OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 221 : SEBAGAI ADIK


Dua pekan Gita uring-uringan setiap masuk ruangan. Mendadak bete saat melihat selalu ada box makanan di atas meja Gilang. Jika Haikal belum datang, ia selalu menyempatkan untuk membaca pesan di notes kecil yang tertempel di atas box itu.


Hati Gita gundah, resah, gelisah tak karuan melandanya. Ia mengakui Gilang benar sudah berhasil merusak kewarasannnya. Dan kali ini Ninik ssja, tak cukup untuk mendengarkan keluhannya.


Sehingga di jam makan siang itu, ia tidak pergi dengan Haikal ataupun Ninik. Gita memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Kevin, atasan sekaligus kakak tirinya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk." Kevin mempersilahkan tamunya untuk masuk.


"Permisi... boleh curhat?" tanya Gita melangkah pelan menuju meja Kevin.


"Sebagai apa?" Kevin balik bertanya.


"Sebagai adik." Jawab Gita menundukkan kepalanya agak malu.


Kevin berdiri melangkah ke arah sofa, dan menekan tombol kunci pada ruangannya, agar tidak ada yang bisa menerobos ruangannya sewaktu-waktu.


"Ada apa? Lelah bohong?"


"Ih... kakak."


"Mau sampai kapan sih menutupi identitas begitu. Berlagak jadi orang biasa, ga rusak kulitmu tidur tanpa AC hah?" Gita hanya sedikit cemberut.


"Tadi mau curhat tentang apa?"


"Heemm... Gita boleh pindah bidang ga kak? Ke bagian HRD mungkin."


"Kenapa, ga betah?"


"Entahlah... ga suka aja dengan orang-orang di bidang ku sekarang. Ga ada ceweknya."


"Di situkan hanya ada Haikal dan Gilang. Bukannya kamu selalu bersemangat jika dekat Gilang? Kalian pacaran bukan?"


"Ga kak."


"Oh ya... rugi banget sih jadi kamu. Udah tidur bareng tapi ga jadian." Ledek Kevin merogoh sakunya dan menscroll pic pada gawainya. Kemudian menunjukkan pada Gita, picnya tidur bersama Gilang sewaktu mereka di Singapura beberapa bulan lalu.


"Kakak...!!!" Malunya Gita, sumpah malu. Mengira Kevin tidak tau jika mereka sempat tidur bareng bahkan semesra itu, justru Kevin memiliki bukti fisiknya. Oh mai guuut🙈


"Kamu suka dia kan?" tembak Kevin. Tapi tidak di jawab Gita.


"Dia juga suka kamu kok. Saran kakak, berhenti berbohong. Tidak baik mengawali sebuah hubungan dengan sebuah kebohongan. Ia jika dia benar cinta kamu, dia akan berjuang mempertahankanmu. Tapi, saat rasa itu tidak kuat, alamat kasih tak sampai deh kalian." Kevin menasehati adiknya.


"Kak... Gita cewek. Masa Gita bilang duluan kalo suka dia."


"Jadi... kalian deket saja selama ini?"


"Iya... Gita banyak bingungnya sama dia. Dia ga peka."


"Terus kalo kamu nanti pindah bidang, semakin tak terjangkaulah dia. Apa ga makin susah ngedapetinnya?"


"Biarin... karena dia juga sudah punya pemuja lain."


"Maksudnya?"


"Sudah dua minggu ini, dia selalu dapat kiriman makanan di box. Katanya dari pemuja rahasia. Fix, dia punya gebetan kak."


"Ya... dan Gita ku juga fix cemburu. Hahaa...ha...ha." Kevin terbahak menyadari betapa adik perempuannya ini menganggapnya sebagai teman. Bukan hanya kakak yang harus ia takuti dan segani. Walaupun sebelumnya hubungan mereka tidak sebaik sekarang. Kevin menjaga jarak dan terkesan benci dengan istri kedua papinya, pun Daren dan Gita. Namun seiring waktu juga bisikan-bisikan dari sang istri, juga babe. Membuat Kevin berangsur lunak dan menerima semuanya dengan ihklas.


"Jadi cewek..., memang tabu untuk nembak duluan Git. Tapi itu dulu, sebelum ada Kartini deh kayaknya. Tapi setidaknya, kamu bisa mengkondisikan agar si cowok ngerasa terjebak dalam perasaannya dan merasa terdesak untuk segera menjadikanmu kekasihnya."


"Caranya?" tak salahkan Gita berguru dengan ex cassanova yang akhirnya jadi bucin akut.


"Kamu kesal melihat box makanan yang orang lain siapkan untuknya lantas memilih pindah bidang. Itu artinya kamu kerupuk, melempem. Kenapa tidak kamu kepoin, itu dari siapa? kapan perlu ikut menikmatinya. Jangankan dia, yang memberi itu pun akan mati kutu saat tau, kamu yang ikut menghabiskannya. Percaya sama kakak, seseorang itu pasti selalu memantau ekspresi Gilang saat menerima makanan itu." Jelas sang tutor handal.


"Iya juga ya kak."


"Atau kalo mau lebih mencolok lagi. Kamu lakukan hal yang sama."


"Gimana?"


"Ya ... kamu harus mampu bersaing dengan si pemuja itu. Kalo dia kasih telor, kamunya buatkan telor plus ayam gitu."


"Makanya kakak bilang jadi cewek jangan pemalas. Kalo ga bisa masak banyak, setidaknya ada satu reseplah yang kamu kuasai selain merebus air. Untuk besok jadi menu andalan untuk suami. Yang nantinya akan ia rindukan saat jauhan atau kangen kamu."


"Iyaa... bucin. Tau kok istri kakak jago masak. Apalah aku?"


"Ga ada Git orang sejak lahir akan pandai memasak, semuanya berawal dari latihan. Belajar dong, jaman sudah secanggih ini, masih bilang ga bisa. Kamu ga mau atau ga mampu? Atau mampu tapi ga mau?"


"Huum... baiklah kalau begitu."


"Jadi mau pindah ke bagian mana nih?"


"Ya ga jadi dong kak. Mau berjuang lagi aja."


"Hah... sarjana doang, pengalaman nol besar. Btw, bulan depan tetap ada penambahan tenaga di bidang sekretaris."


"Oh ya... cowok lagi kan? Kak Muna mana ngijinin nambah cewek di bidang kami. Dasar cemburuan." Ledek Gita.


"Eh... siapa bilang??"


"Masa cewek boleh?"


"Iya. Siska."


"Hahaha... haha kaan bersyarat deh. Beneran kak?"


"Iya... kuliahnya sudah selesai. Tinggal nunggu yudisium dan wisuda. Katanya mau ikut tinggal dan kerja di sini."


"Hmm... tinggalnya di rumah kakak?"


"Tidak lah. Walau ada nyak babe, kan kakak cowok normal lho Git."


"Ih serem."


"Jangan ngaco... Siska sudah seperti kamu, sudah kakak anggap seperti adik sendiri. Ya kenapa ga dari dulu aja kalo kakak mau sama dia. Kakak kenal dia juga sejak mereka masih sebagai OB di Mahesa."


"Oh... gitu. Jadi dia tinggal di mana?"


"Mungkin cari kost."


"Oh. Ntar ku ajak tinggal sama aku aja deh kalo gitu. Jadi kan enak ada temen bareng."


"Oke... sudah?" Kakak mau cek n ricek anak bini nih. Udah sampe jadwalnya kangen kangenan." kode Kevin agar Gita menyelesaikan sesi curhatnya.


"Oke, oke. Terima kasih kakakku sayang. Salam buat mamam Ay ya." Pamitnya beranjak keluar.


"Iya... jangan lupa. Segera jujur identitasmu, agar dia tak merasa luka dalam saat dia benar sudah cinta kamu. Bagaimanapun manisnya bohong, tetap lebih baik pahitnya kejujuran Git."


"Iya kak, terima kasih."


Sekembalinya Gita dari ruangan Kevin itulah Gita mendapati notes dari Gilang, membuat hatinya bermekaran kembali, ingin memperjuangkan Gilang lelaki yang berhasil dengan instan menghapus perasaannya pada Baskoro.


"Agi... kita mau kemana sih?" tanya Gita saat Gilang sudah tiba di kost nya.


"Belum tau juga sih... maunya A'a teh. Makan bareng nengGi."


"Ayo... makan apa di mana?"


"Di kost ini saja boleh neng?"


"Ya boleh sih, tapi kita makan apa?"


"Apa aja yang penting neng yang bikin."


"Ngimpi si Agi nih. Maaf eneng belum jago masak A' . Ngerendem mie instan sih bisa. Ya spagethi instan deh yang agak keren dikit. Mau?" tawar Gita jujur.


"Oh... lain kali deh neng buatin buat Agi. Kalo gitu sekarang kita makan nasi goreng deh, ada tuh di deket perempatan jalan, nasgornya Agi suka. Mau coba?" tawar Gilang yang sudah semakin yakin jika box makanan itu benar bukan dari Gita.


"Siaaap Agi, neng ganti baju sebentar." Pamit Gita pada Gilang yang sudah mengangguk tanda setuju.


Bersambung...


Terpaksa seputar Duo G ya


Sambil nunggu kuliah Muna kelar😂