
Kediaman Carrol,
Entah kenapa Agatha merasa tidak asing dengan gadis yang diceritakan oleh Wim. Namun masalahnya, Ia sama sekali tidak memiliki ingatan tentang gadis itu. Jika Agatha berusaha mengingat, kepalanya terasa mau pecah. Akhirnya ia memutuskan untuk mengorek informasi tentang gadis itu pada orang yang sangat ia percaya, siapa lagi kalau bukan Lucy.
"Lucy kemari, ada yang ingin aku tanyakan."Panggil Agatha yang duduk di kursi belajarnya.
Dengan senyum dan langkah cekatan, Lucy mendekat ke arah Agatha. Ia menunduk. "Ada apa Nona?"Lontarnya.
"Apa kau tau sesuatu tentang gadis bernama Adelin?" Agatha bertanya langsung pada intinya.
Mata Lucy membulat sempurna. Tangan dan kakinya mengeluarkan keringat dingin. "Sa-Saya tidak tau, Nona." Sahutnya dengan gugup.
Aneh harusnya Lucy tidak sepanik itu. Lagipula, jika dia berekspresi begitu maka sudah dapat dipastikan ia mengenal Adelin yang kumaksud.
"Kau berbohong kan.Katakan dengan jujur, apa kau mengetahuinya?" Agatha mengernyitkan dahi dan menatap tajam ke arah Lucy.
Lucy yang merasakan tatapan itu menjadi tambah kikuk. Tatapan itu seperti tatapan Agatha yang dulu. Namun, bagaimanapun Lucy harus tetap bersikap semestinya. "Saya tidak berbohong, Saya benar-benar tidak tau tentang gadis itu." Ujarnya lagi.
Agatha mampu merasakan bahwa Lucy sedang menyembunyikan sesuatu. Tetapi ia tidak akan mengintimidasi Lucy, mungkin saja ia harus mencari tau sendiri. Gadis berambut merah itu terlihat kembali berpikir.
"No-Nona jika boleh Saya memberi saran, sebaiknya Nona tidak mencari tau tentang gadis itu. Nona sebaiknya berfokus pada tuan Lucius saja."Lucy menunduk dalam dan memainkan jemarinya. "Itu.... karena hanya akan menguras tenaga. Saya hanya ingin yang terbaik untuk Nona." Imbuh gadis bernama Lucy itu.
"Hmm saranmu terdengar bagus, tapi tetap saja hanya aku yang bisa mengatur diriku sendiri."Agatha tersenyum misterius yang membuat Lucy untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu ini, bergidik ngeri.
***
Agatha kembali mencari tau, jika Lucy saja sampai tahu tentang Adelin. Maka Adelin pasti punya hubungan dengan keluarga ini. Begitulah pikir Agatha. Kali ini dirinya berencana untuk mencari tau lewat Anastasia. Itulah mengapa saat ini, ia mengajak Anastasia untuk menikmati teh di taman kediaman.
"Em...teh jenis ini memang yang terbaik." Gumam Anastasia setelah menghisap sedikit teh di cangkirnya.
"Kak Ana, aku ingin bertanya."
"Hm? Tanyakan saja." Anastasia masih tak berkutik dari teh miliknya. Ia kembali menghisap tehnya.
"Apakah kakak mengetahui sesuatu tentang gadis bernama Adelin?" Lontar Agatha. Mendengar itu, Anastasia tersedak dan mulai terbatuk.
"Jangan sebut nama itu lagi di kediaman ini. Nama itu terdengar sangat tabu di sini." Sahut Anastasia dengan tangan terkepal menahan suatu perasaan yang sulit dijelaskan. Ia kemudian bangkit dari duduk nya dan hendak pergi.
"Kak jangan pergi dulu, jelaskan lah alasannya." Pinta Agatha.
"Aku tidak peduli." Gadis berambut pirang itu berlenggang pergi. Namun beberapa saat kemudian, ia kembali lagi. "Ada apa kak, apakah kakak berubah pikiran dan ingin memberitahuku." Ujar Agatha.
"Tidak! Aku hanya mengambil kipas milikku." Balas gadis itu sembari mencomot kipas miliknya dan kembali meninggalkan Agatha.
Gadis berambut merah itu menghela nafas. "Huh apa aku tidak perlu memikirkan itu ya. Lagipula aku memang hanya berniat untuk hidup damai kan di dunia ini." Ia mulai menyerah. Namun, dirinya tak sengaja mendengar beberapa pelayan yang tengah bencengkrama.
"Hei kau dengar tadi, Nona muda ketiga menyebut nama 'orang itu'." Bisik pelayan a
"Benarkah? Bukankah tuan duke sudah melarang nya. Bagaimana Nona ketiga bisa mengetahui nama itu?" Sahut pelayan b.
"Aku juga tidak bisa membayangkan jika duke tau." Balas pelayan a.
Mendengar percakapan pelayan itu, Agatha jadi makin penasaran. Sebenarnya kenapa menyebut nama Adelin begitu tabu?Apakah gadis itu telah melakukan kesalahan yang begitu besar? Itulah yang terus berkecamuk di kepala Agatha saat ini.
***
Karena rasa penasaran itu, Agatha memutuskan untuk kembali menyelidiki dengan datang ke perpustakaan kota. Entah apa yang membawanya kesana. Mungkin karena instingnya. Dan juga , jika dirinya hanya sebatas membaca buku di perpustakaan kediaman Carrol, maka sudah dapat dipastikan dirinya tidak akan menemukan apapun.
Melihat reaksi dari Lucy dan Anastasia serta percapakan pelayan tadi, Agatha menduga pasti semua yang berhubungan dengan gadis bernama Adelin pasti telah sengaja dikubur dalam dalam dari kediaman Carrol.
Kali ini Agatha sama sekali tidak mengajak Lucy, ia hanya mengajak Diaz sebagai kesatri pelindung jika ada terjadi sesuatu yang buruk. Namun, Agatha tetap meminta kesatria itu untuk menunggu di luar.
Agatha memasuki perpustakaan yang berlapis dinding kayu berkilau itu. Ia cukup dibuat terperangah kagum saat melihat rak buku yang begitu besar berjejer dengan rapi.
Mulai dari mana ya.
"Em...Permisi, bisa tunjukan dimana buku-buku tentang keluarga Carrol?"
"Aku salah satu anak Duke Carrol." Ujar Agatha sembari menunjukan plakat berlambang elang emas. Wanita itu langsung percaya dengan perkataan Agatha. Ia mempersilahkan Agatha untuk masuk ke dalam ruang baca khusus.
Wanita itu membuka sebuah ruangan dengan kunci khusus. "Silahkan.Menurut peraturan, Anda hanya diizinkan membaca selama tiga puluh menit. Akan ada tanda jika sudah tiga puluh menit" Terang pelayan itu.
"Baiklah." Ujar Agatha asal mengiyakan.
Wanita itu bergegas pergi, sementara Agatha masuk ke ruangan itu.
"Gila! Tiga puluh menit nyari buku di ruang segede ini." Gumam gadis itu setelah mengamati ukuran ruangan.
Ia segera mencari-cari buku yang dibutuhkan untuk penyelidikan. Namun setelah lima belas menit mencari, Ia sama sekali tidak menemukan apapun.
Agatha benar-benar lelah. "Aku sama sekali tidak menemukan apapun." Ujarnya sembari menghela nafas berat. Dengan badan yang sempoyongan karena lelah, ia kembali berjalan memutari rak buku. Tetapi, kakinya terpeleset dan menabrak dinding.
Agatha segera menyadari sesuatu. Dinding itu berbunyi cukup nyaring, padahal kayu disekitarnya tampak amat kokoh dan kuat yang mustahil untuk berbunyi nyaring.
Ia segera mendekati dinding itu dan benar saja setelah disentuh, dinding itu mengeluarkan sinar yang ternyata di segel oleh sesuatu. Ia kemudian terlihat berpikir. Detik berikutnya ia segera menunjukan plakat tanda keluarga Carrol.
Dinding itu perlahan terbuka dan terpampanglah sebuah ruangan kecil dengan banyak buku yang berdebu seperti tak terawat. Tanpa ragu, Agatha segera memasuki ruangan itu.
"Uhuk,uhuk." Debu yang bertebaran membuat gadis itu terbaruk berulang.
Matanya segera mencari ke segala arah dan beruntungnya ia menemukan buku yang ia cari yaitu sejarah keluarga Carrol. Agatha mengambil buku itu dan meniup nya dahulu agar debunya sedikit berkurang. Setelah selesai, gadis itu segera membukanya dan membaca buku itu.
Di buku tersebut dijelaskan asal mula dibentuk keluarga bernama Carrol. Tidak ada yang aneh, sampai Agatha membuka halaman ke tiga puluh. Disana diceritakan bahwa keturunan Carrol ke VI di takdir kan untuk memiliki sepasang anak kembar. Dimana yang satu diramalkan akan membawa pada sebuah keberuntungan besar dan satu lagi diramalkan akan menghancurkan keturunan Carrol.
Agatha tidak mengerti. Padahal dirinya dan para kakak kakanya termasuk keturunan Carrol ke VI. Tapi mengapa sama sekali tidak ada kembaran.
Teng, teng, teng.
Lonceng besar di ruangan itu berbunyi, pertanda bahwa sudah tiga puluh menit. Agatha mengambil buku itu dan menyembunyikannya di balik baju kemudian dirinya keluar. Pintu dinding yang ia lewati kembali tertutup rapat dengan sendirinya.
Ia keluar dari ruangan dan memastikan bahwa wanita penjaga perpustakaan tidak melihatnya. Atau lebih tepatnya melihat buku yang ia sembunyikan.
Karena langkah nya yang tergesa, Agatha tak sengaja menabrak seseorang.
"Aduh." Tubuh kecil Agatha terjatuh sementara orang yang ditabraknya bahkan tidak berpindah tempat sedikitpun.
"Hati-hati." Ujar suara lelaki yang ternyata adalah Lucius. Agatha mendongak, melihat sosok di depannya. Lucius terlihat mengulurkan tangan, jadi gadis itu berpikir Lucius akan membantunya berdiri.
Namun sialnya, hal yang terjadi justru di luar dugaan. Lucius tak beniat menolong Agatha melainkan mengambil buku milik lelaki itu yang terjatuh. Alhasil, gadis itu berdiri dengan sendirinya.
"Salam Yang Mulia, Saya izin pergi dulu." Ujar Agatha dengan cepat sembari mendunduk dan sesekali membersihkan gaunnya.
"Tunggu."
Gadis itu segera menyelingak dengan penuh tanda tanya.
"Besok saat parade terbesar diadakan, apakah kau akan ikut menonton?" Tanya Lucius ragu. Ini adalah pertama kalinya ia bertanya pada Agatha.
Parade besar yang ada sheila maksudnya? Jelas ikutlah!
"Iya saya akan ikut. Em...kalau begitu, Saya permisi dulu Yang Mulia." Agatha langsung berbalik dan pergi meninggalkan perpustakaan.
***
Happy Reading 😘
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘
Bila berkenan, silahkan kunjungi novel keduaku :
" Terjebak Dalam Game "
Bisa langsung cek profileku. Terimakasih😘