
Happy Reading 😘
.
.
.
"Apa-apaan ini? Apa maksudnya?"
Agatha menduga hal yang tidak-tidak.
Steven tak menjawab. Lelaki itu menghadapkan badannya tegap ke arah patung dewa yang diterpa cahaya matahari dari jendela. Ia memejamkan matanya sejenak barulah mulai berbicara. "Sayang, berjanjilah kau tidak akan melangsungkan pertunangan ataupun menikah dengan lelaki lain sampai tiga tahun kedepan." Steven meraih tangan Agatha dan meletakan itu di dada bidang miliknya.
"Hah? Steve dengar, aku tau kau sedikit aneh, tapi untuk apa kau melakukan semua ini?" Agatha kembali melontarkan pertanyaan. Ia sama sekali tak mengerti mengapa lelaki dihadapannya sampai menginginkan dirinya untuk mengambil janji di sebuah kuil. Apakah sepenting itu hingga harus melakukannya didepan patung dewa?
"Kumohon berjanjilah." Steven tak urung melepaskan jemari Agatah justru ia semakin erat menggenggam nya.
"Tidak, sebelum kau menjelaskan alasannya."
Suasana mendadak sunyi. Steven bimbang. Lelaki itu kembali teringat kejadian di istana ketika dirinya bersama dengan Duke Carrol. Sang Duke tak hanya memberi syarat namun juga memberi sebuah peringatan agar Steven tak membocorkan tentang lamaran itu pada Agatha. Sebagai seorang lelaki , tentunya Steven tak berhak melanggar peringatan itu. Entah kenapa Duke senang sekali menyiksa perasaannya.
"Kenapa kau tidak mengerti juga. Apa susahnya mengambil janji." Steven melepaskan jemari Agatha dan beralih ke pundak gadis itu. Ia mencengkram pundak gadis ber-iris biru itu kuat-kuat. "Berjanjilah!" Lontarnya kemudian.
Agatha hanya terdiam. Menandakan ia tak berniat mengambil janji seperti permintaan Steven. Bukan karena tak mau namun tak bisa , karena kemungkinan dalam tiga tahun kedepan akan diadakan pertunangan secara resmi dengan Lucius.
"Sayang kenapa diam saja?" Tanyanya. Lelaki itu menyusupkan kepalanya di pundak Agatha. "Sayang kau benar-benar membuatku gila." Gumam nya.
"Steve , kau itu sebenarnya kenapa?"
"Aku akan pergi berperang. Kemungkinan akan memakan banyak waktu."Terangnya mengambang. Membuat Agatha salah mengira dan berpikir bahwa Steven berperang untuk memperebutkan kawasan.
"Kalau begitu baiklah, aku akan berjanji padamu tidak akan bertunangan ataupun menikah sampai tiga tahun kedepan...."Ia menggantung kalimatnya. Steven segera bangkit dan menatap gadis itu lekat, penasaran dengan kalimat selanjutnya. "....tapi jangan salah kan aku apabila aku sudah menikah jika tiga tahun kau tidak muncul." Sambungnya. Agatha berpikir mungkinkah Steven ingin menjadi salah satu tamu undangan di pernikahannya kelak.
"Akhirnya kau berjanji juga. Dasar gadis keras kepala." Celetuk lelaki itu disertai usapan lembut.
Mereka bercengkrama layaknya seorang teman akrab. Hingga tanpa sadar, matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Memamerkan cahaya jingga yang menembus melewati jendela besar transparan disana.
"Sayang, aku akan mengantar pulang."
Agatha hanya mengangguk. Mereka pun segera kembali tanpa menyadari bahwa seorang gadis kecil dengan manik mata emas tengah menonton semuanya. Menyaksikan dari awal hingga akhir apa yang dilakukan mereka. Hanya saja, ia tak bisa mendengar percakapan keduanya karena jarak mereka cukup jauh.
"Kalau tuan Lucius begitu menyukai Nona Agatha. Maka aku akan menjadi dirinya. Aku akan meniru Nona Agatha. Mengenakan pakaian yang sama, sikap yang sama, perhiasan yang sama." Gumamnya. Ia berada di kuil hanya berniat untuk menghapus rasa sedihnya karena hinaan para bangsawan. Namun tak disangka ia malah menyaksikan Nona Agatha dan Tuan Steven.
"Dewa, aku akan mengambil hiasan ini bersama dengan tuan Lucius suatu hari nanti. Tolong jaga baik-baik." Ujarnya dengan menyatukan tangan dan berdoa dengan khusyuk.
Note : Setelah ini akan ada time skip.
***
Tiga tahun kemudian,
Kediaman mewah berdominasi cokelat merah dengan pintu gerbang menjulang itu tak lagi sama. Kesunyian merapat di setiap penjuru ruangan. Tak ada lagi anak-anak yang bertengkar dan saling berbalas ejekan.Pesta kecil pun sudah tak sering diadakan. Tak jarang pula mereka merasakan hembusan angin yang begitu nyata dan detakan dari jarum jam yang seakan menggema.
Kini semua orang hanya berfokus pada urusan nya masing-masing. Para pelayan wanita menyapu, membersihkan kaca jendela, berkebun, dan masih banyak lagi. Sedangkan pelayan lelaki, mengurus kandang kuda dan beberapa ada yang menjadi juru masak di dapur.
Mereka benar-benar kehilangan keceriaan sejak nona pertama mereka telah resmi menikah dan dibawa untuk tinggal di kediaman Duke Max. Sedangkan tuan muda kedua mereka memilih berlatih sihir di menara pusat sejak dua tahun lalu. Hanya tersisa nona muda ketiga nya saja. Nona nya itu hanya berdiam diri di dalam kediaman dan terus-terusan belajar dibimbing sang guru.
"Bagus sekali kau sangat cepat menangkap semua yang ku katakan." Puji lelaki berambut perak acak-acakan itu. Ia hendak mengelus pucuk kepala gadis didepannya. Namun, tangannya segera ditahan oleh gadis itu. Ia sedikit kecewa.
Agatha tersenyum. "Maaf Tuan Ray, Saya sudah bukan lagi gadis kecil berusia empat belas tahun. Orang lain bahkan ada yang mengira bahwa saya seorang Lady." Terangnya.
"Ha ha ha baiklah." Raymond tertawa canggung. Ia tak ingin membahasa masalah ini lebih lanjut. Jadi ia memutuskan untuk mengakhiri kelas. "Baiklah, hari ini cukup sampai disini dan besok adalah hari libur." Ujarnya sembari mengingatkan. Setelah mengatakan itu, Raymond bergegas keluar dari perpustakaan dan mengucapkan pamit.
Agatha pun sama, Ia keluar dari perpustakaan pengab itu. Ia kemudian berjalan ke arah kamar nya. Selang beberapa waktu, Ia akhirnya mencapai kamar. Agatha langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang dikelilingi hiasan karya tangan.
Pintu diketuk. Agatha berdehem untuk mengizinkan orang itu masuk. "Nona, ada surat untuk Anda." Lucy melapor dengan dua amplop putih polos di tangannya. Dengan hati-hati ia menghampiri nona nya yang masih terkapar lemas di ranjang.
Agatha yang menyadari pelayan setia nya telah berada disamping, segera bangun dari posisi. Ia merapikan gaunnya secara asal dan menerima uluran surat dari Lucy.
"Kali ini ada dua?" Agatha terheran. Biasanya hanya ada satu surat setiap minggunya. Tentu itu surat dari Steven yang terus mengirimi kabar. Namun, kali ini ada dua surat. Agatha membaca nama pengirimnya. Senyum terukir di bibir tipisnya.
Tanpa basa basi Agatha membaca surat itu dengan teliti. Surat pertama ternyata dari Steven. Lelaki itu berkata bahwa dirinya masih hidup dan kembali mengingatkan Agatha pada janjinya tiga tahun silam. Steven juga mengatakan bahwa Ia akan segera kembali dari peperangan sebentar lagi.
Sementara , surat kedua dari Lucius. Lelaki itu mengajak dirinya untuk pergi ke sebuah restoran dekat balai kota. Tentu Agatha begitu senang, karena selama ini , ia bosan hanya dengan berkutik pada buku-buku tebal pemberian Raymond.
"Lucy , siapkan aku air hangat dan gaun yang pas untuk kencan."
"Baik Nona." Lucy hanya mengangguk.
***
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘