
Rangkaian ibadah Umrah sudah berjalan lancar sesuai dengan aturan dan pengaturan yang di arahkan.
Tiba saatnya mereka kembali ke kehidupan selanjutnya. Walau agak sedikit berbeda dengan saat berangkat. Sebab hanya kakek, pengasuh dan dokter pribadinya saja yang pulang ke Belanda.
Selebihnya, semua pulang ke Indonesia. Tak terkecuali Muna yang masih memiliki waktu sepekan lebih di masa liburan semesternya.
Hal itu tentu di sambut baik oleh Kevin yang sudah sangat tidak sabar menjalankan rutinitasnya sebagai pria beristri yang juga ingin menikmati masa-masa berada dan di layani oleh istrinya secara lahir dan batin di kediamannya.
Nyak babe tak kalah mengerti, tentu saja lebih memilih tinggal beberapa hari di rumah mereka yang juga telah lama mereka rindukan. Sekaligus memberi kesempatan pengantin baru itu menikmati indahnya masa-masa kebersamaan mereka, sebelum kembali terpisah jarak dan waktu antar benua. Ya... Muna yang masih memiliki beban 4 semester lagi untuk menyelesaikan studinya di Apeldoorn.
"Beli cendol di warung kecil aje.
Di tempat Noni, kebanyak gaya.
Babe dan nyak, pulang ke rumah sendiri aje.
Biar ngadon cucunye, lancar jaya."
Pamit babe Rojak pada Kevin saat mereka sudah harus terpisah di bandara.
"Makan lontong sayurnye lodeh,
Jangan lupa di kasih cabe.
Iish... Babe norak deh.
Muna masih kangen sama babe." Balas Muna masih bergelayut memegang tangan babenya penuh sayang.
"Subuhan jangan lupa sembahyang,
Jangan tungu jadi nini dan aki-aki.
Muna anak babe sayang,
Elu pan sekarang ude punya laki." Lerai babe mengingatkan Muna lewat isi pantunnya.
"Mae... Kita nginap di rumah babe dulu atau langsung ke Bandung nih?" tanya Kevin yang mencoba mengerti jika istrinya itu tentu kangen rumah masa kecilnya.
"Emang boleh, kita nginap di rumah babe dulu malam ini?" tanya Muna pada suaminya. (Ciiee suami)
"Kalo Mae mau... Ya ayok. Mumpung barang-barang belum di masukkan ke bagasi." Jawab Kevin menunggu jawaban.
"Kagak...kagak. Babe belum bisa terime kalian di rumah." Sahut babe tegas.
"Ngape be?"
"Sejak elu kuliah, pan Siska yang jaga rumah. Kamar lu juge udah babe minta Siska yang nempatin. Jadi, kalo kalian bedua mau sih boleh-boleh aje. Tidur di kamar Siska yang kecil, mau?"
"Waah... Enak tuh Mae. Sempit, kali asoy tidurnya nyenyak sampai pagi." Ledek Kevin menggoda Muna.
"Yaaa... Udah. Kita langsung ke Bandung aje kalo gitu. Bukannya tidur, ntar Muna bakalan ronda aje semaleman." Muna menyimpulkan sendiri pilihannya.
Di balas senyuman penuh arti dari babe dan Kevin yang sepertinya sudah menjalin kerjasama tak kasat mata.
Rumah Kevin di Bandung sudah rampung sempurna. Bangunan yang dua tahun lalu sebelum Muna berangkat ke Belanda masih dalam tahap penyelesaian kini tampak berdiri dengan megahnya.
Ada kolam renang, ada taman bunga, ada sedikit toga di pekarangan belakang, bahkan ada kandang ayam juga kolam ikan di sisi kiri rumah itu. Tentu saja itu bukan bagian dari konsep seorang Kevin.
Itu ulah babe Rojak, yang selalu mencari-cari kesibukannya di sela waktunya menemani nyak berjualan Soto Betawi yang sekarang sudah punya koki yang bisa nyak Time andalkan.
Masakan seorang Kevin dan mertuanya harus menunggu ayam bertelur terlebih dahulu jika ingin makan telur. Bahkan tidak mungkin rasanya, mereka harus memancing di kolam dulu jika ingin makan ikan.
Kevin pengusaha sukses, tanpa memelihara hewan, ternak dan ikan pun. Ia mampu membeli keperluan makannya sehari-hari.
Tetapi semua yang mereka ciptakan tersebut adalah salah satu cara untuk mengusir rasa bosan bersama, mengalihkan rindu, menyibukkan diri agar waktu terasa cepat berlalu. Mengisi hal dengan sesuatu yang bermanfaat, sehat juga menyenangkan.
Kevin dan Muna sudah tiba di rumah kediaman Kevin Sebastian Mahesa, yang akhirnya di huni sempurna oleh sang nyonya rumah.
Ini bukan kali pertama Muna menginjakkan kaki di rumah ini, sebab pernah sekali menumpang mandi di kamar tamu.
Muna sedikit tersenyum memandang sofa di tengah rumah itu. Masih dengan posisi semula, sewaktu ia dan Kevin akan berpisah lama. Sofa itu pernah menjadi saksi, pernah terjadi perang lidah dalam sepersekian menit di sana. Ah, masa pacaran yang penuh gejolak dag dig dug ser, antara mau dan takut dosa. Kerennya masa pacaran, nyut-nyutan.
Kevin sudah meraup tubuh istrinya ke lantai 2. Mengira Muna tak tau alamat kamar yang benar, sehingga ke sasar mungkin mendapat alamat palsu.
Muna tersenyum genit pada suaminya, mengalungkan kedua tangannya manja sambil menempel-nempel kecupan kecil di pipi masih berjambang itu.
"Mau ngapaiin sih, buru-buru amat." Kekeh Muna sambil berusaha bangkit dari posisi tidurnya tadi.
"Mau ngadon donat Mae, mumpung bahannya ada." Canda Kevin pada Muna yang sudah melangkah menuju toilet di dalam kamar mereka.
Ada sebuah jacuzzi berukuran 70cm dengan kedalaman 60cm. Muna menatap senang dengan interior yang baginya sangat memukau. Selera suaminya benar-benar bukan kaleng-kaleng. Ekslusif.
Muna masuk kemudian di susul Kevin, berharap akan mendapatkan kesempatan mandi bersama sang istri. Tetapi belum sempurna tubuhnya merapatkan tubuhnya, gerakan Muna sudah sangat menunjukkan jika kini bersiap akan berwudhu. Ya, waktu Isya telah sampai. Sehingga Kevin pun segera menyusul untuk melakukan hal yang sama melakukan rukun Islam yang kedua.
Bukan karena mereka baru pulang ibadah Umrah, namun jauh sebelum mereka menikah, bahkan saat sejak awal dekat pun hal tersebut sudah tertanam dalam hubungan mereka. Selalu berusaha mengutamakan untuk menjalin kedekatan pada sang pemilik semesta.
Salim takzim, dan kecupan sayang di jidat Muna selalu menjadi tanda berakhirnya kewajiban mereka. Merapikan perlengkapan sholat mengganti pakaian pun sudah di lakukan keduanya tanpa aba-aba.
Keduanya saling pandang, saat satu sama lain sudah saling berpakaian tidur lengkap, masih di dalam kamar mereka.
Muna tanpa permisi sudah meletakan boko ngnya di atas paha Kevin yang terlihat memilih melihat ponselnya, sebab hampir seharian tak ia perhatikan.
"Ada pekerjaan di luar sana yang lebih penting dari ngerjain istri di sini, sayang...?" goda Muna yang kini seolah tidak mempunyai kursi lain, selain kedua paha suaminya itu.
"Pekerjaan di luar tentu selalu banyak, tapi yang terpenting tentu istriku yang makin hari makin manja ini. Lihatlah, ia bahkan seolah tidak punya tempat lain untuk duduk sendiri."
"Ga boleh yang?"
"Harus!!! Selalu begini ya sampai abang sudah ga kuat pangku Mae lagi." Jawab Kevin tegas.
"Hmm... Tegasnya kumat. Itu yang sering rindukan kalo lagi jauhan."
"Kalo abang kok tiba-tiba rindu teriakan toa yang selalu takut abang mesum ya, sayang." Kekeh Kevin.
"Abbaaaang..." Teriak Muna bernostalgia.
"Beda penekanan suaranya yang. Dulu tuh... Terdengar takut banget. Apa iya abang seseram itu?"
"Bukan seram tapi abang sangat mempesona. Kayaknya kalo kita jalan berduaan dalam durasi waktu yang lama tuh, si babe zikirnya kuat deh di rumah, makanya susah jebol tanggulnya." Kekeh Muna.
"Iya... Kenceng banget doanya, sampai setelah sah juga, abang masih harus bersabar lagi." Jawab Kevin dengan senyum tersungging.
"Tapi udah kesampaiankan? Gimana puas unboxingnya, yang?"
"Banget... Makasih ya. Istriku nikmat sekali."
"Emang ada aneka varian gitu, yang?"
"Ya iyalah... Beda orang beda rasa donk." Ceplos Kevin terpancing suasana.
"Ciiee...ciiee yang spesialis icip-icip. Udah berapa varian yang pernah di coba? Apalah aku, yang hanya pernah coba satu langsung klepek-klepek." Canda Muna pada Kevin yang wajahnya berubah masam.
"Maaf sayang. Janji ga gitu lagi. Dan pliis, gawang Mumun hanya boleh di goalin Otong seorang saja ya Mae..." Pintanya sambil mencium punggung tangan Muna berkali-kali.
"Insyaallah. Abang pemilik jiwa dan raga Muna dunia akhirat." Tegas Muna yang sudah memcium pipi kiri dan kanan suaminya.
"Amiiin, Mae. Tadi perasaan langsung wudhu tanpa mandi lho. Abang bantu bersihi punggung Mae yuk." Ajak Kevin dengan maksud tertentu.
"Modus."
"Biarin istri sendiri ini."
"Gendong."
Bersambung...
Uwuuu
Nyak No komen klo sudah begini.🤭
Btw... thx komen positif reader tersayang
Terharu nyaak tuuh ngambang dapet dukungan dari kalian semua.
Amiiin buat doa kalian yaa
tambah lopeeh deh