OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 204 : SALING TERBUKA


Acara aqiqah telah terlaksana di rumah kediaman Kevin. Acara tersebut di gelar dengan sederhana (versi sultan pastinya) yaitu hanya pengajian yang di hadiri oleh para tetangga di lingkungan rumah Kevin, Ketua RT dan juga para tokoh agama. Selebihnya acara tersebut lebih ke acara amal dimana seluruh karyawan dan pabrik bagai mendapat THR yaitu pembagian paket sembako yang mereka data dengan terperinci.


Tentu saja hal itu tidak akan membuat mereka miskin, sebab berbagi itu indah selama mampu dan ikhlas tentunya. Terlebih-lebih anak-anak panti asuhan yang Kevin miliki. Tentu saja menjadi urutan teratas untuk mereka perhatikan.


Hari-hari berlalu, perlahan pendukung Aydan garis keras pun telah kembali ke aktivitas masing-masing. Hanya tersisa nyak dan babe yang masih tinggal dengan mereka di Bandung.


"Yang... Abang udah hubungi yayasan penyaluran baby sister. Mau satu atau dua?" tanya Kevin serius pada Muna.


"Ngape pake baby sister segala sih. Dua lagi, ngurusin abang juga?" Muna balik bertanya


"Iis... Kalo ngomong itu jangan sembarangan yang. Ya bantu Mae jaga Ay lah."


"Sayang... Kan Muna kagak kemane-mane. Ay juga anteng gitu, mirip papap. Ribut dikit kasih ASI beres. Diem... Bobo nyenyak deh."


"Nyindir...? Tolong jangan di ingatkan soal kemasan susu ternikmat untuk segala usia itu ya. Mae bisa saja membangunkan otong yang masih aman tidur nyenyak." Kekeh Kevin yang memilih mendekati Muna yang baru tampak meletakan Ay di boxnya.


"Kayaknya Muna masih mampu kalo cuma jaga Ay. Asal papap ga ikutan rewel juga. Ada nyak juga yang sering bantuin."


"Sayang... Dengerin abang. Sekarang Ay baru 3 minggu. Alhamdulilah masih anteng. Nyak itu sudah tua, cukuplah dulu jaga Mae, masa harus repot lagi jaga Ay. Kalo cuma sesekali ganti popoknya ga papa. Tapi nanti Mae dan Ay kebiasaan ada nyak. Mae kan, sekarang statusnya hanya terminal. Bukan selesai atau berhenti. 2 bulan lagi udah jadi mahasiswa lagi kan. Masih mau jadi sarjana ga sih istri abang?" Ujar Kevin merebahkan dirinya berbantalkan paha Muna, sebab Ay masih tidur saat Kevin baru pulang bekerja.


"Iih...abang so sweet banget sih. Oke lah, boleh tapi satu aje. Kebanyakan kalo 2. Muna berusaha semampunya ngurus Ay banyak-banyak."


"Abang...?" manja Kevin.


"Kan udah besar, ga usah di urus banget kali."


"Mau abang cari asisten yang ngurus abang di luar?" aroma sedikit mengancam.


"Bentar, ngurus yang mana nya dulu nih?"


"Semua lah?"


"Otong juga?" tanya Muna so polos.


"Boleh?" Kevin balik bertanya.


"Coba ... Sini Muna seleksi."


"Hah!!! Seleksi. Ketemu Belia berapa kali saja sudah main pindah. Segala mau seleksi aspri sampai ngurus otong juga."


Muna mengelus dahi Kevin penuh sayang.


"Mae..."


"Hm..."


"Mumun kapan sembuh sih?"


"3 bulan lagi"


"Bohong." Loncat Kevin terduduk dari posisi enaknya rebahan tadi.


"40 hari kata dokter dan keterangan lainnya. Tapi tergantung sih. Kalo udah bersih, berarti rahimnya sudah sembuh." Kevin kembali ke posisi rebahannya, sebab itu benar PeWe.


"Itu... Kalo misalnya otong main terus muntah di dalam, Mae hamil lagi ga?"


"Bisa iya, bisa tidak."


"Hah... Kalo otong sih jangan di ragukan lagi. Dia kan sniper."


"Iya percaya. Tapi jangan tembak di dalam dulu ya bang. Muna belum siap hamil lagi."


"Kenapa...?"


"Yaaah... abang tanya kenapa?


Ga liat itu Ay sekarang aja baru 3 minggu. 40 hari itu hanya 2 bulan yang. Masa iya Ay usia 3 bulan, Muna hamil lagi? Kuliah Muna kapan selesai?"


"Hahaaa... Serius apa ngebet sih. Becanda lah yang. Iya... Kita tunggu Ay setahun ya. Baru Mae hamil lagi."


"2 tahun deh. Tunggu selesai kuliah."


"Ingetin abang jajan di luar deh, eeh... Buang di luar ya." Goda Kevin pada Muna.


"Huumm... Pake plastik es kero lagi tong?" Ide Muna tiba-tiba muncul.


"Males siih... Tapi boleh juga buat persiapan."


"Apaan siih. Abang mandi giih. Si Ay kelamaan tidur sore, berbahaya. Tangan abang udah ke mana-mana ini." Pukul Muna pada tangan Kevin yang sudah merem es kemasan ASI Ay.


"Mencet doang yang, kangen. Udah ada saingan ngemut sekarang."


"Hmm... Cari lahan lain deh buat di ****. Ini area rawan banjir, ga bisa kepencet dikit, ASI nya lancar banget."


"Ntar... Tunggu udah boleh. Sekarang abang mulai jaga jarak ya. Takut tergoda."


"Abang mau tidur di kamar atas? Silahkan "


"Sabaaar, maaf ya." Pinta Muna dengan lembut.


"Ga papa. Abang memang terlahir untuk menjadi orang sabar."


"Kalo inget hahaa." tawa Muna garing.


"Bang...?"


"Apa sayang."


"Kemarin Siska curhat. Sekarang dia udah KKN."


"Terus...?"


"Ya kan itu lama 2 bulanan gitu."


"Hmm..."


"Kerjaan ga bisa ijin selama itu."


"Lalu...?"


"Alamat nganggur dianya setelah KKN nanti. Kira-kira menurut abang gimana?"


"Dia maunya gimana?"


"Ga ngobrol sih. Cuma Muna mau duluan mikirin masa depannya aja, sebelum nanti dia curhat."


"Dia mau ga kerja di perusahaan abang?"


"Belum tanya sih."


"Tapi sebaiknya biarin dia fokus selesaikan kuliahnya saja. Setelah itu ngelamar di sini deh."


"Tapi... kalo dia ga kerja lagi. Gimana dong dia ngebiayain kuliahnya?"


"Idiiih bini abang, yang kerjaannya mikirin orang melulu. Sebelum kita nikah siapa bayar SPPmu sayang?"


"Mama sama abah."


"Sekarang?"


"Abang."


"Kenapa?"


"Ya, abangkan laki Muna. Entuh pan termasuk nafkah lahir."


"Kalo misal kita belum nikah, siapa yang bayarin kuliah Mae?"


"Ya ... masih mama dan abah lah. Pan entuh tanggung jawab mereka."


"Oke... balik ke Siska. Kira-kira siapa yang tanggung jawab?"


"Ya orang tuanya lah."


"Ya sudah, kenapa Mae yang sibuk."


"Kesian bang, adenya masih pada sekolah juga."


"Yang, keluarga Siska sekarang sudah mapan kok. Siska ga kerja juga orang tuanya pasti mampu biayain kuliahnya."


"Huumm. Tapi janji ya. Besok terima Siska di perusahaan abang."


"Sesuai jalur dong bu. Jangan mentang-mentang temanmu, main terima aja." usik Kevin pada pucuk kepala istrinya.


"Iya... sesuai dong pap."


"Membantu boleh. Tapi jangan mencolok, hati orang siapa yang tau, walau itu teman sendiri. Alhamdulilah sejak awal sampai sekarang Siska selalu di jalur yang benar dan sungguh-sungguh. Waspada juga tak salah. Tapi bukan berarti berprasangka buruk pada orang lain."


"Hmm... papap Aydan makin bijak deh. Iya pak CEO kesayangan. Terima kasih sudah mengingatkan."


"Bukan melarang Mae berbuat baik, hanya jangan selalu begitu. Semampunya saja, rejeki orang sudah di atur yang. Sama seperti rejeki abang dapetin Mae."


"Muna dapetin abang itu yang anugrah. Yang, kita selalu begini ya. Ngobrol gitu, saling mengingatkan dan menegur satu sama lain. Saling terbuka, ga ada yang di tutup-tutupi di antara kita."


"Hah... teori. Tuh buktinya mumun masih closed. Belum di buka, katanya saling terbuka." kekeh Kevin sengaja menggoda Muna.


"Hiiiiiissh... ga sekarang juga ini, ah."


Bersambung...


Lempeng gini, berasa kayak makan ga pake cabe deeewwwh.✌️✌️