Menjadi Antagonis Novel

Menjadi Antagonis Novel
Episode 9


Kediaman Duke,


Siang hari,


Agatha berjalan ke kamar miliknya dengan Lucy yang mengekori. Ia sudah mengatur rencana untuk menjebak Viscountess Margaret. Anastasia berkata padanya, bahwa Viscountess Margaret akan kembali lima hari dari sekarang. Itu berarti dirinya masih punya banyak waktu.


“ Lucy, aku lapar.”Agatha memberi kode.


Lucy langsung mengerti.“ Baik, Nona.”ujarnya mematuhi perintah.


Agatha menuju meja belajar yang di atasnya telah berserakan kertas. Ketika ia hendak merapikan kertas itu, tiba-tiba saja seekor burung pengantar pesan singgah di pundaknya. Agatha tersentak kaget. Dengan reflek ia mengusir burung itu untuk pergi menjauh.


“ Huh mengagetkan saja.” Agatha berdecak kesal. Pandangannya kemudian terpaku pada secarik kertas gulung yang di kaitkan di kaki burung itu.


Agatha segera mencomot kertas di kaki burung dan membacanya.


Kepada Agatha Loren de Carrol


Sudah lama kita tidak bertemu. Aku tidak sabar untuk segera bertemu denganmu di rumah makan mewah dekat alun-alun kota. Seperti nya menyenangkan untuk makan malam bersama disana.


Ibumu tersayang, Bryssa Damien


“ Ibu.” Gumam gadis itu. “ Sejak kapan aku punya ibu?”ia menertawakan nasibnya sendiri. Merenung betapa takdir begitu senang mempermainkannya.


“ Nona, saya sudah siapkan makananya.” Lucy mengetuk pintu tiga kali sebelum akhirnya masuk ke kamar Agatha. Ia membawa sebuah kereta makanan dan mendorongnya mendekat ke arah meja santai di kamar itu.


“ Lucy, bagaimana menurutmu ibuku itu?”


“ Ah Nona, ibu nona sangatlah cantik. Dia memiliki rambut merah seperti nona tapi saat usia Nona 7 tahun, Nyonya bercerai karena—” Lucy menjeda kalimatnya. Dia sangat tidak enak menyinggung perbuatan menyimpang mantan Nyonya nya itu.


Agatha memejamkan matanya dan menghela nafas. “ Sepertinya ibu ingin mengajakku bertemu. dia memberi sinyal dengan begitu jelas.”


Tapi kenapa hanya aku? Apa Kak Ana dan Kak Louis diberitahu juga?


“ Apa biasanya aku bertemu dengan ibu?” Agatha meletakkan surat itu asal di meja belajarnya dan kemudian berjalan ke arah meja santai untuk menyantap makanan.


“Maaf saya berkata begini namun Nona dan kedua kakak Nona pernah berkata bahwa kalian tidak sudi bertemu dengan Nyonya. Dan Nyonya pun tidak pernah mengirim surat sebelumnya, Nona”Ujar Lucy.


Kalau dinovel aslinya pasti Agatha akan mengabaikan surat ini.


“ Aku akan bertemu dengannya.”


Aku penasaran ada urusan apa sampe harus mengundangku makan malam.Meski ini melenceng dari novel.


Sontak saja Lucy terkejut. “ Tapi Nona—” Agatha tak menghiraukan. Tangannya mulai meraba ganas ke arah hidangan yang telah dipersiapkan.


***


Malamnya,


“ Lucy jika Tuan Duke bertanya, jawablah ada aku pergi berbelanja.” Ujar Agatha sembari memasuki kereta kuda.


“ Tapi Nona ini sudah malam, tidak baik Anda pergi sendirian.”Cemas Lucy.


“ Itu benar. Oleh sebab itu, tolong izinkan Saya menemani Anda Nona.” Tiba-tiba saja Diaz menampakan wajahnya.


Ih ngeri


“ Nona diluaran sana banyak sekali penjahat yang selalu menatap lapar ke arah kereta kuda bangsawan. Saya hanya ingin memenuhi kewajiban Saya.” Diaz menundukan hormat.


Diaz terus mendesak Agatha hingga gadis itu mengizinkannya ikut.


***


Agatha sampai di sebuah rumah makan mewah yang jelas sekali hanya para orang berduit yang bisa menikmati hidangan disitu. Agatha mengikuti instruksi sesuai kode di surat itu yang mengatakan ‘akan bertemu di sebuah rumah makan mewah di dekat alun-alun.’


Tak berpikir lama gadis itu segera masuk ke dalam dengan Diaz yang membututinya. Di dalam tidak begitu ramai. Agatha memutuskan untuk bertanya pada pekerja disitu mengenai ibunya, Bryssa Damien.


Setelah berkeliling, akhirnya, Agatha menemukan seorang wanita berambut merah dengan topi dan kipas sedang duduk ditemani seorang lelaki beambut putih kekuningan yang sepertinya seumuran dengan Lucius. Mereka terduduk di buah meja panjang dan saling berhadapan.


“ Kau tunggu disini saja. Jangan ikut.” Agatha memerintah pada Diaz. Lelaki itu langsung mengiyakan ucapan Agatha. Dengan segera, agatha melangkah mendekati wanita itu.


“ Permisi.” Ujar Agatha. Ia harus memastikan bahwa wanita itu adalah orang yang akan ditemuinya.


Secepat kilat, wanita itu bebalik ke arah Agatha . “ Oh Agatha, ibu senang bertemu denganmu, Sayang.” Ujarnya langsung mendekap tubuh Agatha. Sebenarnya ia tidak terlalu mengenali putrinya, hanya saja rambut Agatha yang berwarna merah dan manik berwarna biru yang khas itulah yang membuatnya mengetahui bahwa itu adalah Agatha. Mungkin saja karena sudah bertahun-tahun tak bertemu.


Agatha mendorong pelan tubuh Bryssa karena merasa tidak nyaman.


“ Duduklah sayang.”


Agatha memandang tak suka ke arah lelaki yang duduk di sebrang meja ibunya.


“ Siapa dia?” ketus Agatha.


Ah sialan dia pasti adalah anak tirinya.


“ Ah dia adalah Julian Von Pensler. Anak dari Duchess Pensler.” Terang Bryssa dengan senyum palsu yang amat tampak.


“ Julian ya.... Ah iya! kau musuh bebuyutan orang itu.” ujar Agatha dengan tampang tak bersalah sembari menunjuk-nunjuk ke wajah Julian.


Musuh Lucius! Kalian bakal rebutan keukuasaan di masa depan dan akan perang-perangan sampe....sampe kapan ya? Ah, di ending tidak dijelaskan.


“ Gila.”Umpat Julian pada Agatha yang setelah itu langsung memalingkan wajahnya. Agatha memilih duduk di sebelah Bryssa.


“ Kenapa kau membawa anak ini. Apa kau sudah mengangkatnya menjadi anakmu?” Agatha bertanya pada Bryssa dengan tatapan mnegintimidasi.


Bryssa nampak menghela nafas. “ Nanti tunggu Nyonya Pensler datang, tadi dia sedang ke toilet. Ah itu dia datang.”


Seorang wanita berambut cokelat dengan gaun yang amat mencolok datang ke arah mereka dan tanpa ragu duduk di sebelah Julian.


Bryssa terus setia dengan senyum palsunya.“ Jadi Agatha, ibu berencana menjodohkan kalian berdua.”


“ Apa!” Agatha berteriak histeris.


***


Happy Reading😘


Maaf ya, upnya rada lama. Mungkin minggu ini, up nya engga bisa 1 atau 2 hari sekali. Tapi, akan ANWi usahain.


Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘