Menjadi Antagonis Novel

Menjadi Antagonis Novel
Episode 34


Happy Reading 😘


.


.


.


Pagi ini langit sedikit mendung membuat gerombolan burung enggan berkicau. Hawa dingin begitu menusuk kulit. Dibawah sana seorang gadis dengan jaket kulit tengah menunggu kedatangan seseorang. Ia menggosokan kedua tangannya untuk mendapatkan rasa hangat. Sesekali Ia juga mengatupkan kedua tangan lalu meniup nya.


"Lama sekali." Gadis itu bergumam kecil. Sudah hampir setengah jam ia menunggu. Bahkan kedua ajudannya terus memperingatkan untuk kembali ke kediaman. Namun, gadis tetap kukuh dan menunggu.


Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Melainkan karena Ia sudah banyak mengumpulkan uang untuk membeli seorang budak. Gadis bermanik biru itu tak ingin melewatkan kesempatan.


Beberapa saat setelahnya, datanglah sebuah kereta kuda yang cukup mewah. Pintu terbuka, menampilkan sosok wanita berambut pirang ikal. Ia mengenakan gaun merah ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Wanita itu mendekat ke arah Agatha dan berkata, "Kediaman nya tak jauh dari sini. Namun, melewati sebuah pintu rahasia."


Margaret kemudian melirik ke arah Lucy dan Diaz. "Kau yakin akan membawa mereka?" Ujarnya kemudian.


Agatha mengagguk pelan. "Baiklah bibi, tolong segera tunjukan." Ia tersenyum ramah dengan maksud lain.


Margaret menuntun Agatha menuju sebuah tempat tersembunyi. Dimana hanya orang-orang tertentu yang bisa mengetahui 'pintu masuk' itu.


Tak berapa lama, tibalah mereka di sebuah tempat dengan cahaya remang lilin. Terlihat tak meyakinkan untuk orang sekelas baron yang memperjual-belikan budak. Namun, hal itu segera ditampis setelah Margaret membuka lagi sebuah pintu kayu.


Agatha dibuat terkejut. Karena ternyata dibalik pintu itu terdapat sebuah ruangan mewah, lengkap dengan lampion dan ornamen emas.


Di dalam nya terdapat seorang lelaki paruh baya yang tengah berdoa di depan sebuah patung dewa. Ia segera menyelesaikan doa setelah menyadari kehadiran seseorang. Lelaki itu menyelingak.


"Wah wah, ada gerangan apa yang membawa Viscountess kemari?" Ia mendekat ke arah Margaret yang masih di depan pintu.


"Langsung saja. Aku tidak suka berbasa basi. Keponakan ku ini ingin bertransaksi denganmu."


Pandangan lelaki itu beralih ke arah Agatha. "Hmm." Ia memperhatikan Agatha dengan tatapan remeh. Mungkinkah gadis sekecil itu mempunyai uang. Begitu pikirnya.


"Sudahlah selesaikan saja transaksinya. Aku ada urusan." Ujar Margaret. Wanita itu langsung pergi tanpa memberi salam.


"Dingin sekali, seperti biasanya." Gumam lelaki bernama Thad Naurience itu. Agatha mengernyit. Sejak kapan Margaret adalah sosok yang dingin. Wanita itu bahkan terlihat seperti orang yang rajin bergosip.


"Baron Thad , bisa kita mulai?"


Agatha dan Thad kemudian duduk di kursi empuk. Sementara Diaz dan Lucy tetap diam di depan pintu masuk. Kedua nya tak bermaksud menguping pembicaraan sang nona. Mereka sama sekali tak tertarik dengan urusan bangsawan karena mereka menganggap itu adalah yang rumit.


Agatha berdehem. "Kudengar kau memperjual-belikan budak."


"Ya. lalu?" Balasnya tak niat. Lelaki itu masih memandang remeh Agatha yang dianggap nya hanya anak bau kencur. Thad duduk menyilangkan salah satu kakinya sembari mengorek kuping.


"Aku ingin membeli budak bernama Sheila."


Thad melirik ke arah Agatha. Namun segera beralih ke arah lain. "Huh kenapa semua orang tertarik dengan budak rendahan seperti dia." Timpalnya dengan wajah heran.


Mendengar itu , sontak membuat gadis berambut merah dihadapannya terkejut. "Semua orang? Selain aku adakah orang yang sudah membeli budak itu?" Selidik Agatha dengan alis berkerut.


"Ya. Ada seorang lelaki. Dengar, jangan tanyakan namanya, aku tidak bisa membeberkan nam---"


"Satu setengah juta koin emas. Apa cukup?" Agatha mengeluarkan kantung dari jaketnya.


"Hei bocah , kau menyogok ku heh." Ia terperangah. Thad menghentikan kegiatannya mengorek kuping. Lelaki itu terlihat tertarik dengan gadis di depannya setelah Agatha menawarkan uang.


"Dua juta koin emas." Gadis bermanik biru itu mengeluarkan kantung lagi.


Thad sudah tak lagi meremehkan Agatha. "Meski begitu aku tak akan mau menyebutkan namanya. Aku sangat menjunjung kepercayaan pelanggan."Ujarnya yang berpura-pura. Ia melirik ke kantung itu.


"Tiga juta koin emas." Agatha kembali menyebutkan nominal.


"Baiklah-baiklah jika kau memaksa." Ujarnya yang sudah amat tergiur dengan kantung berisi duit di depannya.


Thad berdehem sebelum mulai menjelaskan. "Yang Mulia Raja. Dia lah yang meembeli gadis rendahan itu." Ia memberitahu dengan nada kecil.


"Apa maksudmu , dia telah membeli Sheila? Huh omong kosong apa itu."


"Kau keponakan Margaret. Berarti kau masih dalam keturunan Carrol kan. Apa kau tidak tau berita di dunia politik Korintus saat ini?"


Agatha berkerut. "Tentang apa?"


Membahas itu, lelaki bernama Thad terlihat begitu serius.Thad membenarkan posisi duduknya sebelum mulai menjelaskan.


***


Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘