OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 232 : PERSIAPAN KAMAR BABY GIRL


Anak Presdir ulang tahun, biar kata di adakan dengan sederhana. Tetap saja mendapatkan hadiah besar dan mahal dari kolega bisnisnya. Itu baru Kevin yang menjalin hubungan baik. Muna belum sepenuhnya turun bergabung dengan para istri-istri pengusaha di kota kembang tersebut.


Muna dan Kevin sudah berada di kamar mereka, membersihkan diri dan masih menggunakan baju mandi. Muna melangkah menuju walk in closet untuk memilih pakain tidur malamnya.


"Jangan di pake dulu bajunya Mae, abang bantu olesin lotion di punggung dan perut dulu." Perintah Kevin perhatian.


"Kok aye agak curiga ya...? ini tulus apa modus." Kekeh Muna sembari menyerahkan botol lotion dan melepas baju mandinya, tersisa kain renda segitiga model one piace menutup sesuatu di sana.


"Ni maksudnya apaan niih, pake daleman beginian. Mau kasih ujian atau mau di cobain?" tanya Kevin mulai mengusap punggung Muna dengan lembut.


"Biasa lah yang, bumil bawaannya gerah terus lho. Maunya pake baju tuh yang tipiiis aja, terus tuh yang miniiim banget. Jadi berasa adem gitu." Jelas Muna lembut.


"Iya... situ adem. Di sini hareudang Mae."


"Salah aye bang...?"


"Kagak sih. Bini abang mana pernah salah." Kekeh Kevin yang sekarang sudah pindah ke perut Muna.


"Bang... ternyata hamil enak lho."


"Gimana?"


"Tiap malam kaki di pijetin, punggung di olesin gini. Kerja ga boleh berat-berat. Suka jadinya."


"Sama... abang juga suka Mae hamil. sebulan jatahnya full ga ada palang merah. Puasa cuma di awal hamil. Ntar kalo ade lepas ASI, Mae isi lagi yaah."


"Buseeeeet bang. Ini aja belum brojol udah inden aje mau isi ulang. Mae kapan kerja sih bang?"


"Abang aja yang kerja. Mae, jaga anak, dan jaga gawang aja. Abang spesialis jebolin deh."


"Serah deh bang, Mae udah janji dulu cuma mau jadi sarjana. Jadi ga boleh ngelunjak. Jika suami minta Muna di rumah aja jadi ibu rumah tangga, aye ikhlas."


"Bukan ga boleh yang, tapi belum boleh. Sekarang umur istri abang kan masih muda banget. Makanya kita buat anak banyak-banyak dulu. Jadi ntar pas udah 30an. Anak udah mulai gede kan. Baru Mae bete, di tinggal suami kerja dan anak kita sekolah. Saat itu, Mae baru perlu dunia kerja. Asal... kerjanya ga ngejar duit banget. Abang dan anak-anak harus tetap yang utama. Oke sayangku...?" Jelas Kevin penuh kelembutan menyampaikan pikirannya.


"Masyaallah, terima kasih ya Allah. Suami Muna makin tua makin bijaksana. Makin cinta sama abang."


"Bentar... maksudnya makin tua apaan ya? kok aromanya kaya mengarah pada organ-organ di tubuh abang yang menua ya...?"


"Ga... perasaan abang aja. Suweeer."


"Hmm kali nyindir."


"Ih... sensitif sekali siih."


"Okeeh... udah selesai. Tidur yang?" ajak Kevin yang sudah membantu Muna memasang pakaian tidurnya.


"Masa...?"


"Kok masa. Nantang niih?"


"Bukan nantang tapi mau."


"Eeh... buset. Mamam atau anak niih yang genit?"


"Ade kayaknya saingan deh sama mamam dalam urusan jatuh cinta sama papapnya." Kekeh Kevin.


"Udah... tiduran deh." Tarik Kevin pada tubuh Muna untuk ia peluk erat.


"Yang... kasih motor ke pegawai abang duit dari mana? itu rapi banget sih, abang ga tau lho."


"Itu tabungan jatah bulanan yang tiap bulan abang kasih cash. Lupa?"


"Oh... habis banyak?"


"Lumayan sisa seperempat. Longgar deh dompet aye bang."


"Besok abang ganti ya."


"Ga usah. Biar Muna kumpulil lagi aja."


"Tapi itu motor lumayan mahal lho yang, 3 lagi."


"Ga papa. Muna ikhlas, lagian tuh duit bisa di makan rayap kalo ga buru-buru di pake."


"Sombooongnya bini CEO. Eh... perkiraan ade Ay kapan lahir yang?"


"Minggu depan paling cepet." Jawab Muna serius.


"Masih kuat jalan ga?"


"Mau kemana?"


"Kita aja ... abang punya waktu besok?"


"Selalu ada waktu untuk kalian, sayangku."


"Bang... kesininya aye ngerasa hidup aye tuh makin ga sehat gitu."


"Kenapa? pliss jangan bikin abang takut Mae. Kita ke dokter kalo Mae ga sehat." ajak Kevin was-was.


"Bukan... abang makin manis. Aye takut aje kena diabetes gitu."


"Eh... dodol. Ga lucu tau ga...?" Kevin melengos membuang cemasnya tadi.


"Dodol enak bener bilang istrinya dodol."


"Ya kaan iya. Dodol... udah manis, lengket lagi." Kekeh Kevin membalas ke gombalan Muna tadi.


"Eeeaaaa... eeaaa. Akuur deh bang. Yuk tidur." ajak Muna.


"Yakin langsung tidur? Ga mau di dongengin abang dulu?" tawar Kevin.


"Tidur lah."


"Lembur yuks"


"Tidur aja."


"Ibadah deh."


"Baiklah kalo gitu." Muna menyerah. Dan selanjutnya readers lebih tau kemana arah dongeng Kevin malam itu. Skip deh, suasana hati otor lagi ga mendukung nih lagi A'ah.


Keesokkan harinya Muna dengan dress panjang tanpa lengan berwarna nude tampak sangat cantik dan segar, sudah siap berburu aksesoris dan apa saja untuk mengisi kamar baby girl mereka yang katanya minggu depan akan lahir.


Muna sudah hamil tua, benar saja tidak sekuat saat masih single dalam urusan berburu belanjaan. Kali ini bukan hanya Kevin yang menemaninya, tapi Siska dan Gita juga ikut.


Kebayang betapa ceriwisnya tiga wanita beda selera itu, gemesh saat memilih pakaian, sepatu dan pernak-pernik kamar ade Ay.


Kevin ingin mundur, tapi sudah janji. Mau mengajak Gilang, tapi siapa jaga kantor. Masalahnya hari itu, Kevin seolah seorang suami yang sedang mengajak tiga istrinya berbelanja. Macam pria yang sempurna menjalankan poligami saja pemandangan itu. Walaupun memang hanya Muna yang selalu menggandeng tangannya. Tapi, Gita juga jelas tidak risih lagi berjalan di dekat Kevin karena tidak ada Gilang.


Tapi perlahan senyum Gita memudar, saat menyadari saat itu adalah jam makan siang. Dan tak sengaja melihat Sita dan Gilang sedang lunch bersama di mall yang sedang mereka jarah tersebut.


"Ada yang patah... tapi bukan kayu nih." Celetuk Siska yang sempat melihat kemana arah sorotan mata Gita.


"Apaan siih Sis...?" tanya Muna yang menangkap ucapan Siska.


"Hati Gita lah. Tuh, coba liat ke arah kiri depan di tempat makan tuh." Kompor Siska.


"Gilang... sama siapa?" tanya Muna agak heran.


"Sama Sita." Jawab Gita agak lemes.


"Sita... siapanya Gilang? Come on kita semperin." Dengan semangat empat lima Muna melangkah ke tempat makan itu.


Kevin pun pasrah, saat jiwa mak comblang Muna seolah di obrak-abrik. Bukankah sejak awal kenal Gilang, Muna udah ngefans dan sangat antusias jadian sama adik iparnya. Kenapa sekarang justru Gilang sama yang lain, ga terima dong Muna.


"Haii... Gilang." Sapa Muna membuat Gilang berdiri hampir menjatuhkan kursinya karena kaget.


"Ibu... bapak. Maaf, Gilang keluar makan siang." Sahut Gilang seolah tertangkap basah selingkuh.


"Oh... ga apa-apa Lang. Kita makan siang bareng boleh?" jawab Muna menarik kursi di depan Gilang.


"Iya... silahkan bu." Gilang masih agak tergagap.


"Sayang, abang ada janji temu dengan klien di hotel D. Boleh abang tinggal?" pamit Kevin yang tidak ingin makan bersama mereka.


"Hmmm... iya ga papa. Pulangnya jangan telat pap." Jawab Muna, dan Kevin segera mencium kening tanda pamit dengan Muna.


"Ijin. Ikut dampingi bapak." Ucap Gilang memandang Gita yang hanya diam pura-pura tak melihatnya.


Dan para wanita itu tak sempat menjawab apapun selain memandang punggung dua lelaki itu berlalu meninggalkan mereka.


Bersambung...


Ada yang kangen dengan duo G kan?


Iya nyaaak


Tapi ga gini juga alurnya ya.


Sabaaaaaar🤭