
Dalam perjalanan pulang, Agatha kembali diantar kereta kuda. Sementara Diaz menaiki kuda sendiri. Pandangan Agatha tiba-tiba tertuju pada sebuah toko bunga dengan papan reklame kayu besar berbalut pita biru keemasan. Bunga yang dipajang pun sangat beragam dan cantik.
"Paman kusir berhenti sebentar di toko itu." Perintah Agatha sembari memandang toko bunga itu.
Si kusir mengiyakan dan menuruti perintah gadis itu. Agatha turun perlahan dari kereta kuda itu. Kakinya kemudian melangkah ke arah pintu toko itu. Saat ia membuka pintu itu, lonceng berdenting.
"Selamat datang, Nona." Sambut penjaga toko dan pemilik toko dengan ramah sembari membungkuk.
Wangi semerbak bunga turut menyambut kehadiran Agatha. Itu membuatnya semakin ingin memiliki salah satu bunga di dalam toko.
"Permisi, di tokomu memiliki bunga Camellia?" Tanya Agatha langsung.
Wanita pemilik toko itu berpikir dan kemudian menggangguk. "Ya Nona. Kami memilikinya.Bunga itu cukup langka jadi kami hanya memiliki beberapa saja. Namun seorang pemuda sudah memesan semua nya." Ujarnya dengan ramah.
"Begitu." Agatha sedikit kecewa. Suara lonceng kembali berdenting tanpa gadis itu sadari.
"Wah gadis kecil, ternyata kita memiliki selera yang sama." Suara tidak asing itu mampu membuat Agatha kesal.
Lagi dan lagi, kenapa dirinya harus bertemu dengan si pemain wanita itu. Agatha merutuki nasibnya sendiri yang begitu sial. Jika tau bahwa si pemain wanita itu akan kesini, dia tidak akan pergi ke toko ini.
Tapi ini juga sebuah kesempatan untuk mencari tau tentang Adelin.
Pemilik toko menyerahkan beberapa pot kecil pada Steven."Jika kau menginginkan bunga ini, aku akan memberikannya." Tawar lelaki itu.
"Tidak, tidak perlu. Lagipula kau membeli sebanyak itu pasti akan diberikan kepada seseorang kan." Balas Agatha dengan sungkan.
Lelaki berambut hijau itu sedikit terkejut. Ia kemudian tersenyum."Kau benar sekali. Kalau begitu lain kali aku akan memberikan bunga Camellia mu."Lontarnya.
Agatha tertawa canggung."Hahaha terima kasih. Oh iya, aku ingin bertanya sesuatu."Ujarnya.
"Iya tanyakan saja."
"Tapi disini ada.... Em..." Agatha melirik ke arah pemilik toko yang masih menatap dirinya dan Steven. Pemilik toko itu mengerti tatapan Agatha dan beranjak menjauhi mereka.
"Tuan Steven, apakah kau tahu sesuatu tentang gadis bernama Adelin?"
Steven terkejut. Apakah mungkin Adelin yang dimaksud Agatha adalah gadis kecil yang dulu sering ia ganggu."Adelin? Adelin yang mana?"Steven berusaha mengelak.
"Ck! Jangan berpura-pura!"
"Kau?Kenapa menanyakan nya?"
"Hanya penasaran. Begini, belakangan ini aku mendapat ingatan aneh tentang seorang gadis. Mungkin saja itu ada hubungannya dengan Adelin."
Tangan Steven terkepal kuat. "Dia cukup cantik, matanya berwarna biru namun tidak berkilau sepertimu. Rambut nya merah dan dia gadis yang cengeng."
"Hm, hanya itu? Lebih spesifik lagi."
"Di telapak tangan kananya terdapat sebuah tanda lahir berbentuk matahari."
Tepat setelah Steven mengatakan itu. Kepala Agatha kembali diguncang rasa sakit yang sama. Rasanya seperti akan meledak. Karena rasa sakit itu, tubuh Agatha terjatuh ke lantai. Ingatan samar tak berwarna kembali menerjang otaknya.
***
"Kenapa kau menangis heh?" Tanya Agatha kecil.
Pandangan Agatha beralih pada sebuah luka yang ada di kaki gadis itu. "Siapa yang melakukan ini?"
"Tidak, tidak ada. Aku,aku hanya....ingin sendiri hiks."
"Heeh, jangan menangis! Bukankah ayah pernah berkata bahwa darah keturunan Carrol tidak boleh ada yang menangis."Bentak Agatha yang sebenarnya merasa iba pada gadis itu.
"Hiks....aku tidak bisa hiks."
"Hei jangan bilang kau diganggu! Itu tidak mungkin kan! Ayah pernah bilang kalau tidak mungkin ada yang berani mengganggu keluarga kit---"
***
"Hei, hei gadis kecil, apa kau baik-baik saja?" Steven dengan panik memegang pundak Agatha.
"Ke-kepalaku sakit."Ujar Agatha. Perlahan rasa sakit dikepalanya berangsur pulih.
"Apa kau mendapatkan ingatan seperti yang kau katakan tadi?"
Agatha hanya menggangguk lemah. Ia berusaha untuk berdiri dengan masih memegang kepalanya.
Sementara itu, Steven terlihat berpikir. Detik berikutnya ia bertanya. "Gadis kecil, apa dulu kepalamu terbentur lalu mengalami amnesia?"Tiba-tiba saja raut wajah Steven berubah serius.
Agatha menggeleng. Di dalam novel aslinya, sama sekali tidak diceritakan ada tentang kejadian Agatha tentang kecelakaan Agatha di masa lalu.
"Kalau kau sama sekali tidak mendapatkan benturan di kepalamu, maka hanya ada satu kemungkinan...."
Mereka berdua terlihat berpikir bersama dengan raut serius milik mereka masing-masing.
"Sihir penyegel!" Ujar Agatha dan Steven serentak.
"Tuan Steve, apa kau tau bagaimana cara menghilangkan sihir penyegel?" Tanya Agatha.
Steven menggedikan bahunya. "Entahlah, aku bukan penyihir. Tapi jika kau mau, aku akan pergi ke menara pusat kota dan meminta penyihir untuk melakukannya."
Penyihir. Seketika dipikiran gadis itu terlintas sosok Louis. Bukankah Louis itu penyihir jenius, harusnya kakak nya itu bisa menghancurkan sihir penyegel.
Agatha menggeleng untuk membalas Steven. "Tidak, sepertinya aku sudah mengetahui orang yang tepat." Ujarnya dengan sekilas senyum.
***
Happy Reading 😘
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘
***
Bila berkenan, silahkan kunjungi novel keduaku :
" Terjebak Dalam Game "
Bisa langsung cek profileku. Terimakasih😘