
Hildimar Herold tutup usia. Siapa yang tak berduka. Walau pertemuam mereka tak lama, namun segala kenangan bersama tentu telah tertoreh dalam hati mereka dengan segala kesannya masing-masing.
Sebut saja ambu, orang yang pernah paling menderita di caci dan hina oleh kakek. Pun tak menyimpan dendam setelahnya. Sebab ambu mampu membuktikan bahwa Dadang anaknya sungguh tulus mencintai putri satu-satunya Hildimar Herold.
Dadang apa lagi, bukan hanya kekerasan verbal yang ia terima. Tetapi kekerasan fisik pun pernah ia terima oleh orang suruhan kakek Hildimar. Dadang tak punya banyak harta, tetapi hati yang penuh cinta. Mampu menenggelamkan Rona Margaretha ke dasar samudra cinta yang Dadang persembahkan untuknya. Dadang tidak pernah peduli dengan cibiran orang yang mengklaim bahwa dia pria yang memanfaatkan Rona dan ingin numpang kaya, dengan menikahi anak majikannya. Tetapi gelombang cinta itu sudah berlalu, seiring perputaran waktu yang membuktikan. Cinta mereka kuat. Cinta yang tak pernah berkobar, hanya suam-suam namun tak pernah padam. Stabil. Padahal Rona tak ubahnya memiliki sifat sang ayah, yang berwatak keras. Tetapi selalu dapat di redam oleh Dadang suaminya yang penuh dengan kesederhanaan.
Muna memang terbilang baru mengenal sosok Hildimar, hampir 4 tahun terakhir. Tetapi dengan keputusannya untuk kuliah di negara kakeknya tersebut membuatnya memiliki waktu yang lumayan banyak untuk menikmati menjadi cucu seorang Hildimar. Banyak ilmu, petuah, wejangan dan nasihat yang kakek turunkan untuknya.
Hanya karena terpisah dengan orang yang ia cintai yang membuatnya lumayan tersiksa saat menjalani masa belajar dan kuliahnya. Selain alasan itu, sungguh Muna bangga bisa memiliki waktu bersama dengan sang kakek. Tanpa ada rasa kesal, marah dan dendam terhadap pria lanjut usia tersebut.
Prosesi pemakaman di laksanakan sesuai ajaran agama yang di anut beliau. Dan mereka tetap melaksanakan semua urut-urutan ritual sesuai tata cara pada umumnya. Yaitu mengadakan tahlilan dari hari pertama hingga hari ke tujuh.
Di benua itu, tentu saja agama yang mereka anut menjadi minoritas. Hal itu membuat tak banyak tamu yang datang. Tetapi kakek memiliki yayasan panti asuhan di sana. Sehingga penguni panti dan anak asuh yang di biayainya hingga jenjang perguruan tinggi meramaikan suasana di istana 7 tingkatnya tersebut.
Semua acara terselenggara dengan baik dan lancar, kelelahan fisik mereka tentu tidak parah, sebab semua ada orang-orang yang mengerjakannya sesuai porsinya masing-masing.
Keluarga itu hanya banyak menghabiskan waktu untuk berkumpul, bercekrama bersama membahas apa saja yang mereka dapat bicarakan di saat seluruh keluarga bisa berkumpul.
"Asep... bagaimana kuliahmu?" tanya Dadang pada Asep.
"Sudah rampung bah. Ini A' sep sedang menunggu SK kepindahan."
"Pindah dari mana kemana?"
"Pindah dari hati Laela ke hati Siska bah." Kekeh Muna meledek Asep sengaja menggoda.
"Iish... Muna iih." Kilah Asep malu.
"A' sudah urus penyesuaian ijazah setelah selesai kuliah bah. Jadi, A' teh langsung di minta pindah ke kantor setda di kabupaten Bandung. Makanya A'a jadi bingung bagaimana nasib ambu."
"Masih bisa di lajukan Sep?"
"Bisa sih cuma agak lama. Biasa cuma 15 menit dari rumah. Sekarang harus makan waktu kurang lebih 30 menit."
"Asep maunya gimana? Ambu ikut pindah ke Bandung?"
"Enaknya begitu sih. Tapi, A'a belum punya rumah bah. Lagian si ambu apa mau di ajak pindah?"
"Pertanyaannya bukan apakah ambu mau pindah atau tidak dari rumahnya. Tapi, apa Asep masih mau jaga ambu terus menerus. Asep bukan satu-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap ambu."
"Oh... kalo urusan itu. Sampai kapanpun ambu akan jadi prioritas Asep, bah."
"Asep... mau abah buatkan rumah di Bandung? Biar bisa tinggal bersama ambu di sana?"
"Ga usah lah bah. Nanti pelan-pelan saja Asep cari rumah komplekan yang dekat kantor dan sesuai dengan gaji Asep." Tolak Asep.
"Bah... mungkin sebaiknya Asep cari calon istri dulu deh baru carikan rumah. Juga pastikan calonnya bersedia terima Asep sama ambu atau tidak bah." Celetuk Muna masih bernada menyindir.
"Ga usah ngefek deh, teh Muna." Seloroh Asep bercanda.
"Iya tapi benar juga. Gimana tuh anak kepala desa, kapan kita lamar?" tanya abah.
"Siapa?" tanya Muna.
"Itu siapa sih. Yang menghadang mobil kita berapa tahun lalu." Abah mengingat-ingat.
"Oh Laela...? Dia sudah nikah sama orang lain bah. Ketemu jodohnya pas prajabatan." Terang Asep.
"Ooh di tinggal nikah ya ceritannya." Muna masin terdengar mengolok-olok.
"Muna... kenapa terdengar senang sekali, saat tau saudara sendiri patah hati??" Tegur mama Rona yang dari menyimak obrolan mereka.
"Ga ngeledek mah. A' sep udah move on kok. Udah dapet gantinya kok. Buruan halalin A' ntar keburu di tikung yang lain lho. Dia juga udah mulai kerja di Bandung kan."
"Udah tau kalii... bawel." Asep menoyor wajah Muna dengan bantal sofa, keduanyan persis masih ABG.
"Anak berdua ini ngomong apa sih. Muna Aydan mana?"
"Kelonan sama abang."
"Kok Kevin yang kelonin, bukan kamu."
"Abang yang mau, karena biasanya mereka kelonan secara virtual saja."
"Ya masa Kevin sendiri ngeloninnya. Sana temenin, sudah malam lho ini." Usir mama Rona yang melihat Muna masih terlihat santai ngobrol bersama mereka.
"Iya mama. Siap." Pamit Muna kemudian beringsut masuk ke kamar mereka masih di kediaman kakek.
Muna masuk ke kamar yang lampunya sudah temaram. Artinya Aydan sudah berhasil di tidurkan oleh Kevin. Maka Muna memilih membersihkan dirinya saja di kamar mandi, kemudian memilih dres selutut bertali satu dengan bentuk leher yang sangat turun dan longgar, sangat menonjolkan belahan stok mata air kehidupan Aydan.
Kevin terlihat tidur memeluk guling dengan erat. Tapi Muna tidak mendapati Aydan di kasur itu.
"Hmm..."
"Ay mana yang?" ulang Muna lembut menyadarkan Kevin.
"Di jemput nyak sama babe." jawabnya memastikan yang membangunkannya adalah Muna yang terlihat bagitu seksi malam itu.
"Tidur sama nyak babe?" tanya Muna memastikan.
"Iya... kangen kata mereka." jawab Kevin yang sengaja menemplokkan tangannya dada yang sudah tidak menggunakan kain melintang di bagian dalam.
"Huummm... ada bawa susunya ga?" tanya Muna lagi.
"Udah kali. Tadi abang minta tolong Laras liat apa saja perlengkapan tidurnya. Istri abang kelamaan di luar."
"Maaf yang. Ya sudah, cape ini tidur gih."
"Kangen mam.." Kevin merengkuh tubuh Muna mulai erat dan membuang guling tadi.
"Huuum peluk aja. Kita kurang istirahat selama ini."
"Sayang aja yang kurang istrirahat, abang kurang kasih sayang. Sekali ya."
"Cape bang."
"Bentar doang."
"Bohong."
"Nolak niih? Lama ga niih, masa jauh dekat tetap main solo? Dosa lho Mae ga melayani suami."
Muna segera nyosor bibir Kevin kayak soang. Secape apa sih pasangan ini, yang bahkan sudah hampir tiga bulan tak bertemu, lalu berjumpa dalam 7 hari perkabungan. Belum juga ada silaturahmi antara otong dan mumun.
Cape menahan hasrat saja, buktinya kini keduanya sudah terbuai dalam sengatan-sengatan asmara rindu menggebu itu. Aydan tidak ada sebagai nyamuk di antar mereka malam itu. Hingga dari gaya spooning, kaki di bahu, women on top hingga gaya klasik missionaris. Mereka eskekusi semua. Halloooow anda sehat?
"Hah... ngelayani sambil cape saja istriku luar biasa, apa lagi lagi fit. Makasih ya sayangku." Peluk Kevin posesif pada Muna.
"Cape beneran yang, tapi kangen sumpah." Jawab Muna yang hanya bisa rebah tak berdaya setelahnya.
"Ya iyalah otong kan selalu ngangenin Mae."
"Hmm..." jawab Muna seadanya
Bahkan berjalan untuk membersihkan diri setelah bertempur pun di bantu Kevin saja, menggunakan washlap dan air hangat. Agar bersih dan Muna tetap di tempat tidur.
Kumandang Adzan subuh berkumandang setelah 5 jam lalu mereka tertidur. Benar keduanya lelah beradu ilmu kanuragan tadi.
"Yang... sholat." Tepuk Muna.
"Hmm..."
"Yang...."
"Apaaa?"
"Tadi malam sarungan ga siih?"
"Mana abang bawa...?"
"Hah... Muna masa subur pap." umpatnya geregertan.
"Khilaf yang. Enak gitu."
"Kalo hamil gimana?"
Cup
Kevin mengecup kening Muna.
"Abang tanggung jawab kok. Yu mandi wajib, terus sholat." Perintah Kevin. Muna hanya cemberut. Ingin menyalahkan Kevin, toh ia pun sangat menikmati permainan semalam.
Bersambung...
Huuum... kali ini nyak ketinggalan lho. Mereka buatnya di Belanda lagi nih.
Tetap semangat dukung nyak yeee
Loopeeh❤️❤️❤️