
Kevin mematut-matutkan tampilan barunya di depan cermin besar di hadapannya. Memandang Muna dari pantulan cermin yang memasang wajah seolah merasa bersalah atas hilangnya jambang kesayangan di dagunya. Kevin menarik Muna dan mendudukannya di atas pangkuannya.
"Kenapa wajah Mae di tekuk kayak gini siih?" tanya Kevin mengangkat dagu Muna.
"Muna nyesel cukur habis aksesoris di wajah abang. Ternyata kurang cocok, jadi kagak macho." Jujur Muna sambil sedikit menunduk.
"Sudahlah... jambang doang. Besok juga tumbuh sayang." Jawab Kevin sabar walau sesungguhnya juga sependapat dengan Muna bahwa jika ia nilai, tanpa jambang ketampanannya hanya di angka 7 bukan 9 seperti sebelumnya. Kalo 10 jelas tidak yaak, sebab kesempurnaan hanya milik Allah.
Muna sedikit mengusir mendung kelabu yang sempat menyerempet di wajahnya, menyadari betapa ia yang sudah lebay hanya karena calon suami kehilangan jambang olehnya.
Muna sudah kembali di rias dengan tampilan berbeda dari sebelumnya. Mengunakan pakaian pengantin model ball gown membuatnya seperti seorang putri raja, lengkap dengan mahkota dan slayer pegantin yang sangat panjang membantu menyamarkan tampilan seksi pada punggung yang seolah terbuka itu.
Kevin di buat makin gemas melihat calon istrinya mengenakan pakaian pegantin tersebut, dan lebih memilih pasrah dengan apapun perintah pengarah gaya yang akan mengemas foto prewed mereka. Pikiran Kevin sudah melanglang buana membayangkan hari yang ia dambakan segera tiba.
Matahari sudah berarak menuju peraduan, semburat jingga berbaur keemasan tercetak lugas pada langit senja itu. Tanpa perintah dan tanpa ijin Muna. Kevin dengan tenang melajukan mobilnya ke arah apartemennya.
"Kita kagak pulang kerumah bang...?" tanya Muna yang mulai gelisah sebab magrib tentu telah datang.
"Abang mau makan masakan Mae, kaya dulu, waktu kita baru-baru ketemuan Mae." Ujarnya manja.
"Issh... benntar lagi pan tiap hari Muna selalu masak buat abang, pulang kerumah aje deh bang." Tolak Muna secara halus yang sedikit curiga Kevin akan melakukann hal-hal yang iya-iya atau engak-enggak.
"Bentar doang Mae, besok Mae udah di kurung sama nyak di rumah. 5 hari itu berasa 5 tahun bagi abang kalo ga ketemu Mae." Gombal Kevil kambuh.
Muna malas membahas keinginan Kevin, sebab jelas akan tak berguna. Kevin akan selalu menang dengan pengaturannya sendiri, dan sesungguhnya Muna pun memang cukup lama tidak ke sana.
"Mandi dan sholat dulu Mae. Sisa riasan tadi sepertinya bikin kulit mukamu menjadi berat." Perintah Kevin pada Muna dengan nada biasa.
Muna masuk kamar yang sejak awal perkenalannya dengan Kevin, itu merupakan kamarnya. Membuka lemari pakaian yang masih banyak tersusun rapi baju-baju pilihan Kevin saat pertama kali ia di ajak berbelanja, masa itu.
Mereka melakukan sholat secara terpisah, yaitu di kamar mereka masing-masing. Merapalkan doa yang sama, tentu untuk kelancaran rencana pernikahan di depan mata.
Muna lebih dahulu keluar kamar, dengan menggunakan setelan pakaian rumahan celana panjang dan rambut yang basah ia gelung dengan lilitan handuk di atas kepala. Merazia isi kulkas Kevin, memutar otak membuat makanan apa yang mereka berdua akan makan bersama di petang menjelang malam ini.
"Abaaaaang..." Panggil Muna... bukan memanggil lebih tepatnya berteriak tentunya. Membuat Kevin tergopoh untuk berjalan menuju dapur mini di apartemennya itu.
"Apaan...?" tanya Kevin saat sudah berada dan mendekat pada tubuh wangi Muna khas setelah mandi.
"Muna bisa masak apa? Beras abang juga kagak ada di mari?" Hardik Muna menujukkan tempat beras Kevin yang kosong melompong.
"Nah... itu dia sebabnya. Abang mau cepetan nikah, biar ada yang urus, urusan begituan. Biar abang fokus cari uang saja ntar." Ledek Kevin pada Muna
"Iye... Muna juga paham. Tapi sekarang Muna beneran kagak bisa masak apa-apa kalo gini bang." Rengek Muna kesal dengan stok yang benar-benar kosong di sana.
Kevin sudah tidak peduli dengan rengekan itu, ia sudah membenamkan wajahnya pada ceruk leher Muna, melingkarkan tangan kekarnya pada lekukan pinggang Muna dari arah belakang tubuh gadis kesayangannya itu.
"Abaaaang... sabar ngape bang."
"Bentar doang sayang, abang kangen peluk Mae." Suara itu terdengar berbisik lirih tepat di daun telinga Muna. Membuatnya terhipnotis tak kuasa menolak atau pun melakukan sesuatu untuk merenggangkan pelukan itu.
Muna hanya terdiam, terperangkap dan terhanyut pada suasana menjelang malam itu bersama pria yang benar telah ia cintai dan akan segera menjadi imamnya itu.
Sesekali bayangan segerombolan casper bak menonton drama kolosal melihat adegan yang di ciptakan Muna dan kevin bagai menari-nari di dalam benak Muna, bayangan putih bertanduk, bergigi taring, bibir merah pun sesekali ada dalam otak seorang Kevin. Tetapi, entah sadar atau tidak. Kini justru kedua bibir mereka telah saling bertautan.
Seolah rindu itu membuncah, mempererat pagutan yang awalnya hanya sepihak. Namum, kini terasa semakin membara di antara keduanya. sebab ada perlawanan terjadi di dalam rongga mulut yang sesekali bertubrukan dengan barisan deretan gigi di dalam sana.
Sesekali terjeda namun tak saling melepas, sekedar mengisi oksigen yang hampir habis, kemudian saling meraup kembali. Ck...ck...ck namun siapa yang memulai adu lidah itu terjadi lagi. Seolah peperangan sengit terjadi diantara keduanya. Dan kali ini tangan Kevin tidak dapat di kondisikan, mulai meraba, merajalela mengepung area pegunungan yang seolah mendesak menuju dadanya. Tangan Muna hanya mampu memilin, meremat, meremas dengan gemas tepian baju belakang Kevin. Entah dimana akal sehat Muna selama ini, sehingga malam itu, seolah lupa jika mereka memang belum sah.
Remasan pada area tabu itu tidaklah kencang, namun bohong saja jika Muna tak menyadarinya. Sehingga ia hanya sibuk dengan pertautan adu lidah sedari tadi yang tak jelas, kapan akan berakhir. Kancing depan pakaian Muna sudah terlepas dua, sepertinya hasil karya tangan itu sudah berhasil mengundang bibirnya untuk menempel di permukaan mulus bertonjolan dalam cup itu. Oh Tuhan... Keduanya tampak menggila dan lepas kendali, sehingga satu di antaranya tak ada yang berniat untuk berhenti.
Ting
Tong
Suara Bel pada pintiu apartemen menyadarkan keduanya. Bahkan handuk yang melilit di kepala Muna tadi, sudah tak tau terlepas di mana. Muna segera berdiri, menutup kembali kancing baju yang sempat terbuka dua biji oleh Kevin tadi.
Kevin mengusap wajahnya dengan kasar, menyadari perbuatanya tadi bisa saja berujung dosa.
"Mae... bukakan pintu. Itu pasti ojol yang mengantar makan malam yang sudah abang pesan setelah mandi tadi." Ucapnya dengan cuek sambil terburu-buru masuk kamarnya. Apalagi...kalau bukan menuntaskan hasrat casanovanya yang telah lama tidak tersalurkan. Bermain solo adalah pilihan terbijak bagi seorang pria yang belum sah mengakhiri masa lajangnya. Demi menjaga diri dan Muna tentunya.
Muna membuka kotak yang di antarkan kurir tadi. Menyiapkan piring dan minuman untuk mereka santap berdua. Mungkin nasi kebuli ini memang solusi terbaik untuk mereka nikmati bersama, ketimbang saling menikmati pagutan seperti tadi.
"Maaf untuk yang tadi ya Mae... mungkin itulah sebabnya mengapa calon pengantin harus di pingit. Sebab godaan calon pengantin ternyata memang lebih hebat, ketimbang hari-hari biasa." Ungkap Kevin secara gantle memgakui hasratnya yang benar sudah di ubun-ubun ingin menghabisi Muna di sofa tadi.
"Iye ye bang... Muna juga ikutan kalap. Kaya ada magnet gitu, ke ketarik pasrah aja di ajak abang mesum. Ampuun dah... setelah ini, Muna siap di pingit dah, dari pada di terkam sama abang sebelum waktunye." Jawab Muna jujur yang juga tak dapat lagi membentengi dirinya dan terselamatkan oleh kurir pembawa pesanan makanan ini.
Bersambung...
Eng...ing...eng
Reders nyek otor udah pada ketar ketir
Wanti-wanti unboxing setelah halal.
Jari nyak suka nakal nih.
Otak nyak juga ude kaga sabar mau traveling.
Biarin deh dosa dikiit, namanya juga godaan sebelum nikah
Besok Senin
Biasaaa nyak minta sodakoh votenya yaaak
Makasiih
Lopeh dah buat semua
❤️❤️❤️