
Happy Reading 😘
***
Beberapa minggu berlalu setelah kejadian itu. Agatha kini tengah mempersiapkan diri untuk menghadiri parade terbesar kota yang ia prediksi akan ada event antara Lucius dan Sheila.
"Demi hidupku, akan aku pastikan bahwa Lucius tidak akan bertemu Sheila." Agatha sudah bertekad. Jika ia menjauhi Lucius dan membiarkan lelaki itu dekat dengan Sheila. Maka cerita novelnya akan tetap sama. Gadis itu yakin, Duke Carrol akan menantang keputusan Lucius dan perbedaan pendapat akan mempengaruhi kedudukan Sang Duke di kalangan bangsawan. Duke akan dicap sebagai orang yang tidak lulus dalam mendidik anaknya karena pembatalan pertunangan. Dan reputasi Agatha pun menjadi semakin buruk.
Namun, beda hal nya jika pihak Duke lah yang membatalkan pertunangan. Para bangsawan pasti hanya akan mengira bahwa hubungan Kerajaan dan Duke Carrol tidak baik. Setelah itu, semuanya akan berjalan kembali seperti semula. Sayangnya cara agar Duke membatalkan pertunangan antara Lucius dengan Agatha sangatlah tidak mungkin. Karena Duke justru terus mendukung hubungan keduanya agar ekssitensi nya dikalangan bangsawan meningkat.
"Lucy kau sudah siapkan semua barang yang kuminta?" Agatha bertanya sebelum memasuki kereta kuda. Matahari belum nampak, namun Agatha sudah berkemas untuk pergi ke Istana.
Lucy mengangguk. "Sudah Nona." Balasnya dengan menunduk dan tangan yang menggenggam sebuah tas.
"Seharian ini aku akan menghabiskan waktu dengan Yang Mulia. Aku ingin kau ikut denganku dan membantuku." Perintah Agatha. Ini pertama kalinya gadis itu mengajak Lucy pergi ke Istana.
Gadis berambut cokelat itu mengangguk. "Baik Nona."
Dirasa sudah siap, Agatha dan Lucy pun bergegas masuk ke kereta kuda.
***
Beberapa saat kemudian, dua gadis itu turun dan segera memasuki istana.Mereka dipersilahkan menunggu di ruang khusus untuk tamu bangsawan. Diluar ruangan dikelilingi oleh penjaga, tetapi di dalam tidak, karena bangsawan sangat menjaga privasi.
"Kau?" Suara itu muncul bersamaan dengan langkah kaki yang terus mendekat ke arah Agatha.
Kedua gadis yang sedang duduk menunggu itu segera berdiri dan membungkukan badan. "Salam Yang Mulia Lucius yang bersinar di seluruh Kerajaan." Ujar Agatha.
Lucius duduk di kursi utama. "Ada apa?" Tanyanya langsung.
"Begini Yang Mulia, akhir-akhir ini saya merasa hubungan kita semakin merenggang. Saya cukup khawatir dengan hal itu. Oleh karena nya Saya harap Yang Mulia mau meluangkan waktu untuk bersama dengan saya sampai sore nanti. Lalu setelahnya Anda dan Saya akan menonton parade kota." Lontar gadis berambut merah itu dengan serius.
Ayolah, ayolah, jangan menolak. Demi masa depanku.
Lucius mengernyitkan dahinya. Sudah lama sekali, gadis dihadapannya tidak menempel padanya. Biasanya ia pasti akan merasa risih jika Agatha melakukan ini, namun entah mengapa kali ini berbeda. Ia tidak merasa risih lagi, justru merasa senang karena akhirnya Agatha kembali menemuinya.
"Baiklah, tidak masalah." Balas Lucius seadanya.
Terima Kasih Tuhan.
"Terima Kasih Yang Mulia. Berarti bolehkah Saya mulai? Atau haruskah Saya meminta izin Yang Mulia Raja untuk itu? Tanya Agatha dengan penuh antusias.
"Tidak perlu. Yang Mulia Raja sedang sibuk mengurus tugasnya."Ujar Lucius.
"Baiklah berarti langsung saja kita mulai?" Gadis itu kembali memastikan.
"Hmm." Aish lagi-lagi hanya deheman. Tapi tidak masalah! Karena setidaknya itu adalah deheman yang menunjukan kesetujuan Lucius.
"Kalau begitu, kita akan mulai dengan kelas melukis." Agatha segera memerintahkan Lucy untuk mengeluarkan kuas, cat dan kanvas kecil dari tas yang sedari tadi di bawanya. Setelah menyerahkan semua barang itu, Lucy meninggalkan Lucius dan Agatha.
Lucius dan Agatha duduk disebuah kursi bundar berukuran kecil dan mulai memainkan jemari mereka untuk melukiskan sesuatu. Setelah cukup lama, lukisan Agatha sudah siap. Sementara Lucius terlihat masih sibuk. Dalam kesibukan itu, Agatha memikirkan ide untuk menggoda Lucius. Meski dikehidupan sebelumnya ia tidak pernah merasakan yang namanya pacaran. Namun, ia termasuk maniak novel romantis. Jadi hal ini sedikit mudah.
Gadis itu melirik ke arah Lucius."Yang Mulia, dulu saya selalu menentang jika ada yang berkata bahwa di dunia ini ada seseorang yang lebih indah dari sebuah lukisan. Namun, setelah melihat Anda saya yakin hal itu benar adanya." Agatha menatap lekat Lucius.
"Kau mengejekku hah?" Sahut lelaki itu yang membuat Agatha bingung dengan reaksi Lucius yang tidak sesuai ekspetasi.
"Eh?"
"Jangan berpura-pura. Kau tau kan lukisanku sangat buruk. Jadi kau membandingkan wajahku dengan lukisan yang aku buat ini?" Tuding Lucius sembari memperlihatkan karyanya pada Agatha. Gadis itu ingin menangis dan tertawa secara bersamaan.
"Saya tidak bermaksud demikian. Sungguh wajah Anda sangatlah indah, bahkan melebihi lukisan ini." dengan gugup Agatha segera menunjukan lukisannya. Lukisan Agatha berisi sebuah gambar lelaki tampan impiannya.
Lelaki itu hanya terdiam. Tidak tau harus membalas apa. Tetapi di dalam hatinya ia merasa cukup senang, Agatha kembali menyanjugnya seperti dulu.
Tenang, masih ada kelas berikutnya.
"Ekhem! Yang Mulia, sembari menunggu lukisan ini kering. Ada baiknya kita memasak hidangan untuk siang nanti." Lontar Agatha dengan yakinnya.
Lucius memandang dengan datar. "Disini ada banyak pelayan." Sahutnya.
"Tidak, tidak. Kali ini kita harus memasak sendiri, jika pelayan yang memasak, sensasinya akan sama saja dan itu membosankan. Beda hal nya jika kita yang memasak, maka kita akan merasa puas saat memakannya, apalagi jika kita berhasil dan rasa masakannya enak." Terang Agatha dengan keyakinan menggebu.
Dengan berat hati, Lucius pun mengikuti perkataan Agatha. Mereka berdua akhirnya menuju dapur. Para pelayan disana keheranan dan tampak rasa takut di wajah mereka.
"Maaf Yang Mulia, jika masakan kami tidak sesuai dengan selera Anda, bisakah Anda memberi kesempatan kami untuk memperbaikinya?" Ujar seorang lelaki paruh baya yang merupakan Kepala dapur dengan menunduk.
"Tidak perlu. Kalian semua keluar lah dari sini!" Titah Lucius. Semua pelayan dapur meninggalkan tugas mereka dan menuruti kemauan lelaki itu.
Agatha tersenyum senang. "Baiklah, mari kita mulai." Ujar Agatha. Ia segera mengenakan celemek yang tersedia di gantungan dapur. Mereka pun mulai memasak. Sementara, para pelayan termasuk Lucy hanya mendengarkan di luar dapur. Namun....
Trang
Du**ng
Prang
Bruk
Ctreng
Mendengar bunyi-bunyian yang timbul dari dalam dapur, perasaan Lucy menjadi tidak enak. Ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Yang Mulia, Nona, apa disana baik-baik saja?" Tanya gadis itu setengah panik.
Tak ada jawaban. Namun tak beberapa lama, Agatha keluar dengan gaun yang dilumuri tepung dan Lucius pun dalam keadaan yang sama. Gadis bermabut merah itu terbatuk.
"Uhuk, Uhuk, iya semuanya baik-baik saja. Hanya terjadi kecelakaan kecil." Balasnya.
Kenapa lelaki itu sangat...sangat...huh...jika bukan demi masa depanku. Aku tidak akan mau berada didekatnya.
"Nona sebaiknya Anda mengganti gaun Anda." Ujar Lucy yang masih setia menenteng sebuah tas berukuran cukup besar. Ia merasa cemas dengan kondisi Nona nya yang dipenuhi tepung.
Agatha mengangguk pasrah. "Baiklah." Ujarnya.
Tenang masih ada kelas berikutnya.
***
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘
***
Bila berkenan, silahkan kunjungi novel keduaku :
" Terjebak Dalam Game "
Bisa langsung cek profileku. Terimakasih😘