Menjadi Antagonis Novel

Menjadi Antagonis Novel
Episode 39


Suasana sore yang tentram, burung-burung bertengger di dahan pohon tanpa berkicau. Hawa dingin menyapu permukaan. Sebuah kereta kuda yang membawa Agatha menerobos keramaian penduduk yang tengah melakukan pekerjaan mereka.


Kereta kuda itu terhenti di sebuah restoran mewah tiga lantai. Agatha turun, Ia mengenakan gaun berwarna pastel tanpa lengan dan kalung dengan berlian safir yang senada dengan manik matanya.


Ia melangkah masuk ke dalam restoran itu. Sepertinya, tempat itu sudah dipesan seluruh nya karena di dalam sama sekali tak ada pelanggan dan hanya ada seorang lelaki disertai dua pengawal tengah duduk dengan tenang. Lucius duduk di kursi dengan meja panjang di depannya.


"Yang Mulia. Saya pergi ke istana dan Anda tidak ada di sana." Seorang gadis dengan rambut terurai dan gaun tanpa lengan berwarna pastel mendului Agatha. Ia segera duduk bersebrangan dengan Lucius.


Agatha tak mengenali gadis itu karena posisinya membelakangi. Tanpa basa-basi Agatha menghampiri Lucius. "Salam Yang Mulia." Seru Agatha dengan membungkukan badan.


Lucius mengangguk dan gadis yang berlagak akrab dengan Lucius pun langsung membalikan badan. Membuat Agatha terkejut, "Kau...Sheila??" Lontarnya bercampur pertanyaan.


Gadis bernama Sheila itu mengangguk dengan anggun. "Ya benar , Nona." Timpalnya.


Agatha berpikir. Bagaimana bisa dalam beberapa tahun , tampilan Sheila berubah pesat. Bahkan ia lebih terlihat seperti bangsawan dari kalangan atas. Tapi....Tunggu sebentar! Agatha membelakan matanya. Gaun yang mereka kenakan memiliki warna yang sama. Sungguh kebetulan yang aneh.


"Apakah Anda ingin menghabiskan pekan ini bersama Saya atau Sheila?" Agatha bertanya sedikit ketus. Sebenarnya yang dikirimi surat hanya dirinya atau Sheila juga. Gadis itu tak suka jika Sheila ikut menyempil diantara ia dan Lucius. Ya benar! dimata Agatha, Sheila sudah terlanjur dianggap benalu. Benalu hidup yang mengganggu ketenangan dirinya.


Lucius menghela nafas. "Aku hanya mengundangmu. Tapi entah mengapa orang lain ikut ke sini." Tutur Lucius yang membuat Agatha lega.


"Yang Mulia bisakah kita berdua saja dan bisakah Anda meminta orang yang tidak diundang ini untuk pergi?" Tekan Agatha sembari melirik ke arah Sheila. Agatha bahkan belum duduk, sementara Sheila dengan santainya duduk berhadapan dengan Lucius yang notabene nya sangat tak sopan. Karena kedudukan Agatha sebagai bangsawan jauh diatas Sheila.


"Nona , Anda tega sekali. Sheila hanya ingin bergabung bersama Yang Mulia." Gadis dengan surai putih keemasaan itu sedih dan hampir menangis. Agatha mengerutkan alisnya karena menyadari sesuatu. Ternyata Sheila sudah mulai belajar etika dasar dengan menyebut Lucius sebagai 'Yang Mulia' dan bukan 'Tuan' lagi.


"Atas dasar apa kau meminta Lucius untuk mengusir Sheila." Sebuah suara datang dari arah pintu. Sontak, semua perhatian teralih ke arah orang itu. Seorang pria paruh baya dengan mahkota yang bertengger kepalanya dan jaket tebal di pundak itu masuk disertai dua pengawal.


"Salam Yang Mulia Raja." Agatha membungkuk terpaksa. Hanya untuk memenuhi tatanan etiket.


"Salam juga Putri Carrol." Balas Sang Raja. "Dengar Putri Carrol, Aku sendiri yang meminta Sheila untuk kemari. Jadi mohon tidak mengusir seenaknya." Ujar Sang Raja dengan sorot mata tajam.


Agatha menyadari tatapan itu. Aura kebencian yang dikeluarkan begitu kuat hingga membuat bulu kuduknya berdiri. "Saya tidak berani Yang Mulia. Saya berkata demikian karena berpikir bahwa Sheila kemari atas kehendaknya sendiri sebab Yang Mulia Putra Mahkota tidak mengundangnya." Timpal Agatha dengan menunduk. Ia tak mengatakan kata maaf sedikitpun, karena bagi Agatha tindakan nya tadi sudah cukup benar. Lagi, Agatha sudah tau niat busuk raja.


"Putri Carrol kau memang pintar mengelak seperti ayahmu." Ujar Raja disertai gelak tawa.


"Kalau begitu kalian cepat pesan dan nikmatilah hidang kali ini." Sambungnya.


Agatha hanya mengangguk dan mengambil kursi di dekat Lucius. Terlihat Sheila iri dengan nya. Gadis itu menggertakan gigi. Ingin melemparkan sebuah protes. Namun sebelum itu, Sheila melirik ke arah Raja dan bermain kode mata. Sang Raja memberi sinyal agar Sheila tetap berada di kursinya dan tak berpindah. Gadis itu kemudian hanya menghela nafas.


Mereka akhirnya makan hidangan pembuka.


"Apa kalian dengar, seorang pangeran daerah Rhodes mencoba untuk memberontak dan melengserkan kedudukan putra mahkotanya. Rumornya, ia gugur dan tewas dalam perang, kau dengar itu Putri Carrol?" Raja mulai menebarkan umpan, berharap Agatha terpancing. Raja mengetahui kedekatan Steven dan Agatha karena Sheila yang memberitahu.


Agatha terdiam sesaat. Ia meletakan garpu dan sendoknya. "Benarkah Yang Mulia? Saya tidak terlalu percaya pada rumor dan saya yakin Yang Mulia Raja pasti tidak menyukai rumor juga."Sahutnya dengan hati-hati disertai senyuman.


Tapi Raja berkata bahwa Steven memberontak dan bukan memperebutkam wilayah? Pikir Agatha dalam hati.


Raja terlihat memandang kesal ke arah Agatha. "Hahaha Putri Carrol kau benar sekali, aku hanya membahas ini karena banyak sekali yang membicarakannya."Balas sang Raja dengan tawa canggung.


Mereka akhirnya makan tanpa percakapan yang terselip.


"Yang Mulia Raja, Saya sangat berterima kasih karena telah mendapatkan kehormatan dengan satu meja dengan Anda. Saya ingin berlama-lama di sini, namun ada sesuatu yang harus saya lakukan." Agatha mulai berdiri dan melanjutkan. "Saya izin pamit Yang Mulia. Salam." Lontarnya dan mendapatkan anggukan kecil dari Raja. Rupanya sang raja tidak bisa memendam kekesalannya, terbukti dengan tatapan mata.


Agatha kemudian berlalu meninggalkan restoran itu.


"Huh pengap banget hawa di sana." Gumam nya kecil.


"Nona Agatha! " Pekik salah seorang lelaki dari belakang. Agatha menyelingak. Menyipitkan mata ke arah lelaki berpenampilan misterius dengan pakaian hitam dan topi hitam. Ia tak merasa tak pernah mengenal lelaki itu.


"Nona aku tau kau tak mengenalku. Tapi ada hal penting yang harus aku bicarakan."


Agatha mengerutkan alisnya mendengar lelaki itu berbicara dengan serius. "Ya. Katakan." Balasnya yang penasaran.


"Kau kenal Tuan Steven bukan? Dia sudah tiada! Jangan tanyakan kenapa aku mengetahui ini. Tuan sendiri yang meminta untuk menemuimu dan memberikan ini sebelum tuan tiada." Ujar lelaki misterius itu sembari menyodorkan sebuah kalung merah ruby yang terukir sebuah huruf A.


"Kau berbohong. Apa Raja Korintus telah membayarmu untuk ini?"


Agatha mengernyit"Tapi itu tidak mungkin! Karena tadi pagi aku menerima sur--" Ucapannya terpotong.


"Saya! Saya yang menulis surat itu atas perintah Tuan Steven.!" Ujarnya memotong kalimat Agatha.


"Kau berbohong! Aku tidak percaya!"


"Gadis kecil kau kau sangat keras kepala." Orang misterius itu mengatakan kalimat yang sangat akrab. Membuat Agatha membelalakan matanya. "Dari mana kau mengetahui kalimat itu?" Tanya Agatha sembari mencengkram kuat baju si lelaki misterius.


"T-Tuan Steven yang memberitahu saya untuk mengatakannya jika Nona tidak percaya bahwa beliau telah tiada dari dunia ini." Balas lelaki berpakaian serba hitam itu.


"I-itu tidak mungkin!!" Agatha tercengang.


"Itu kenyataannya Nona. Maafkan saya karena selama ini saya telah mengikuti Anda. Saya ingin memberitahu Anda tentang ini, namun Saya tak punya keberanian." Balasnya dengan wajah tertunduk sedih.


"Kau berbohong! Kau pasti berbohong." Ketus Agatha. Ia segera pulang naik kereta kuda dan meminta sang kusir untuk segera membawa nya ke kediaman.


***


Sesampai nya di kediaman Carrol, Agatha berlari ke kamar dengan cepat seperti diburu oleh sesuatu. Gadis itu membuka kembali surat yang tadi siang Steven berikan. Ia membaca nya dengan seksama.


"Lucy! Lucy!" Pekik Agatha dengan nada suara panik.


"Ya Nona." Gadis bermabur keriting itu segera hadir dengan gugup.


"Dimana kau menyimpan surat lainnya dari Steven?"


"Saya menyimpan itu di dalam nakas , Nona." Balas Lucy dengan kepala tertunduk.


Sontak, Agatha dengan tergesa menghampiri nakas dan membuka. Ia mengobrak-abrik isi nya dan mengambil semua surat Steven. Gadis itu kemudian membandingkan tulisan tangan antara surat yang itu dan surat lainnya.


"Tidak! Ini tidak mungkin." Suara Agatha bergetar setelah meneliti , ternyata kedua surat itu memiliki tulisan yang sangat berbeda. Itu berarti ucapan dari lelaki misterius tadi benar adanya. Bagaimana bisa Agatha tidak menyadari itu tadi. Agatha bingung harus berbuat apa. Keadaan seakan sangat tenang, begitu tenang sampai suara angin berdengung di telinganya.


"Ada apa , Nona?" Lucy memberanikan diri untuk bertanya setelah melihat wajah Agatha yang begitu syok.


"Lucy, apa kau dengar kabar bahwa Pangeran Rhodes telah tiada?"


"Iya Nona. Tapi itu baru rumor. Menurut rumor itu, mayat dari Pangeran dari Rhodes disembunyikan karena dianggap sebagai penghianat yang telah memberontak." Terang Lucy. Lucy adalah sumber infomasi.


"Penghianat?"


Lucy mengangguk. Sementara Agatha terduduk di ranjang dan memijit pelipis kepalanya. Ia menyesal kenapa dulu dirinya tidak bertanya untuk apa Steven mengikuti perang. Agatha juga menyesal kenapa dia tidak mengindahkan kehadiran Steven dan justru berharap bahwa Steven segera menyingkir dari hidupnya.


Sekarang setelah semuanya terwujud, kenapa malah dia tidak senang.


"Lucy, jika ada dua pilihan antara kau mengejar orang yang tidak menginginkanmu dan berjuang untuk mendapatkan hatinya atau menerima orang lain yang sangat menyukaimu dengan sepenuh hati." Agatha bertanya dengan frustasi.


"Nona, saya akan menerima orang yang menyukai saya dengan sepenuh hati. Karena sulit untuk menemukan yang seperti itu. Tapi, itu hanya pendapat saya, nona bebas menentukan pilihan." Balas Lucy dengan hati-hati. Ia tau bahwa pertanyaan Nona nya barusan bersangkutan dengan situasi yang dialami sang Nona.


"Baiklah , sekarang katakan padaku, berita bahwa Pangeran dari daerah Rhodes telah tiada itu hanya rumor dan belum terbukti. Benar kan?" Tanya Agatha dengan mata tajam. Lucy mengangguk. "Benar , Nona." Balasnya kemudian.


"Baiklah kalau begitu aku akan minta duke untuk mengizinkanku pergi ke Rhodes."


"Ta-tapi Nona."


Agatha tak menghiraukan ucapan Lucy. Itu terus berjalan menelusuri ruang Duke.


***


Happy Reading 😘


***


Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), follow author ANWi dan tambah favorit ya. Terima kasih😘