
Hari sudah semakin larut dan tubuh Agatha sudah sangat lelah. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk langsung pulang.
***
“ Yang Mulia ampuni Saya!Saya tidak bersalah” Agatha bersimpuh tak berdaya di hadapan seorang lelaki yang tak lain adalah Lucius. Sihir kegelapannya sudah mulai menggerogoti setiap bagian sel tubuhnya, hingga gadis itu benar-benar merasa tak berdaya. Namun anehnya, gadis itu sama sekali tidak berniat untuk menangis.
“ Nona Carrol, berdasarkan hasil penyelidikan Saya, Anda dinyatakan bersalah karena melakukan percobaan pembunuhan terhadap Putri Mahkota Sheila.” Tegas Peter dengan membawa beberapa buku catatannya.
Lucius menendang wajah Agatha di depan seluruh orang-orang yang menatap dingin ke arah gadis itu. Wajah cantik milik Agatha berubah pucat dengan luka lecet. Meski begitu, Ia masih tidak menitikan air mata sedikit pun.
“ Eksekusi semua yang terlibat!termasuk anggota keluarganya!” titah Lucius dengan nada tak beperasaan.
Sontak saja, kesatria algojo kerajaan muncul dan memaksa Agatha untuk ikut dengan mereka. Agatha berusaha memberontak, namun hasilnya nihil. Tubuhnya terus terseret di lantai dingin kerajaan. Pandangan gadis itu sempat terpaku pada pelayan setianya,Lucy. Namun, gadis itu tak peduli, nyawanya jauh lebih penting.
Di panggung eksekusi, Agatha tidak langsung di tebas melainkan rambutnya dipotong dengan asal untuk merendahkan martabatnya. Setelah itu kepala gadis itu ditutup kain hitam dengan algojo berkapak di depannya.
“ Tidakkk” Agatha terbangun dengan nafas saling memburu. Keringatnya mengucur hebat tak keruan dan kepalanya pusing bukan main.
“ Nona ada apa?” Lucy berlari kecil menghampiri Agatha dengan wajah cemas karena Agatha berteriak di pagi hari.
“ Itu....tidak, hanya memimpikan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.” Agatha memegangi kepalanya yang terasa sakit sembari sesekali meringis.
“ Nona perlukah Saya membuat teh hangat untuk Anda?”
“ Tidak usah. Siapkan air hangat saja, aku mau mandi!” Agatha memerintah. Lucy segera melaksanakan perintah.
“ Kenapa harus mimpi itu sih.” Gumam gadis itu. sebenarnya isi dari mimpi Agatha hanya lah bayangan imajinasi yang di buat oleh otaknya. Karena sangat tidak mungkin dia memimpikan kejadian empat tahun ke depan, ditambah lagi Peter di mimpinya sudah besar, sedangkan Agatha tidak mengetahui bagaimana rupa Peter saat dewasa. Yang dia tau dari novel, Peter menutup sebelah matanya karena sebuah insiden ketika dewasa nanti.
“ Ya sudahlah, tidak usah dipikirkan.” Ia beranjak dari kasur dan mulai melakukan peregangan otot untuk menghilangkan sedikit rasa sakit di kepalanya.
“ Nona, air nya sudah saya siapkan.” Lucy memberi laporan.
“ Baiklah.”
***
Agatha kini tengah duduk dengan damai di kursi santai miliknya sembari memejamkan mata untuk merilekskan pikiran. Ia masih teringat mimpi nya pagi itu, mimpinya terasa begitu nyata. Tidak! Bahkan mimpi itu lebih seperti sebuah ingatan. Tapi itu mustahil kan.
“ Non—”
“ Lucy, aku hanya ingin sendiri dulu.” Ujar Agatha dengan mempertahankan matanya yang terpejam. Ia sama sekali tak ingin di ganggu saat ini. Lagipula sekarang hari libur sekolah.
“ Ta-tapi Nona, orang aneh yang kemarin datang ke rumah kita. Dan bukan hanya itu, dia juga membawa banyak hadiah,Nona” Lucy berkata gugup.
Gadis berambut merah itu berdecak. “ Suruh pulang!” Perintahnya tak terelakan.
“ Baik Nona.” Lucy lantas menuruti perintah Agatha.
Steven yang sejak kemarin meminta bawahannya untuk mengintai Agatha, dibuat terkejut. Pasalnya, ia mengetahui fakta bahwa Agatha adalah salah satu anak dari Duke Carrol yang terkenal dengan kekuatan militernya. Pantas saja saat Steven mengiming-imingi Agatha dengan sebuah kekayaan, gadis itu berkata sudah memiliki semua yang dia mau.
Bukan hanya fakta itu yang membuat nya terkejut, namun fakta bahwa Agatha adalah putri bungsu Duke Carrol. Dimana anak terakhir berambut merah dengan manik biru yang mewarisi kesadisan sang Duke dan terkenal dengan reputasi dan rumor buruk.
Dirinya yakin bahwa gadis itu pasti sudah ditunangkan, hal itu terbukti saat Agatha berkata bahwa dirinya sudah memiliki kekasih.Namun Steven tetap ingin menjadikan Agatha sebagai kekasihnya, selama pertunangan Agatha belum diumumkan secara resmi di kekaisaran. Hal itu terbukti sekarang. Kini, dirinya tengah duduk di ruang tamu dan mendapat tatapan aneh dari para pelayan yang ada disana.
“ Maaf Tuan, Nona kami sedang tidak ingin diganggu.” Lucy berkata pada Steven dengan tidak enak hati setelah melihat hadiah yang dibawa oleh Steven.
“ Kalau begitu panggilkan Duke Carrol, aku ingin membicarakan sesuatu.”
“ Maaf Tuan, tetapi Tuan Duke sudah pergi karena ada sebuah urusan mendesak.” Lucy kembali meminta maaf.
Steven berdecih, raut wajahnya terlihat tidak senang. dia sudah membuat banyak persiapan untuk si gadis kecil , namun akan sia-sia jika begini.
“ Kalau begitu aku sendiri saja yang akan menemui Nonamu!” Steven beranjak dari tempat duduknya.
“ Mohon maaf, tuan tidak bisa melakukan hal itu karena sangat menentang norma kesopanan bangsawan.”Ujar Lucy. Ia mengetahui hal itu, karena sebelum dirinya resmi bekerja di kediaman duke, Lucy haruslah mengikuti sebuah pelatihan tatakrama dalam bersikap.
“ Cih. Kapan Duke Carrol pulang?” Steven bertanya sembari menyibakan rambutnya ke belakang dan membuat pelayan-pelayan wanita yang sejak tadi memperhatikannya terkagum-kagum.
“ Saya tidak tau pastinya,Tuan. Duke akan pulang saat semua urusannya selesai.” Balas Lucy menunduk.
“ Kapan Nona mu keluar?”
“ Sa-Saya juga tidak tau.”
“ Kalau begitu, aku akan menunggu disini sampai Nona mu keluar.”
“ Wah- wah siapa ini? Sangat berisik!”Louis yang sejak tadi memperhatikan, sekarang ikut ambil bagian.
“ Dilihat dari penapilanmu, kau ini bukan orang Korintus ya. Jarang sekali, orang Korintus memiliki rambut seperti mu.” Louis meneliti tubuh Steven dari atas hingga bawah. “ Kalau tidak salah, hanya daerah Rhodes yang memiliki rambut dan manik hijau.” Ujar Louis mengambil kesimpulan.
“ Aku tidak butuh kesimpulan darimu, aku hanya ingin Nonamu.”
“ Nona? Jadi kau pikir aku bawahan?” Kesal Louis. Dirinya terlalu malas meladeni orang ini hingga ia memutuskan untuk pergi menggunakan sihir.
“ Tuan, Putra Mahkota Lucius sudah membalas suratnya dan ingin bertemu dengan Anda.”Wim, bawahan Steven mendatangi Steven dengan berbisik. Steven memang ke daerah Korintus bukan tanpa alasan, namun karena sebuah urusan.
“ Oh! Sepertinya aku harus menunda bertemu gadis kecil itu dan mengurus pertemuan dengan sahabat lamaku Lucius .” Gumam Steven. Ia langsung meninggalkan kediaman Duke, Steven akhirnya membagikan hadiah yang dibawanya kepada para pelayan wanita yang terpesona dengan dirinya. Ia berencana untuk membelikan sesuatu yang baru untuk Agatha.
***
Happy Reading😘
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘