
Happy Reading 😘
.
.
.
"Apa maksudmu , dia telah membeli Sheila? Huh omong kosong apa itu."
"Kau keponakan Margaret. Berarti kau masih dalam keturunan Carrol kan. Apa kau tidak tau berita di dunia politik Korintus saat ini?"
Agatha berkerut. "Tentang apa?"
Membahas itu, lelaki bernama Thad terlihat begitu serius.Thad membenarkan posisi duduknya sebelum mulai menjelaskan.
"Aku tidak tau ini berkaitan dengan budak itu atau tidak, tapi ada kabar simpang siur bahwa duke carrol akan memisahkan diri dari faksi parlementarin menuju faksi Argentdite. Faksi Argentdite adalah faksi baru yang digarap oleh Duke Max. Dimana mereka lebih condong ke kepentingan bangsawan dari pada kekaisaran." Thad menjeda kalimatnya. Lelaki berkumis tebal itu mengambil cangklong untuk merokok di hadapannya.
"Meski itu hanyalah kabar burung dan belum terbukti kebenarannya. Namun jika terjadi, maka akan mengancam kedudukan Raja. Karena duka Carrol adalah pendukung terkuat sang raja saat ini." Imbuhnya disertai gempulan asap di udara.
Mendengar itu, Agatha jadi paham mengapa sang raja membeli Sheila.
"Baiklah. Ambil uang ini." Agatha melemparkan tiga kantung ditangan nya ke arah meja berkayu jati.
"Ck! Dingin , sama seperti Viscountess Margaret."
"Dengar, bibi Margaret sama sekali tidak dingin seperti yang kau katakan." Sanggah gadis itu setelah mendengar cibiran Thad.
"Aku tau, tapi sejak suaminya~Viscount Gerard~meninggal , dia jadi begitu dingin. Rumornya , karena kebijakan Duke Carrol lah yang menyebabkan kepergian Viscount Gerard." Terangnya dengan tetap menikmati rokok di cangklongnya.
"Tuan Thad, jangan percaya pada rumor tak berdasar seperti itu." Timpal Agatha seraya membanting pintu hingga menimbulkan bunyi gubrakan.
"Cih."
***
Kediaman Carrol,
Siang,
"Nona maaf, berarti Nona Sheila sudah menjadi 'pelayan' Anda?" Lucy bertanya dengan hati-hati. Kepala nya ia tundukan untuk menunjukan rasa sopan.
"Tidak, Yang Mulia Raja sudah membelinya duluan."
"Yang Mulia Raja ? Tetapi untuk apa ? " Gadis berambut keriting itu bertanya tidak mengerti.
Agatha menghela nafas pelan. "Belakangan, dunia politik digemparkan dengan berita bahwa Duke Carrol akan beralih ke faksi Argentdite. Sementara, dalam beberapa bulan kedepan, pengumuman resmi tentang calon tunangan putra mahkota , yaitu aku akan diadakan. Coba pikirkan jika raja menjalin hubungan dengan bangsawan lain. Maka akan terdapat kubu-kubu Duke Max yang menentang itu." Terangnya.
Ia melihat Lucy masih kebingungan dan terlihat bahwa otaknya tengah loading. Agatha memutuskan untuk kembali menerangkan.
"Bukankah berita sheila sebagai 'peliharaan' sudah tersebar. Jika saja Duke Carrol benar-benar beralih ke faksi Argentdite maka Raja sudah memiliki rencana. Ia tinggal menggiring opini bahwa Putra Mahkota sendirilah yang menyukai sheila. Dengan begitu, Ia dapat membatalkan pertunangan dengan Carrol. Meski nanti akan banyak yang menentang. Aku dapat memastikan bahwa Sheila akan langsung dijadikan putri mahkota setelah beberapa tahun." Jelas Agatha. Sekilas Ia melirik ke arah jendela besar yang memampangkan hamparan rumput hijau.
"Sheila juga pasti akan menarik simpati rakyat dengan pengurangan pajak atau yang lainnya. Tentu nya itu adalah ide Raja , karena Sheila tidak mungkin bisa memikirkan hal seperti itu." Imbuh nya. Ia memprediksi bahwa Raja pasti akan mengandalkan kekuatan rakyat untuk mendukung Sheila menjadi Putri Mahkota.
Lucy mulai sedikit mengerti. "Raja sangat licik." Mendengar itu, pandangan Agatha jadi beralih ke arah Lucy.
"Bukan hanya licik. Setelah Sheila diangkat menjadi Putri Mahkota dengan dukungan rakyat , aku yakin pajak akan kembali ke jumlah normal atau bahkan melunjak. Karena Raja tidak ingin rugi." Lontarnya dengan senyuman getir.
"Nona , Saya harap Anda bisa menangani masalah pajak karena saya khawatir dengan keadaan keluarga saya luar sana."
"Apa wewenangku saat ini? Aku bahkan bukan seorang kepala keluarga."
"Kalau begitu jadilah kepala keluarga."
Brak! Gerbrakan meja terdengar keras membuat Lucy terkejut. Ia dapat merasakan sensasi amarah nona nya.
"Ma-maaf Nona."
"Perhatikan bicaramu , Tuan Duke masih hidup bagaimana bisa aku mengharapkan posisi kepala keluarga?"
"Ta-Tapi meski begitu masih ada Tuan Muda Loui---"
"Kakak Louis tak mungkin bisa menjadi kepala keluarga karena dirinya memiliki sihir. Menurut peraturan , bangsawan yang memiliki sihir tidak diperbolehkan memiliki gelar ataupun menjadi kepala keluarga. Kecuali jika mereka rela membuang sihirnya ke menara pusat."
"Begitu." lirih lucy pelan. Tak disangka sang nona memikili pengetahuan yang luas. Lucy sendiri bahkan tak mengetahui pengaturan yang seperti itu.
***
Sore nya,
"Salam Tuan Duke." Agatha membungkuk hormat tepat di depan pintu masuk ruang kerja Duke Carrol. Kaki putih itu melangkah ke dalam. Tubuhnya yang gemetar menjadi rileks tatkala bau bau an lavender menyeruak masuk ke dalam penciuman.
"Saya membutuhkan izin dari Tuan Duke untuk melakukan sesuatu." Lontar Agatha dengan mantap.
Sontak Duke Carrol dibuat terkejut. Sejak kapan putri nya yang kasar dan manja ini meminta izin untuk melakukan sesuatu. Keningnya berkerut menunjukan rasa penasaran. "Katakan." Satu kata yang terlontar.
"Saya ingin Tuan Duke menghentikan pendidikan saya di Academy dan mengizinkan Saya untuk melanjutkan pendidikan bidang politik , administrasi di kediaman." Ia akhirnya mengungkapkan keinginannya. Bukan tanpa alasan Agatha melakukan itu. Ia ingin tergabung dalam faksi jika usianya cukup nanti. Gadis itu berpikir akan merombak beberapa kebijakan di dalam faksi. Selain itu, Agatha juga jadi punya kesempatan untuk menjatuhkan raja jika raja benar-benar memutuskan ikatan pertunangan putra mahkota dengan dirinya.
Keadaan berubah sunyi. Tak ada jawaban. Hingga membuat hembusan angin terdengar nyata. Detik berikutnya terdengar gelak tawa dari sang duke. Tak ada yang tau dimana letak kelucuan dari kalimat Agatha barusan.
"Baiklah, baiklah, asal kan kau tidak menyesali keputusan mu itu dan meminta kembali ke Academy." Ujarnya sembari berusaha menahan geli di perut.
Agatha mengangguk. "Itu tidak akan terjadi." Timpalnya kemudian.
"Aku akan panggil guru khusus di bidang yang kau inginkan itu besok." Tutur Duke Carrol.
"Terima kasih atas kebaikan Anda , Tuan Duke." Agatha kembali membungkuk untuk berterima kasih.
Yang Mulia Raja, kita lihat saja siapa yang akan menang.
***
Besoknya, susuai dengan janji sang Duke. Agatha diberhentikan 'sementara' dari Academy, alasan Duke Carrol mengatakan hanya sementara karena Ia menganggap Agatha tidak serius dan masih labil. Bagaimana jika sewaktu-waktu putrinya itu merasa bosan dan ingin kembali ke Academy? Tentunya Duke bisa memasukan lagi Agatha ke Academy dengan proses yang tidak terlalu rumit.
Seorang gurupun dihadirkan untuk mengajar kan pendidikan pada Agatha. Guru bersurai perak dan bermata ungu seperti lavender dengan tahi lalat di sekitar mata nya itu merupakan adik tiri dari Duke Max , bernama Raymond Miller de Iberio.
Rambutnya terlihat sedikit acak-acakan sangat berbeda dengan gaya kakaknya. Raymond baru berusia enam belas tahun, namun dirinya sudah sangat lihai dalam urusan politik. Meski begitu, Raymond lebih memilih menjadi seorang guru dalam bidang tersebut ketimbang menjadi salah satu anggota faksi yang berebut kekuasaan.
Lelaki itu berjalan menyusuri lorong kediaman Duke. Sesekali ia bertanya pada pelayan mengenai letak ruang kerja Duke. Setelah ketemu, tanpa ragu Raymond masuk.
Beberapa saat kemudian , ia keluar dan kembali berjalan dengan buku di dekapannya. Lelaki itu menuju ke arah perpustakaan Carrol. Para pelayan terlihat memperhatikan diam-diam. Mereka mulai berbisik-bisik mengenai penampilan Raymond.
Raymond akhirnya sampai di depan perpustakaan. Dengan sigap, ia membuka pintu masuk. Raymond disambut dengan seorang gadis yang tengah membaca buku di dalam. Senyap. Ia menyipitkan matanya untuk memastikan.
"Apa benar Anda adalah Lady Agatha Carrol?"
Agatha menyelingak. Menandai halaman buku kemudian menutupnya perlahan. "Iya benar, Saya Agatha Carrol."Gadis itu kemudian berdiri.
"Perkenalkan Saya Raymond Miller , seorang guru dibidang politik dan hukum" Raymond menunduk memberi salam dengan tangan kanan yang diletakan di depan dada.
"Salam juga Tuan Raymond." Gadis itu membungkuk membalas salam. Agatha meneliti penampilan Raymond , terlihat begitu muda untuk ukuran seorang guru. Namun ia tidak terlalu memikirkan , mungkin saja kan guru nya ini awet muda.
Raymond mendekat ke arah Agatha dan duduk bersebrangan dengan gadis itu. Ia meletakan buku ditangannya ke depan meja dengan hati-hati.
"Baiklah langsung saja. Salin buku ini dari halaman ke 1 sampai halaman ke 100." Perintahnya tanpa basa-basi dengan menunjuk salah satu buku berlapis tebal miliknya.
Mendengar itu, Agatha sangat terkejut. Gila! Seratus halaman harus ditulis ulang! Apalagi dengan pena yang masih tradisional ini. Pikir Agatha yang bimbang.
Ia tersenyum. "Seratus halaman apa tidak terlalu berlebihan? Bukankah kita seharusnya belajar dasar-dasar nya terlebuh dahulu, Tuan Ray?" Lontarnya.
"Tulis sekarang!" Tegasnya dengan melirik ke arah buku tebal miliknya. Melihat cara Raymond memperlakukan dirinya , Agatha dapat menduga bahwa Raymod sebenarnya sudah berusia tiga puluhan lebih.
Alhasil, gadis itu akhirnya menuruti. Dengan pelan-pelan ia mengambil buku bersampul cokelat dengan tulisan berwarna emas.
Agatha mulai menulis ulang apa yang tertera di buku. Isinya adalah peraturan dan kebijakan dari zaman raja Korintus ke I hingga kini. Disana juga tertera beragam pertentangan dan cara mengatasinya. Sebenarnya buku ini cukup berguna, hanya saja jika harus tulis semua.....bukankah itu sama saja menyakiti jempol sendiri.
Jarum jam terus berdetak hingga petang pun tiba. Agatha sungguh tak menyangka bahwa gurunya, Raymond akan benar-benar mengawasi hingga Agatha selesai. Tadinya ia pikir mungkin saja Raymond akan ketiduran saat mengajar hingga Ia bisa mencuri waktu untuk istirahat sejenak. Tapi pada kenyataannya, tak sedetikpun Raymond memejamkan mata. Membuat Agatha berdecak pelan.
"Bagus, Anda bisa menyelesaikannya." Puji Raymond setelah melihat hasil pekerjaan Agatha. "Saya pikir Lady tidak akan sanggup menyelesaikannya." Tambah Raymond.
"Sekarang Anda resmi menjadi murid Saya." Ujarnya dengan seulas senyum tak bersalah.
"Maaf Apa maksud Tuan Ray? Bukankah sejak awal Saya memang sudah menjadi murid Anda?"
"Kapan? Dari awal aku hanya memperkenalkan diriku sebagai seorang guru dibidang politik dan hukum bukan sebagai gurumu." Jelasnya dengan menunjukan ekspresi mengingat. Ia sudah menggunakan bahasa informal karena sudah menganggap Agatha sebagai muridnya.
"Oh iya , gunakan bahasa informal ketika kita sedang berdua saja. Aku tidak suka melihat muridku dengan wajah tertekan. Lagipula umur kita juga tidak terlalu jauh." Pinta Raymond. Agatha mengehela nafas pelan.
"Baik , pak guru."
Tunggu, tunggu dia bilang umur nya tak jauh dari ku! Berarti dia bukan awet muda dong tapi memang masih muda. Sebenarnya guru macam apa yang dipilihkan oleh Tuan Duke!!
***
...(Raymond Miller de Iberio)...
***
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘