
Selama di perjalanan menuju ruang kelas, Peter lah yang mengarahkan. Tak lama kemudian,mereka berdua sampai di sebuah ruang kelas dengan nuansa putih. Pelajaran dimulai.
“ Baik anak-anak, kompetisi partner terbaik akan dimulai minggu depan. Saya harap kalian sudah memiliki pasangan untuk itu. Seperti biasa, bagi yang menjadi juara maka akan mendapatkan tiga hewan sihir terlangka.” Terang seorang guru dengan tampang antusias.
Hewan sihir? Aku tidak tertarik sama sekali.
Agatha terus mendengarkan penjelasan dari sang guru dengan malas. Ia bertopang dagu dengan mata yang hampir menutup.
“ Kalian dipulangkan lebih awal karena para guru akan menghadiri upacara pengangkatan murid sihir.” Ujar si guru yang kemudian berlenggang pergi.
Itu berarti Louis juga ikut.
***
“ Senior Lucius.” Agatha berseru pada seorang lelaki yang kebetulan lewat di depannya dengan wajah berseri. Di Esperandto, semua gelar kebangsawanan disamaratakan, atau dengan kata lain semua murid memiliki hak yang sama. Meski masih ada beberapa murid yang tetap menyapa dengan disertai gelar kebangsawanan.
Agatha berlari kecil ke arah Lucius yang menatapnya datar. Entah itu tatapan keberuntungan atau sebaliknya. Yang jelas dia akan memanfaatkan kesempatan bertemu dengan baik.
.“ Katakan ada apa?” Lucius terlihat sibuk dengan kertas di tangannya.
“ Sore nanti, apakah Anda punya waktu?”
Lucius menghentikan kegiatannya meneliti tiap kertas dan lebih memilih untuk berfokus pada Agatha.
“ Hmm.”
“ Hmm? Ada atau tidak?”
“Ada.”
“ Oke baguslah. Nanti sore bisakah Anda bertemu dengan Saya di taman kota? Ada sesuatu yang ingin saya katakan.”Wajah Agatha masih tetap berseri. Mengingat rencannya akan berjalan mulus.
Lucius semakin mengernyitkkan dahinya. Meski begitu, ia nampak memberikan anggukan kecil yang membuat Agatha semakin sumringah.
“ Terima kasih senior, tolong temui aku di nomor 9.” Ujar Agatha.
Sementara itu, Peter berlajan kesana kemari mencari Agatha. Tak lama, pandangannya terpaku pada seorang gadis dengan rambut merah sedang berbincang dengan seorang lelaki “ Agatha, ayo pulang.”Pekiknya
“ Oke.” Agatha menggangguk cepat.
Lucius kembali menatap heran kearah Agatha dan anak lelaki yang berada di sebelahnya.
***
Kediaman Carrol,
Agatha sudah bersiap dengan gaun berwarna hijau gelap dan mengenakan baret berwarna biru. Ia akan keluar dan berniat menaiki kereta kuda.
“Kemana kau?” Louis mendadak muncul tepat di depan pintu kereta kuda itu sebelum Agatha sempat memasukinya.
Agatha terlihat cuek dengan kakaknya itu.“ Ke taman kota.”Balas gadis itu seadanya.
“ Aku ikut.”
“ Tidak boleh.”
“ Kenapa?”Louis mengerutkan alisnya.
Agatha mengehela nafas ringan.“ Karena kau akan mengacaukan segalanya kalau ikut”
“ Minggir kak.” Dengan tak berperasaan Agatha mendorong tubuh Louis untuk menyingkir dari pintu kereta kuda. Untung saja Louis mampu mengimbangi tubuhnya.
“ Pak kusir cepat jalan.” Perintah Agatha dengan wajah datar.
***
Tanpa Agatha sadari, Louis mengikutinya. Ia membalut dirinya dengan sebuah jubah sihir berwarna putih agar tidak terlihat oleh pandangan mata. Louis juga menaburi dirinya dengan ramuan cemara agar aroma tubuhnya dapat tersamarkan. Hal itu ia lakukan untuk mengantisipasi keberadaan penyihir lain di tempat itu.
Sementara itu, Agatha turun dari kereta kuda dan menuju tempat khusus nomer 9 seperti janjinya pada Lucius.
Namun sungguh tak disangka,Lucius sudah ada disana dengan dua gelas teh yang diletakkan di meja kaca bundar. Agatha menjadi sedikit gugup. Pikiran buruk terus berkecamuk di dalam otaknya karena adegan seperti jelas sudah melenceng dari novel.
Sebelum menghampiri Lucius, Agatha menghembuskan nafas berat. Lalu kaki nya baru mulai melangkah ke arah Lucius.
“ Salam Yang Mulia.” Agatha membungkuk memberi hormat.
Lucius hanya mengangguk untuk menanggapi. Tanpa ragu, Agatha duduk berhadapan dengan Lucius. Suasana begitu mencekam bagi Agatha.
Langsung saja intinya deh gausah basa basi. Pikir Agatha.
“ Yang Mulia, saya hanya ingin membicarakan tentang pertunangan kita.” Agatha mengawali pembicaraan.
Mendengar itu pandangan Lucius mulai menajam.
“ Sa-Saya ingin membatalkan pertunangan kita.”Agatha mengatakan itu dengan lancar sembari menutup mata. Takut akan ekspresi mengerikan dari Lucius.
Jujur saja, Lucius terkejut setengah mati dengan perkataan Agatha barusan. Namun ia tetap mempertahankan ekspresi datarnya.“ Aku menolaknya.”Lontar kemudian.
Agatha terkesiap. “ Kenapa? Bukankah Anda juga menginginkan hal yang sama?”
“ Tau darimana kau kalau aku menginginkan hal itu?”
“ Karena Anda selalu terlihat risih jika berada di sebelah Saya, di sekolah Anda terkadang mengabaikan Saya, Anda memang terkadang membalas perkataan Saya, namum hanya balasan yang begitu singkat. Anda juga membuang hadiah dari Saya tepat di depan mata Saya. Maka dari itu, Saya dapat simpulkan bahwa Anda membenci Saya dan ingin lepas dari ikatan pertunangan.” Terang Agatha. Hampir saja ia terbawa suasana.
Semoga saja Lucius tidak marah dengan perkataanku.
Alis Lucius terangkat. Ia mengulurkan tangan nya dan mengelus rambut Agatha. “ Dasar bodoh, bagaimana bisa kau berpikir aku membencimu. Aku hanya tidak terbiasa, kau tau?”
“ Tidak terbiasa?”
Lucius menarik tangannya dari rambut Agatha.“ Aku sedikit malu mengakuinya tetapi sejak kecil aku tidak pernah bertemu seorang perempuan, bahkan ibuku sendiri. Dan juga pelayan yang melayani ku adalah seorang lelaki. Namun, setelah usiaku sepuluh tahun, aku mulai diperkenalkan dengan banyak gadis termasuk kau. Dan kupikir semua gadis itu mengerikan. Karena akan melakukan apapun demi bisa berdansa denganku.” Terang Lucius dengan wajah memerah karena malu.
Dia mampu berbicara sepanjang itu? apa pipinya tidak keram?
“ Ka-kalau begitu kita masih tunangan kan?”
Lucius menggangguk. “ Tentu saja.”
“ Yang Mulia,maaf saya lancang, tapi apakah boleh Anda berjanji pada Saya bahwa Anda tidak akan melirik gadis lain selain saya?” Agatha menunduk sembari memainkan kelima jarinya.
“ Baiklah asalkan kau kurangi sedikit sikap kasarmu.” Ujar Lucius dengan senyuman samar hingga tak terlihat. Agatha hanya menggangguk.
Walau kau berjanji pun, aku masih tetap khawatir. Bagaimana jika tiba-tiba Sheila muncul dan membuat hatimu goyah. Aku takut kau menjatuhkanku hingga ke dasar dan membuat keluarga Carrol malu.
“ Ternyata ini alasan Aga tidak mengizinkanku ikut.” Louis berdecak sebal.
***
...(Louis Cato de Carrol)...
...(Kakak Agatha)...
Happy Reading😘
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘