
Happy Reading 😘
.
.
.
Seterusnya, acara berjalan dengan lancar. Ruangan itu terasa sesak dengan dipenuhi sorak bahagia meski sebenarnya, mereka ingin melemparkan sorak protes di belakang. Para tamu yang hadir yaitu rakyat dan bangsawan, dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia.
Disana juga terlihat Steven yang tengah menahan amarahnya agar tak membeludak. Sebentar, ia menenangkan pikirannya.
Sesosok lelaki ber-iris hijau itu nampak menyapu pandangan ke sekitar dengan jeli. Tersungging senyum di bibirnya tatkala menemukan orang yang dicari. Steven berjalan mendekati orang itu. Sebenarnya ini kali pertama ia bertemu dengan orang itu. Namun, Wim~ bawahan Steven~telah menyelidiki dan memberikan lukisan orang itu.
"Duke Carrol." Seru Steven. Lelaki paruh baya berambut pirang yang tengah mengapit segelas wine itu menyelingak. Duke Carrol mengangkat salah satu alisnya.
Steven mendekat ke arah sang Duke. Lelaki bernama Steven itu mengenakan pakaian formal dengan banyak plakat yang menempel di baju nya.
"Ada apa?" Tanya Duke Carrol singkat. Sebelum mengutarakan maksudnya, lelaki itu memberi salam hormat.
Agatha yang tengah duduk di sebelah Lucius tak sengaja melihat pemandangan itu. Kening nya berkerut. Gadis bergaun merah itu khawatir tentang isi pembicaraan yang akan dikatakan Steven pada Duke Carrol. Ia ingin berdiri dan menghampiri mereka, akan tetapi barusaja bangun dari posisi, tangannya sudah dicegat oleh Lucius. Alhasil, Agatha tidak jadi mengikuti.
"Begini Tuan Duke, bagaimana jika kita sedikit menggeser posisi dari ruang ini. Saya ingin membicarakan sesuatu." Ungkap Steven dengan senyuman. Sang Duke nampak menyatukan alisnya. Meski tak mengenal Steven , tapi Duke dapat memastikan bahwa lelaki itu cukup berpangkat. Terbukti dengan keberanian Steven dalam menyapa dirinya.
"Ya baiklah." Sahut Duke singkat.
Mereka beranjak menjauhi para bangsawan yang terlena dalam perjamuan. Sang Duke tak melepas wine di tangannya dengan alasan Ia terlalu menyukai itu.
Steven dan Duke Carrol memilih berada di sudut ruangan yang sepi dan cukup tertutup oleh tirai.
"Jadi?"
"Pertama, perkenalkan Saya Steven de Gerald. Pangeran dari daerah Rhodes." Steven sedikit canggung dengan gaya bicara yang begitu formal. Tapi mau bagimanapun , Ia harus menanamkan citra yang baik di hadapan Duke Carrol.
"Saya tidak tau apakah tempat dan waktu ini cocok untuk memperbincangkan tujuan saya." Ia menjeda kalimatnya. Lelaki itu menyelinguk ke kanan ke kiri untuk memastikan tak ada orang yang menguping. "Saya ingin melamar putri Anda." Imbuhnya dengan memelankan nada suara.
"Hah?!" Hampir saja Sang Duke jantungan. Belakangan ini, tak ada lamaran pada Agatha. Hanya karena gadis itu telah memiliki reputasi buruk di kalangan bangsawan , sangat berbeda dengan Anastasia yang selalu diincar oleh para pelamar. Bahkan Duke harus mengandalkan kedudukan nya agar Agatha menjadi Putri Mahkota. Namun kini, lelaki dihadapannya ingin melamar putri nya itu.
"Apa kau yakin? Gadis itu sudah mengumumkan pertunangannya dan akan menjadi Putri Mahkota Korintus." Ujar Duke Carrol memastikan.
"Ya , Saya sangat yakin."
Mendengar itu, Duke Carrol menghela nafas dengan otak yang terus berpikir . "Aku pernah mendengar bahwa Putra Mahkota daerah Rhodes itu keturunan selir, jelas itu melanggar aturan yang ada. Dimana seharusnya keturunan selir tak diperbolehkan memiliki posisi penting di kerajaan. Dan ada rumor yang beredar bahwa anak kandung dari mendiang ratu lebih memilih menjadi pangeran. Kau kah itu?" Jelasnya dengan pertanyaan di akhir.
Steven mengangguk. "Ya." Sahutnya.
"Rumornya Sang Pangeran adalah seorang pemain wanita yang berkeluyuran dengan alasan mengelana." Perkataan itu mampu menusuk hati terdalam Steven. Sial! Bagaimana jika dirinya langsung ditolak di awal! Walau gundah, wajah nya berusaha tenang.
Duke Carrol melanjutkan. "Putriku itu sangat berharga. Aku tidak ingin masa depannya terganggu hanya karena perasaan sesaat dari mu. Sebenarnya aku tidak masalah dengan pernikahan politik. Tapi kau kan pemain wanita, kau bisa saja menambah selir atau menceraikan putriku. Jadi, aku memutuskan untuk memberikan dua syarat untuk membuktikan ketulusanmu." Terangnya.
Sebelum memberitahu syaratnya, Duke Carrol terlebih dahulu meneguk wine agar pikirannya jernih. "Berhembus kabar bahwa Raja daerah Rhodes tengah dilanda sakit keras. Kau tahukan disaat-saat seperti itu, kedudukan pangeran bisa saja terus ditekan oleh putra mahkota." Lontarnya.
"Jadi aku ingin kau merebut kursi itu. Kursi putra mahkota di sana yang seharusnya menjadi hak mu. Itulah syarat pertama. Apa kau sanggup?" Sambung Duke Carrol.
"Tentu. Itu mudah."
"Syarat kedua akan aku beritahu setelah kau berhasil memenuhi syarat pertama."
Dalam hati, Steven ingin mengumpat tak setuju. Bagaimana jika syarat kedua itu mustahil untuk dilakukan.
"Maaf Tuan Duke---"
"Jika kau menolak, aku anggap kau tak memenuhi syarat."
Mendengar itu Steven hanya bungkam.
***
Matahari mulai menjulang tinggi, keringat bercucuran di kening tamu yang hadir. Kebanyakan dari mereka memiliki berbagai urusan untuk dikerjakan. Kerumunan bangsawan itu memutuskan untuk pulang setelah meminta izin raja.Begitupun dengan rakyat, mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan.
Di ujung sana , terlihat Agatha celingukan mencari dimana para anggota keluarganya diantara para tamu yang berhambur hendak pulang.
Tak berapa lama, tangan nya dicekal oleh sesorang. Gadis itu menyelingak terkejut. Tanpa berlama-lama, orang itu menarik Agatha melewati tamu yang berlalu lalang.
"Steve, kau akan membawaku kemana?" Tanya nya. Namun tak ada respon dari lelaki yang tengah menarik nya. Setelah sampai di luar , Steven meminta Agatha untuk menaiki kuda hitam miliknya yang telah siapkan oleh Wim.
"Untuk apa? Katakan!" Gertak Agatha yang kesal sedari tadi tak mendapat tanggapan.
"Sayang cepat lah. Turuti saja." Steven memaksa.
"Tidak!"
Mendengar bantahan Agatha, Steven mendesis. Ia terpaksa menarik pinggang Agatha dan menggendongnya. Lelaki itu kemudian menaruh Agatha ke atas kuda. Dengan cekatan , Steven pun segera naik ke atas kuda. Ia mulai memacu kuda agar mengikuti perintah. Sementara Agatha, terus bertanya dan memberontak.
"Dasar gila."
"Ya aku gila karena kau."
Beberapa saat kemudian, Steven menghentikan kudanya di sebuah bangunan mewah tetapi terlihat sepi. Lelaki bersurai hijau itu menurunkan Agatha dengan hati-hati.
"Hei kenapa kau membawaku ke kuil?"
Steven kembali tak menjawab, Ia justru menggandeng tangan gadis bergaun merah itu dan menarik nya ke dalam kuil. Agatha terus memberontak dan kesal, namun itu semua tak dihiraukannya.
Mereka akhirnya tiba dijantung kuil. Disana terdapat banyak bangku panjang berjejer rapi di kanan dan kiri. Steven membawa Agatha tepat didepan patung dewa. Setelah itu, Steven akhirnya melepaskan cengkraman tangannya.
"Apa-apaan ini! Apa maksudnya?"
***
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘
***
Bila berkenan, silahkan kunjungi novel keduaku :
" Terjebak Dalam Game "
Bisa langsung cek profileku. Terimakasih😘