
Mama Rona dan yang lainnya hanya bisa menggeleng pasrah, saat melihat Muna hanya sempat bersalim dengan mereka. Lalu berjalan sambil menggigit sandwich buatan Rona, menuju garasi mobilnya.
"Ga di antar Kevin, Mun?" tanya mama Rona santun.
"Ga usah ma. Nanti malah ribet. Abang belum tau arah jalan kampus Muna. Buru-buru ini. Assalamualaikum." Pamitnya.
"Walaikumsallam." Jawab mereka semua yang melihat gerak cepat Muna.
"Buru-buru amat, lu garap semalam Tong. Sampe kesiangan gitu?" Tembak babe pada Kevin yang terlihat tidak bersemangat.
"Boro-boro di garap. Kevin pindahin dari lantai ke kasur saja, orangnya tidur kayak kebo." Curhat Kevin dengan wajah masam.
"Wkwk....wkwk. Yang sabar ya Tong." Ledek babe senang melihat lagi-lagi menantunya harus rela bercanda dengan jadwal UAS Muna yang sisa sehari lagi.
"Biasa aja kali be. Selalu sabar ini." Jawab Kevin membawa secangkir kopi untuk ia nikmati sendiri di samping teras istana itu.
Rona dan Dadang sudah beberapa jam menemani kakek Hildimar di kamarnya. Sementara nyak Time memilih berjalan bagai seorang tolok, berkeliling istana itu, menjelaskan apa saja pada Kevin yang terlebih dahulu ia ketahui. Sebab, ini pengalamamnya yang kedua datang ke Belanda.
Kevin hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan nyak Time. Yang kemudian memilih berenang pada kolam yang tersedia di lantai tiga.
Sesekali mengecek email masuk untuk tetap memantau perusahaannya, Kevin jauh merasa nyaman walau hatinya masih di landa rindu pada istri yang baru beberapa jam pergi ke kampus.
Entah apa waktu memang terasa lambat berjalan, atau Muna memang lama berada di kampus. Kevin bahkan harus makan siang tanpa istri dan menjalankan sholat Dhuzurnya sendiri, sebab sang istri masih belum menunjukkan batang hidungnya di istana Hildimar itu.
Dengan mata berbinar Muna datang dan menghambur kepelukan Kevin. Tanpa di minta, bokong itu sudah mendarat manis, tepat di atas paha Kevin suaminya.
"Hey... Istriku berani nyerang duluan niih. Awas... Di bales si otong. Besok ga bisa jalan, jangan salahkan aku ya sayang." Kekeh Kevin yang langsung meletakan dagunya pada pundak Muna.
"Iissh... Serem banget sih. Ancemannya yang."
"Ya.... Habis. Posisi sayang itu bisa saja membangunkan peliharaan abang yang sudah lelah bersabar sejak sebelum masehi."
"Abang lebay."
"Udah sana... Jauh-jauh deh. Abang ga mau di salahkan sebagai perusak fokus anak kulihan yang lagi UAS. Masih sehari lagi kan?" Ucap Kevin mengingat jadwal ujian Muna.
"Kagak jadi besok. Tadi udah di majukan. Makanya pulangnya sorean nih. Ada 3 jam di kasih waktu buat pelototin buku, dosennya besok ada acara dan tidak bisa di wakilkan olah dosen penganti juga asistennya." Terang Muna semangat.
"Oh... Kode nih. Berarti besok ujiannya sama mata pelajaran abang saja. Bahan teori sudah dua tahun lebih kan di pelajari, jadi sekarang waktunya ujian." Seloroh Kevin tetiba penuh semangat.
"Abaaaaang ga jelas." Teriak Muna.
"Masiiih suka teriak Mae?"
"Masiih lah. Abang juga pasti kangen pan sama teriakan Muna."
"Tidak. Abang tidak kangen sama teriakan Mae." Jawab Kevin usil.
"Jadi... Kangen apanya?" Tidak ada jawaban lagi dari mulut Kevin. Sebab mulutnya sudah menyedot leluasa mulut yang sedari tadi nyerocos dengan lancar.
Hmm... Taukah kamu apa bedanya decakan cicak di dinding dengan pertempuran adu lidah pengantin baru itu?
Headset, earphone dan sejenisnya harap segera di pasang saja. Untuk menghindari pencemaran terhadap indra dengar dari setiap lenguhan, dan rintihan kamar pengantin yang mungkin akan melaksanakan siaran tunda itu.
"Abang kangen sumber suara teriakannya sayang. Lebih dari dua tahun lo abang nunggu ini." Rayu Kevin.
"Buseeet dah, yang di malam resepsi apaan? Amnesia?"
"Oh itu cermonial sayang." Kekeh Kevin.
Muna dengan lincahnya kembali mengaitkan kedua tangannya pada leher suaminya. Mengarahkan bibirnya lagi, menubruk bibir suami yang sangat di rindukannya itu. Tampaknya Muna sudah handal bermain pada bagian itu, makanya berani sebagai pemimpin.
Katakan padaku, apakah ada hal yang menghalangi mereka untuk melakukan itu. Bahkan kini bayangan casper putih dan setan bertandunk merah, bergigi taring tajam itu, memilih duduk lesu saja, menonton keintiman yang terjadi pada pasangam halal di depan mereka.
"Astafirullahalaziim. Piiiiin, Munaaa, pintunya di tutup ngape...?" toa versi asli sudah berkumandang di luar kamar Muna yang memang masih terbuka.
Terlepaslah pagutan mesra itu, malu, merona memerahlah tercetak di wajah kedua pasang pengantin baru itu, tak tau harus bagaimana mengatasi adegan yang memang tak layak di lihat oleh orang lain, bahkan nyak Time sekalipun.
"He...he. Lupa nyak. Tadi kayak ketarik magnet gitu tetiba udah di pangkuan abang aje." Cengir Muna membela diri, sambil berusaha merapikan pakaian yang awut-awutan.
"Paham. Nyak juga pernah muda. Tapi peliis. Pintunya di pastiin ketutup rapat dulu dong ah." Hardik nyak Time yang tadi di tugaskan untuk memanggil kedua pasangan itu untuk makan malam.
"Iye... Tadi bonus buat nyak." Kilah Muna bercanda.
"Segala bonus, rusuh lu pade. Habis magriban di tunggu makan malam bersama." Ujar nyak Time so' so an. Kayak orang kaya pada umumnya.
"Iye... Bentar kami turun. Habis mandi nyak." Jawab Kevin berdiri dan melangkah menuju kamar mandi di sana.
"Sayaaaaang... Mandi bareng yuks." Kepala Kevin menyembul, mengadu peruntungan, berharap istrinya bermurah hati akan memberikannya stimulasi sebelum kegiatan inti nanti malam.
"Ogah yang. Bisa-bisa kita di gedor masal oleh tetua yang nungguin kita makan malam." Jawab Muna. Yang tampak mulai sibuk mengumpulkan buku-bukunya. Memilih pulang ke apartemen saja malam ini. Agar bisa lebih leluasa berduaan dengan suami tercinta.
Di ruang makan istana Hildimar. Kakek benar sudah sangat sehat walafiat. Terlihat beliau sudah dapat duduk bergabung di meja makan malam walau masih dengan kursi roda sesuai saran dokter pribadinya.
"Muna mana Vin?" tanya kakek ramah.
"Masih mandi Kek." Jawab Kevin tak kalah santun.
"Libur semester nanti, Muna tidak usah mengurus rumah sakit dulu. Biar Dadang yang handel seperti biasanya. Sebab, kita tidak boleh memecahkan fokus PR Muna." Titah Kakek serius.
"PR Muna...? Apaan?" Celetuk nyak Time tanpa basa basi.
"Buatkan cicit untuk kakek. Cucu untuk kalian juga. Dan kamu Kevin, kalau perlu tidak usah pulang sebelum berkembang." Ouuw eM G, ini titah paduka raja yang dosa jika di tentang, hati Kevin berlonjak kesenangan namun sedapat mungkin menutupi eforia itu.
Kevin mengeryitkan kedua alisnya, mengangkat kedua bahunya, so tidak paham dengan maksud perkataan kakek, saat semua mata tertuju padanya.
"Gimana?" sahut Kevin berbasa-basi.
"Engkong Muna, tenang aje. Entuh wajah Kevin kayak gitu bukan kagak ngarti. Aslinya ude kagak sabar mau anboksing kata anak jaman sekarang. Tadi aje, mereka udah mau nyicil depe. Jadi, setelah ini. Kita buruan masuk kamar masing-masing aje, biar mereka cepet main pelem unyil kucing." Cerocos nyak Time dengan wajah santai.
Di sambut gelak tawa, riuh gempita bagi siapa saja yang mendengar celetukan nyak Time.
Wajah Kevin lagi memerah, sedikit malu jika lagi-lagi keluarga ini rusuh hanya karena ingin ia segera belah duren. Menjadi isu terhangat, bagai tranding topik yang memang harus di publikasikan secara live. Oh Tuhan.
Bersambung...
Tisue, bantal, guling, kacamata
siapin buat pantengin BAB selanjutnya.
Suweeer setelah ini nyak kagak PHP
Nyak cuma ngikut alur si Muna aja
Moon Maaf yee
Sebagai permintaan maaf
nyak janji hari ini crazy up dehβοΈ
πππ