
Kediaman Duke Carrol,
Petang,
Agatha bergegas turun dari kereta kuda dan berencana untuk segera meminta bantuan Louis. Tidak, tidak, gadis itu yakin Louis pasti tidak akan membantunya. Tapi bagaimanapun, Agatha harus tetap memaksa Louis untuk membantunya.
Agatha berjalan menuju kamar Louis dan tanpa basa-basi mengetuknya. Namun sudah tiga kali diketuk, si pemilik kamar tak kunjung keluar. Alhasil, Agatha memilih untuk bertanya pada pelayan wanita yang tengah menyapu lantai dekat kamar Louis.
"Hei, kau tau dimana Tuan Muda Louis?" Agatha bertanya.
Pelayan itu menunduk dan nampak berpikir sejenak. "Biasanya Tuan Muda pergi ke menara Carrol untuk melatih sihirnya." Balas wanita pelayan dengan posisi kepala yang masih tertunduk dan tangan yang memegang sapu erat.
"Baiklah." Agatha segera melangkahkan kakinya menuju menara Carrol. Hari ini dia harus mendapatkan semua kebenaran tentang Adelin, agar perasaan mengganjal yang terus ada di hati dapat terselesaikan.
Gadis berambut merah itu berjalan cepat menuju menara yang berjarak kurang lebih tujuh meter dari kediaman utama Carrol. Hawa dingin terus menyengat kulit. Apalagi, saat ini gaun yang dikenakan Agatha adalah gaun terbuka yang memperlihatkan bahunya.
Beberapa saat kemudian, gadis itu telah berhasil sampai di depan menara. Bangunan yang bahan utamanya batu itu tampak sepi dengan sinar remang lentera. Bahakan terlihat hanya ada seorang pengawal yang berjaga di luar.
"Permisi, apakah Tuan Muda mu ada disini?" Ujar Agatha yang langsung mendekati pengawal itu.
"Iya Nona." Sahut pengawal itu.
" Kalau begitu antarkan aku menemui Louis." Pengawal itu mengangguk. Agatha masuk ke dalam menara itu, tak disangka di dalam nya jauh lebih gelap dengan hanya di terangi oleh cahaya obor.
Beberapa saat kemudian ia memasuki sebuah ruangan yang ditunjukan oleh pengawal. Disana terlihat seorang anak lelaki berambut pirang tengah sibuk membolak balikan sebuah buku tua. Raut wajahnya sangat serius.
"Ada perlu apa kau datang kesini?" Ujar Louis yang menyadari kehadiran Agatha.
"Kak aku butuh bantuanmu. Aku ingin kau menghancurkan sihir penyegel ingatan yang ada di dalam diriku."Pinta Agatha langsung.
Mata Louis membelalak sempurna. Ia berpikir bagaimana Agatha bisa mengetahui tentang itu. "Apa kau bercanda? Ingatan macam apa yang akan disegel dari dirimu? Kau kan hanya anak manja." Elaknya dengan tetap menatap ke buku tua miliknya.
Agatha segera menghampiri Louis dan menutup buku yang telah menjadi perhatian Louis sejak tadi.
"Kak tolong lah! Aku harus mengetahui seseatu tentang Adelin. "
"Bagaimana kau bisa tau nama itu?" Louis mengangkat alisnya.
"Rahasia.Kumohon kak, setelah kakak membantuku. Sebagai gantinya aku akan menuruti semua keinginan mu selama sebulan penuh." Agatha berusaha bernegoisasi.
Louis terlihat berpikir. Dirinya mungkin tidak diperbolehkan mengungkap sosok Adelin dan juga masa lalu dari Agatha. Namun, tidak akan ada masalah jika Duke tidak mengetahuinya.
"Baiklah aku setuju."
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Berbaringlah di ranjang itu." Perintah Louis. Tanpa ragu , Agatha menuruti. Lelaki itu segera menyusul Agatha dan duduk di tepi ranjang. Ia memeriksa denyut Agatha dan kemudian membacakan beberapa mantra.
Seketika seluruh tubuh Agatha rasanya sangat sakit. Jiwanya seperti terpisah dari raganya. Ia terus meringis kesakitan, hingga gadis itu menyadari bahwa dirinya telah berada di suatu tempat lain.
Agatha melihat dirinya yang masih kecil terbaring lemah di kasur dengan mata sedikit terbuka.
Ini...jangan bilang Louis bukan hanya ingin membuka sihir penyegel itu. Tapi, Louis juga berencana memberitahu ku kejadian dimasa lalu. Pikir Agatha.
Gadis itu memutuskan untuk hanya menyimak kejadian itu.
***
"Apa kau sudah tau yang telah meracuni anakku."Tanya Duke Carrol penuh penekanan.
"Sudah Tuan, orang itu adalah seorang penyihir kegelapan yang tinggal di hutan. Dia merupakan salah satu musuh kita."
"Segela panggil para penyihir ataupun kesatria dan penggal orang itu!"Titahnya tak terelakan.
"Baik Tuan."
"Bagaimana aku bisa menyembuhkannya? Dia itu cukup berguna untuk keluarga ini."
"Hanya dengan melakukan upacara penukaran kematian. Namun sayangnya upacara ini hanya bisa dilakukan oleh saudara yang sedarah."
Duke terlihat muram dan bingung. "Apa tidak ada cara lain."
"Racun sihir kegelapan yang diberikan itu begitu kuat, Tuan. Jika Nona Agatha hanya memakan setetes maka seluruh tubuhnya akan kaku. Namun, sepertinya Nona telah mengonsumsi beberapa tetes yang artinya seluruh sel nya akan mati jika tidak diselamatkan dalam beberapa jam. Mungkin sekarang Nona masih bisa mendengar kita, namun itu tak akan bertahan lama."
"Huh." Duke benar-benar menggila. Ia ingin menyelamatkan Agatha tetapi tak ingin mengorbankan salah satu anak nya.
Seorang gadis kecil tak sengaja mendengar percakapan dua orang pria itu dari balik pintu. Ia menangis tertahan. Gadis itu merasa bersalah. Tadinya ia hanya berniat untuk memberikan secangkir teh pada ayahnya atas permintaan Viscountess Margaret, tapi dia malah mendengar semua ini. Ia kemudian berlari ke arah yang tak menentu.
Tak sengaja, Ia menabrak seorang wanita dengan rambut pirang dan topi merah. Wanita itu adalah Viscountess Margaret. Tubuh gadis itu terjatuh beserta teh yang dibawanya.
"Bagaimana kau sudah memberikan teh untuk ayahmu heh?" Margaret tersenyum licik. Ia berjongkok menjajarkan tingginya dengan gadis kecil itu.
"Saudara perempuan mu itu akan mati loh. Kan gara-gara kau yang tidak melarang Agatha pergi ke tempat itu dan membiarkan Agatha memakan buah itu. Adelin kau lah yang bersalah!" Bisik Margaret penuh manipulatif.
Gadis kecil bernama Adelin itu menegang ketakutan. Dalam pikiran nya ia terus berandai-andai. Andai saja dirinya melarang Agatha pergi ke tempat itu. Andai saja dirinya yang memakan buah itu dan bukan Agatha. Air matanya menetes tanpa sadar.
Melihat itu Margaret begitu senang. Wanita itu sangat membenci keluarga Duke yang bahagia. Hati nya selalu merasa begitu iri dan dengki melihat senyum yang tercetak di keluarga Duke. Margaret mungkin saja tak terlibat dalam masalah ini, namun wanita itu selalu memiliki celah untuk menghapus senyum bahagia milik keluarga Duke.
"Adelin sayang, kau tau kan apa yang harus kau lakukan." Ujar Viscountess Margaret sembari menyeka rambut gadis itu. Ia sudah tau cara menyembuhkan seseorang dari sihir kegelapan karena wanita itu pernah meempelajarinya dari buku. Caranya hanyalah dengan penukaran kematian.
Gadis kecil yang tak tau apa-apa itu hanya bisa menangis.
"Selamatkan saudaramu! Karena kau yang bersalah!" Margaret terus-terusan menghasut Adelin hingga kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala gadis itu.
"Waktu terus berjalan sayang. Jangan menyesal." Itulah kalimat terakhir yang dikatakan Margaret sembari mengusap sekilas puncak rambut Adelin.
Hingga beberapa jam kemudian, Adelin segera menemui Duke dan memaksa untuk menukar kematian Agatha dengan dirinya. Duke menolak, karena biar bagaimanapun pun Adelin tetaplah anaknya. Namun, gadis kecil itu terus bersikeras dan ia juga memaksa duke agar berjanji untuk tidak memberitahu Agatha tentang semua ini.
Alhasil upacara penukaran kematian itu dilakukan. Jiwa Adelin lah yang terserap oleh sihir kegelapan itu dan Agatha selamat. Duke pun menepati janjinya dengan menghilangkan semua infomasi yang berhubungan dengan Adelin. Kemudian menyegel ingatan Agatha dan melarang seluruh kediaman untuk menyebut nama Adelin lagi, ataupun menyebutkan ciri-ciri Adelin karena itu semua akan memacu ingatan Agatha.
***
Jiwa Agatha kembali terseret dengan paksa ke dalam tubuhnya yang sekarang. Nafas Agatha terus beradu saat gadis itu tersadar. Keringat dingin bermunculan di sekujur tubuhnya.
"K-kak i-itu." Gadis itu berusaha menyampaikan sesuatu dengan nafas tersengal-sengal.
"Katakan apa yang kau lihat?"
"Adelin, Adelin itu saudara kembarku kan. Dia mati menggantikanku." Hatinya berdenyut. Tanpa sadar ia meneteskan cairan bening. Dan itulah kali pertama Agatha mengeluarkan air matanya.
Namun itu hanya berlangsung sesaat karena tiba-tiba ia teringat buku yang ia temukan di perpustakaan. Dalam buku itu dikatakan keturunan Carrol ke VI akan memiliki sepasang anak kembar, dimana yang satu diramalkan akan membawa pada sebuah keberuntungan besar dan satu lagi diramalkan akan menghancurkan keturunan Carrol.
Dan yang seharusnya yang masih hidup adalah Adelin! Karena di dalam novel diceritakan seluruh keturunan Carrol akan dieksekusi akibat kesalahan Agatha. Berarti alur hidup Agatha sudah digariskan akan menghancurkan keturunan Carrol, sudah sejak lama. Bahkan saat ia belum terlahir. Kalau sudah begitu, mampukah Agatha yang sekarang menentang takdir??
***
Happy Reading 😘
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘
***
Bila berkenan, silahkan kunjungi novel keduaku :
" Terjebak Dalam Game "
Bisa langsung cek profileku. Terimakasih😘