OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 167 : UJIAN


Akhir minggu telah menyapa. Raga Muna benar telah berada di belahan benua yang berbeda dengan Kevin suaminya. Dan ternyata benar saja, raganya sehat walafiat, tapi tidak dengan jiwanya.


Semakin sering Muna menggulirkan gawainya demi memandang foto-foto pernikahannya. Semakin hatinya sakit, jiwa itu kosong, rindu itu menggebu bahkan tak sekali menitikkan air pada lembaran buku yang ia baca untuk mulai belajar, menyiapkan dirinya untuk menghadapi ujian.


Entah, ujian akhir semesternya kah yang berat, atau ujian rindunya yang begitu membuatnya terbeban. Pilu.


Sulit bagi Muna berkonsentrasi, antara membuka buku atau menghabiskan waktu menelpon suaminya.


Kevin.


Kevin yang awalnya hanya berkata akan repot di satu hari Jumat padanya, dan akan menyusul tapi ternyata kini suda ketemu Rabu, yang artinya 7 hari sudah usia pernikahan mereka. Namun, belum ada tanda-tanda Kevin berbicara yang arahnya akan menyusulnya ke Belanda.


"Assalamualikum yang..." Isi chat Muna. Berharap mendapatkan balasan dari orang yang sudah sangat mendominasi dalam hatinya. Tak peduli jika kini sedang tengah malam di Indonesia.


Ponsel Muna bergetar, icon biru meronta ke atas dan kebawah. Pertanda ingin segera di usap dan menampilkan wajah keduanya pada layar pipih pengobat rindu itu.


"Walaikumsallam istriku. Ada apa? Ini tengah malam sayang." tanya Kevin lembut.


"Maaf... mengganggu. Kangeeeen yang." Rengek Muna tanpa malu.


"Cup... Cup... Cup. Kasiaaan yang jauh dari suami. Ujiannya berapa hari lagi yang?"


"Masih 3 hari lagi. Tapi rasanya kaya tiga tahun." Gombal Muna pada suaminya.


"So' sweetnya. Yang rindu berat sama laki. Apa perlu sekarang abang pinjam jet kakek, biar segera terbang ke sana." Pancing Kevin.


"Berani bilang...?" tanya Muna.


Tok...


Tok...


Tok...


"Nona... Nona muda. Tolong!! tuan nona... Tuan besar pinsan...!!!" Gedor pengasuh kakek dari luar pintu kamar Muna.


Muna tercekat.


"Kenapa sayang...?"


"Kakek pinsan. Muna liat keadaan kakek dulu yang. Nanti Muna telpon lagi. Assalamualikum." Pamit Muna mengakhiri sambungan interlokal itu.


"Walaikumsallam." Jawab Kevin singkat.


Muna berlari menuju kamar kakek. Setelah mereka dari Indonesia, kakek memang tidak ingin tinggal di rumahnya, memilih berada di apartemen Muna. Yang tentu saja serba kekurangan, dalam artian berbeda jauh dengan istana 7 lantainya.


"Tadi kakek sedang apa?"


"Beliau habis makan, lalu seperti tersedak. Sedikit sesak nafas lalu tidak sadarkan diri." Jawab pengasuhnya.


"Sudah menghubungi dokternya?" tanya Muna.


"Sudah, sekarang sedang dalam perjalanan ke sini nona muda." Muna melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya. Masih menjelang pukul 7 malam.


Muna hanya bisa mengelus jari jemari sang kakek. Tidak tau harus berbuat apa, selain merapalkan doa kesembuhan untuk sang kakek. Mengosok minyak beraroma pedas di indra penciumannya, berharap sang kakek segera sadar.


Dokter yang biasa merawat kakek telah tiba di apartemen Muna. Segera melakukan pemeriksaan dengan cermat. Menjamah dada, denyut nadi, mata, hidung, mulut dan apa saja. Untuk memastikan keadaan kakek Hildimar.


"Apakah belakangan ini kakek ada melakukan kegiatan berat?" tanya dokter pada Muna.


"Apa...? Beliau terbang bahkan tanpa seijinku." Kaget dokter yang juga mengundang keterkejutan dari Muna.


"Maaf... Saya tidak tau jika bepergian kakek harus ijin dengan dokter."


"Bukan ijin. Tapi setidaknya, beliau memberi kabar agar saya siapkan obat-obatan yang harus beliau bawa dan konsumsi. Lalu selama di sana,. Apakah tuan besar menjaga pola makannya?" Pertanyaan itu di tujukan pada sang pengasuh.


"Tidak dokter. Tuan besar menjadi pemakan segala selama di sana. Sebab, beliau bilang, rindu semua dengan makanan dan buah-buahan yang ada di Indonesia."


"Pasti tuan besar sudah melanggar semua makanan yang menjadi pantangannya. Tensi beliau sangat naik dengan drastis." Jawab dokter, sembari memasang alat bantu pernapasan pada kakek, juga memasang infus juga keteter pada kakek.


"Tapi kami sudah sepekan di sini, artinya kelelahan kakek pun sudah berangsur pulih." Bela Muna pada sang kakek.


"Benar nona muda, tetapi. Selama di sini tuan besar keterusan tidak mengkonsumsi obat dan melanggar semua yang di larang oleh dokter. Saya tidak berani menolak perintahnya. Maafkan saya nona muda. Maafkan saya dokter." Pengasuh kakek mengakui kesalahannya.


"Sudahlah... Kita harus segera melakukan pemeriksaan intensif. Melakukan rothgen dan CT scan. Berdoa saja semoga tidak ada pendarahan atau pecah pembuluh darah di saluran otak beliau. Tetapi, segala kemungkinan terburuk juga harus kita pikirkan." Jawab dokter yang sudah menghubungi beberapa asisten perawat untuk segera mengevakuasi kakek ke rumah sakit terlengkap dan canggih di negara itu.


Sekujur tubuh Muna serasa limbung, belum selesai pertarungan batinya antara belajar dan meredakan rindunya. Kini harus di perhadapkan dengan kondisi kakek yang masih dalam keadaan tidak sadar.


"Ya... Allah. Hamba akan menerima apapun yang menjadi ketetapan-Mu terhadapku. Engkau maha pengatur segala. Dokter di atas segala dokter. Ijinkan hamba memilikinya dalam kurun waktu yang lebih lama, namun hamba orang berdosa, yang tak layak meminta. Hanya tetap berbaik sangka, jika semua ujian ini, akan dapat hamba lewati dengan tetap berpegang teguh pada ketetapan-Mu. Amin...Amin ya Robalalamin." Untaian doa Muna di lantai rumah sakit.


Ya... Kini kondisi kakek masih belum sadarkan diri, sementara tekanan darah beliau nampak mulai turun. Sedikit pun Muna tidak berani beranjak jauh meninggalkan sang kakek. Tidak ingin sedetikpun tertinggal akan keadaan terkini.


Kabar kondisi kakek sudah tersampaikan pada mama Rona dan yang lain. Tanpa menunggu matahari terbit. Di tengah malam buta pun, mereka semua bertolak ke Belanda.


Nyak, babe turut serta. Di tambah lagi Kevin yang akhirnya memutuskan untuk ikut terbang ke negeri tulip tersebut.


Muna tertidur dalam posisi duduk. Di tepian ranjang pesakitan kakek Hildimar. Jemarinya dan jemari kakek terpaut menggengam sebuah tasbih,. Tak berhenti melantunkan ayat-ayat suci alquran penyejuk qalbu, penguat iman serta mengantungkan semua harap dan puja puji pada sang khalik.


Pagi kamis telah datang. Muna bimbang ingin meninggalkan kakek sebentar untuk melaksanakan ujian yang tersisa dua hari lagi.


"Kakek... Kapan sadar...? Muna mau ujian, kakek tidak apa-apa Muna tinggal sendiri?" Monolog Muna yang tau, tidak akan mendapatkan jawaban dari bibir yang masih terkatup rapat itu.


Mengusap wajah dan badan itu dengan washlap hangat, memberi kesan segar pada kakek yang masih betah mengembara di dunia tak nyata.


Muna melirik jam tangannya. Menghitung jarak perjalanan yang akan ia tempuh ke kampus. Berharap sempat ikut ujian, walau tanpa persiapan maksimal.


"Nona... Hasil pemeriksaan tuan besar sudah keluar. Dan hasilnya tidak buruk. Cepat atau lambat tuan akan segera sadar. Namun, dalam obat yang kami berikan ada mengandung obat tidur, untuk memaksimalkan tuan bisa beristirahat total. Sehingga, tidak perlu di cemaskan." Tiba-tiba dokter pribadi yang merawat kakek datang dengan kabar baik.


"Alhamdulilah. Artinya... Kakek boleh di tinggal dokter? Saya ada ujian satu jam lagi, titip kakek ya dok." Pamit Muna segera pada dokter itu.


"Siap. Siap nona. Silahkan lanjutkan aktivitas anda. Dan selamat melaksanakan ujian. Sukses untuk anda." Ramah dokter itu pada Muna.


Di balas anggukan dengan antusias oleh Muna.


"Kakek... Ijin ke kampus sebentar ya. Cepat pulih kakekku sayang. Assalamualaikum." Pamit Muna sembari mencium kening kakek oenuh sayang dan hormat.


Bersambung...


Eng...ing... Eng.


Part selanjutnya


Tolong hindari dari jangkauan anak anak yaah🤭


Area rawan banjir keringat🤪