang selalu mampu memberikan inspirasi positif untunya.


"Gimana... Sudah dapat kabar perkembangan tentang Muna? Tanya Ferdy tanpa basa basi.


"Dia sudah kembali ke orang tua kandungnya." Jawab Kevin sedikit lemas.


"APA...?" kejut Ferdy.


"Saat aku di rawat di rumah mama Leina. Dia sempat datang menemui babe dan nyak. Sekaligus pamit, ikut pergi bersama orang tua kandungnya." Sambung Kevin masih terdengar kelam.


Jujur Ferdy terperangah atas jawaban Kevin. Bagaimanapun Ferdy tau, bagaimana perubahan sifat sepupunya ini setelah mengenal Muna. Maka Ferdy dapat ikut merasakan kepedihan yang mendalam untuk Kevin. Ferdy pun turut sedih atas perpisahan Kevin dan Muna.


"Lalu... Kamu bagaimana?" pertanyaan basa basi itu meluncur semaunya saja dari Ferdy.


"Entahlah... Aku ingin mengorek informasi lebih banyak pada babe dan nyak. Tetapi... Mereka justru lebih pedih di tinggal Muna. Menurutmu aku bagaimana?" Kevin meminta saran, berharap dapat mengurangi bebannya.


"Move on" Jawab Ferdy singkat.


"Hah... Tidak semudah itu Fer. Bahkan melihat kamar pribadiku yang kini telah berubah jadi mushola atas permintaannya pun menyiksa ku Fer. Semua suara dan permintaannya di saat kami bersama membuat aku makin tersiksa." Pekik Kevin geram.


"Ambil saja sisi positifnya. Aku tidak sepenuhnya tau apa saja isi obrolan yang pernah kalian bahas ketika bersama. Tapi... sampai ia meminta kamu buat mushola di ruanganmu itu karena apa?


Ga usah jawab. Hanya kamu yang tau alasannya."


Kata-kata Ferdy sungguh menohok. Membuat ingatan Kevin kembali pada semua kenangan bersama. Muna yang tak pernah banyak meminta, namum seolah menuntutnya menjadi manusia yang lebih baik. Muna pernah meminta ia harus sering beramal, berbagi pada anak anak yatim yang tidak hidup beruntung. Bahkan waktu itu Muna pernah mengandaikan jika saja mereka berpisah. Maka sholat adalah hal utama yang harus Kevin lakukan untuk menenangkan jiwanya.


"Kesambet Vin?" tegur Ferdy menyentak lamunan Kevin yang sempat berkelana ke masa indah bersama Muna.


"Vin... Dunia bukan hanya soal Muna. Bagaimana dengan nasib perusahanmu? Lanjut?"


"Ya... Harus. Secepatnya akan kita lakukan perpindahan kepemimpinan perusahaan ini. Aku akan minta papi segera mengangkatmu jadi CEO perusahaan ini sementara Daren menyelesaikan studinya dan akan ikut terjun berkecimpung di perusahaan yang juga bagian dari miliknya." Terang Kevin mulai semangat.


"Apa tidak sebaiknya kamu tunda saja memulai bisnis di perusahaan baru mu?"


"Tidak Fer. Semakin lama aku di perusahaan ini, di ruangan ini. Membuat aku semakin terpuruk dan hanya terbayang akan kebersamaanku dengan Muna." Kenangnya dengan sedih.


"Doa terbaikku selalu untukmu. Aku yakin kamu sudah bukan Kevin cengeng seperti saat di tinggal Yolanda. Kamu adalah Kevin tegar yang semakin tangguh setelah di tinggal Muna. Jangan lupa, ujian tidak akan pernah melebihi kemampuanmu. Yakinlah... Jika dia memang jodohmu, cinta itu sendiri yang akan membuatnya kembali padamu."


"Terima kasih. Ya... Mungkin aku terlalu lebay dengan jalan hidupku. Entah ini dosa atau tidak. Hanya merasa dunia sedang tidak adil padaku, dan aku akan berusaha untuk baik baik saja." Optimis Kevin mengumpulkan serpihan hatinya yang berkeping. Luka tak berdarah tertoreh lagi di hatinya.


Dan benar saja dunia bukan hanya tentang Muna. Bukankah langit masih biru walau tanpanya. Mungkin sendiri dulu tanpa cinta dan tanpa bercinta adalah jalan yang harus Kevin hadapi kini.


Dengan langkah tegap Kevin bertandang ke rumah babe dan nyak. Sekedar pamit, mungkin beberapa bulan kedepan ia tak lagi sering menyambangi orang tua mantan camernya tersebut.


Bukan hanya karena Muna tak ada, tetapi tekadnya sudah bulat. Jika di awal tahun yang akan datang seminggu kemudian, ia benar akan meninggalkan kota Jakarta. Kevin sungguh akan hijrah ke kota kembang Bandung.


Memulai usahnya dari nol. Menjadi orang asing di perusahannya sendiri, di mana ia akan dengan mudah memulai imejnya yang baru. Menjadi satu-satunya penguasa di tempat berbeda, tanpa ada embel-embel Mahesa lagi tersemat mengelayuti tingkah tanduknya.


"Pin... Usahain sering-sering hubungin nyak babe. Elu tau, di rumah cuma ade Siska sebagai pengganti Muna. Nyak pasti kesepian, jadi kalo kaga repot. Bagi waktu lu main ke mari juga." Manja nyak Time pada Kevin.


"Ntar... Kalo Kevin dapat rumah besar di sana. Nyak sama babe ikut Kevin pindah ke Bandung saja ya nyak. Biar ada yang masak buat Kevin." Canda Kevin pada nyak yang masih melow.


"Lu pikir setelah kagak dapat gadis babe, elu bisa ngerayu istri babe Tong?" Hardik babe yang juga bercanda pada Kevin.


"Babe dan nyak yang akan Kevin bawa serta be. Bukan nyak doang." Kilah Kevin membela diri.


"Tong... Tong. Nasib lo mendung melulu yak. Belom ada cerah cerahnye." Ujar babe sambil mengusap pundak mantan calon menantu yang sangat di sayangnya itu.


"Mungkin ini bagian karma atas perbuatan Kevin sebelumnya be. Jadi mau tidak suka, Kevin harus ikhlas ngejalaninya." Kevin so' tegar menahan gemuruh perih hebat yang selalu menyelimuti hati pikiran dan perasaannya.


Entah, apakah semua orang pernah mengalami hal sepahit Kevin. Tetapi Kevin memilih mengabaikan perasaannya tentang Muna. Sebab jika tak salah mengartikan, seolah hanya dia berjuang sendiri. Melipir, menepi, memilih mematung, mengunci hatinya kembali untuk tidak menerima cinta wanita manapun. Bukan takut untuk jatuh cinta. Hanya tak ingin merasakan kecewa berkali-kali dengan cara cinta yang selalu meninggalkannya pergi dengan caranya masing-masing. Namun berefek sama. PERIH.


Bersambung...


Maaf... Jari otor selalu nakal maunya nyiksa Kevin.


Ampuuun daah semua


Besok senin


Yang mau cerita ini lanjut...


Pliiis votenya buat OB MILIK CEO aje, okeeh?


Makasiiih ye


πŸ˜€πŸ˜€πŸ€­πŸ™