Menjadi Antagonis Novel

Menjadi Antagonis Novel
Episode 30


Happy Reading 😘


.


.


.


Bulan demi bulan pun berlalu seperti lembaran kertas yang dibalikan. Agatha tak menyangka waktu begitu cepat hingga kini dirinya sudah setengah tahun berada di dunia novel. Tiap malam gadis itu selalu berdoa pada Tuhan agar bisa kembali ke dunia nya. Namun harapan itu masih belum dikabulkan hingga kini.


Hari ini sebuah pengumuman dicetuskan oleh kepala academy. Untuk pertama kali nya dalam beberapa tahun, academy kembali mengadakan pesta halloween. Mungkin karena tahun ini kondisi keuangan academy kembali pulih berkat investasi yang diberikan. Pesta tersebut akan diadakan di atas kapal pesiar pada malam hari.


***


Malam hari,


"Lucy , menurutmu kostum macam apa yang akan aku gunakan di pesta ?" Agatha bertanya pada gadis bertubuh langsing yang tengah mengepang rambutnya.


"Setau saya , Nona memiliki beberapa gaun halloween di lemari." Timpal Lucy yang tetap berfokus mengurusi rambut nona nya.


Beberapa saat kemudian , gadis itu telah siap dengan gaun berwana biru gelap dan topi ala penyihir yang bertengger di kepalanya serta sarung tangan hitam yang cukup panjang. Gadis itu juga meminta Lucy untuk mendadaninya dengan riasan halloween yang tidak terlalu tebal. Tak lupa , Agatha juga membawa sebuah properti berupa lentera yang menggantung tangannya.


"Lucy , kau ikut ya."


Mendengar itu Lucy sedikit terkejut. "Baik Nona." Ujarnya dengan senyum yang mengembang. Ini kali pertama sang nona mengajak nya untuk pergi ke sebuah pesta besar.


Pintu kamar diketuk. Tak berapa lama, muncul seorang lelaki berambut pirang dengan kostum vampire berkerah. "Anak manja, datang ke pesta bersamaku." Tutur Louis dengan bersilang tangan dan wajah tampak malas.


"Kenapa harus denganmu kak."


"Ini sudah malam , apa kau tak mengerti heh!" Dia terlihat kesal. Agatha jadi berpikir kalau Louis melakukan semua itu karena paksaan duke.


"Kak , jika kau hanya terpaksa , kau tidak perlu pergi bersamaku. Aku bisa datang sendiri dan berbohong bahwa kau mengantarku." Tawar gadis itu.


Louis tampak memutar bola matanya. "Sudahlah turuti aku saja!" Ketus lelaki bermanik biru itu.


"Baiklah , tapi aku juga mengajak lucy kak."


Louis menghela nafas Ia mengayunkan tangannya ke udara sembari mengucapkan mantra. Seketika di tangan lelaki itu terdapat sebuah kartu teleport. Louis melemparkan itu ke arah Lucy. Dengan sigap gadis berambut keriting itu menangkapnya.


"Anak manja cepat keluar!"


Gadis itu menurut. "Sobek saja kartu itu." Louis memberi kode pada Lucy yang tengah kebingungan menatap kartu teleport pemberiannya.


Sementara Agatha segera memindahkan lentera di tangan kanan nya ke tangan kiri karena tangan kanannya ia gunakan untuk bergandengan dengan Louis. "Ini sedikit pusing. Kau cukup tutup mata." Ujar Louis yang mendapat anggukan kecil dari Agatha.


***


Pelabuhan,


Agatha dan Louis sudah sampai tepat di luar kapal pesiar. Namun, Lucy tak kunjung datang. Louis menduga bahwa Lucy masih belum mengerti cara menggunakan kartu teleport.


Louis memperhatikan ke arah kapal itu, ada sebuah sihir di dalamnya yang tak lain adalah sihir penyegel. Jadi anak dari kelas sihir tak bisa seenaknya menggunakan sihir mereka. Menyadari itu Louis berdecih. Louis dan Agatha menunjukan undangannnya masing-masing. Detik berikutnya lelaki itu menggandeng Agatha untuk masuk ke dalam kapal pesiar.


Kapal mewah yang telah disewa itu sudah ramai oleh lautan manusia. Hidangan khas halloween pun sudan tersaji dalam jumlah besar. Agatha nampak kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan. Beruntung Lucy dengan cekatan dapat menemukan gadis itu.


"Menemukan Anda begitu mudah Nona. Karena hanya Nona yang memiliki aura menawan." Begitu ucap Lucy dengan tersenyum tulus. Lucy bisa masuk ke dalam kapal karena Ia telah menunjukan plakat pelayan khusus pada penjaga pintu masuk.


Agatha mengedarkan pandangannya ke sekitar. Suasana ini seperti di dalam novel. Wajah nya berubah muram. Disana dikisahkan bahwa saat pesta halloween selesai diadakan, Peter tidak terlihat lagi di academy. Kabarnya , lelaki itu pindah ke suatu tempat.


"Sayang kau sudah datang rupanya." Suara maskulin itu mengagetkan Agatha yang tengah merenung. Tanpa ragu Steven justru mengusap surai gadis itu. Tak jauh dari sana Louis memperhatikan gerak gerik Steven. Hal itu membuat Louis mencengkram gelas di tangannya erat.


Disisi lain, perbuatan Steven tak luput dari pandangan Lucius. Ia menatap tak suka ke arah Steven dengan decakan.


"Karena semua siswa dan siswi sudah banyak yang hadir. Maka acara puncak akan diadakan yaitu dansa halloween dibawah sinar bulan." Seorang pria paruh baya dengan kacamata mengumumkan dari tempat tertinggi di kapal itu.


Tepat setelah mengatakan itu, sebuah piano dimainkan. Tak tanggung-tanggung , pihak academy menundang pianis terkenal di kekaisaran.


"Sayang, mau kah kau berdansa denganku?" Steven mengatakan sembari membungkuk dan mengulurkan tangan nya.


Sebelum gadis itu sempat menjawab, sebuah tangan menepuk bahunya. Membuat Agatha meyelingak.


"Ayo berdansa bersamaku." ujar Lucius dengan wajah memerah mengajak gadis itu berdansa. Agatha menjadi bingung siapa yang akan dipilihnya. Ia takut akan menyakiti perasaan salah satu dari mereka. Tunggu! Sejak kapan gadis itu memikirkan perasaan dari tokoh novel. Tidak ini salah.


Agatha menggelengkan kepalanya. Saat Ia kembali ingin menjawab. Tiba-tiba datang suara berisik para gadis yang tengah memperebutkan seorang lelaki. Tidak salah lagi , itu Julian.


"Hei berdansalah denganku! Dengar ya jangan salah paham, aku hanya ingin membuat para gadis ini kecewa dan pergi meninggalkanku." Ujar lelaki itu. Sebenarnya itu hanyalah alasan. Entah mengapa Julian merasa ada yang aneh dengan dirinya sejak kompetisi berburu itu.


"Kalau begitu lebih baik bermain batu gunting kertas saja." Lontar Agatha yang sudah pasrah. Ia tidak peduli dengan hasilnya. Yang terpenting , sekarang keputusannya adil.


Gadis itu menerangkan cara bermain batu gunting kertas. Tak berapa lama, permainan di menangkan oleh Lucius, kemudian Steven dan terakhir Julian. Menyadari ia yang terakhir , Julian pun berdecih.


Agatha memberikan lentera yang dibawanya pada Lucy, kemudian dirinya mulai melangkah ke lantai dansa. Gadis itu dan Lucius berdansa dengan dikelilingi pasangan lain yang turut meramaikan pesta.


Mereka berbincang sembari terus melakukan gerakan dansa.


"Kenapa?"


"Ya?"


"Kenapa kau membiarkan laki-laki lain menyentuh rambutmu!"


"Maaf Yang Mulia, tapi jika Anda tidak suka, saya masih bisa mencuci rambut saya."


"Hem cuci saja. Itu lebih baik."


Tak berapa lama, mereka akhirnya mengakhiri dansa nya. Saat keduanya saling membungkuk, Lucius berkata. "Jangan lepaskan sarung tangan mu saat berdansa dengan mereka. Dan jangan sentuh bagian lain selain tangan!" Titahnya dengan suara pelan. Agatha mengiyakan dengan mengangguk samar.


Kini giliran Steven yang berdansa dengannya. Gadis itu sedikit kesusahan mengimbangin tinggi badan Steven. Lelaki itu sedikit lebih tinggi dari Lucius, mengingat usianya juga sedikit lebih tua dari Lucius.


Merasa gadis di depannya terlihat kesusahan. Tanpa persetujuan Agatha, Steven meraih pinggang kecil gadis itu kemudian mengangkatnya. Lelaki itu kemudian memutar tubuh Agatha di udara.


Beberapa saat kemudian, mereka saling membungkuk dan dansa pun selesai. Sekarang tinggal Julian. Wajah lelaki itu terlihat begitu sombong. Namun, sebenarnya ia sudah sangat menantikan sedari tadi untuk berdansa.


Karena terlalu lelah, gadis berambut merah itu tak sengaja menginjak sepatu Julian. Membuat si pemilik menahan rasa kesal.


Sekitar lima menit kemudian, dansa nya dengan Julian pun selesai. "Kau menginjak kaki hingga lima kali dasar bodoh!" Lontar lelaki itu.


"Kalau begitu jangan berdansa denganku. Dasar aneh!" Balas Agatha dengan umpatan di akhir kalimatnya.


Setelah menyelesaikan acara dansa, gadis itu segera kabur menghindari para lelaki yang terus berdebat. Ia kewalahan jika harus menyelsaikan konflik diantara mereka. Agatha yakin, Lucius pasti memarahi Steven karena telah memegang pinggangnya. Padahal saat berdansa memegang pinggang adalah hal biasa. Ia tak mengerti mengapa tokoh utama meributkan hal sepele seperti itu.


Kini, Agatha tengah berjalan-jalan menjauhi kerumunan orang. Tanpa Ia sadari ,Louis~kakaknya~ terus mengawasi dari belakang. Meski saat berada dikapal sihir nya disegel, tapi jangan ragukan kemampuan mengendap-endapnya.


Ia memperhatikan Agatha yang terus berjalan di antara orang yang bergerombol. Hingga langkah gadis itu terhenti saat melihat seorang lelaki dengan rambut perak tengah menyindiri, menikmati angin malam dan menatap rembulan.


Gadis itu kemudian menghampiri lelaki berambut putih dan menepuk pundaknya. Setelah melihat wajah dihadapannya , Peter tak kuasa. Ia pun langsung memeluk gadis itu. Karena terkejut, Agatha pun berusaha memberontak.


"Agatha kumohon sebentar saja." Lirih Peter tak melepaskan pelukannya.


Louis yang menyaksikan itu sama terkejutnya. Mata lelaki itu melotot.


"Agatha , jangan salah pergaulan! Kau itu bangsawan , berperilakulah layaknya bangsawan!" Tegas Louis yang langsung muncul.


"Hei!!! Lepaskan adikku!!"Imbuhnya dengan gertakan.


"Kak kumohon. Ini hanya pelukan persahabatan" Agatha kembali mengingat pertemuannya dengan Peter saat itu. Hingga ia bercanda dan berbagi gosip dengan lelaki berambut perak itu. Peter juga sering mengajari Agatha tentang pelajaran yang tidak ia mengerti. Hari-hari di academy begitu menyenangkan saat bersama dengan Peter. Rasanya begitu berat melepaskan sahabat yang seperti itu.


"Aku akan pindah." Bisik lelaki itu.


"Aku tau."


"Dari mana kau tau?"


"Tentu saja aku tau. Kau kan sahabatku."


Mendengar itu Peter segera melepaskan pelukannya.


"Berjanjilah saat kita bertemu lagi, kau akan jadi Peter yang aku kenal dan terus mempercayaiku." Ujar Agatha. Dirinya juga memanfaatkan itu agar dimasa depan Peter berada di pihaknya dan bukan Sheila.


"Ya . Aku berjanji." Sahut lelaki itu cepat. Peter mengikat janjinya dibawah cahaya rembulan yang terus menerangi. Seakan menjadi pertanda bahwa persahabatan mereka akan tetap utuh. Bahkan dimasa depan sekalipun, meskipun mereka terpisah sekarang.


***


Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘


***


Bila berkenan, silahkan kunjungi novel keduaku :


" Terjebak Dalam Game "


Bisa langsung cek profileku. Terimakasih😘