Menjadi Antagonis Novel

Menjadi Antagonis Novel
Episode 36


Happy Reading 😘


.


.


.


Bulan demi bulan melesat begitu cepat. Tak terasa sudah hampir tiga bulan gadis itu tidak keluar kediaman. Mungkin Ia keluar hanya untuk olahraga atau sekedar mencari angin segar. Niat Agatha begitu kukuh hingga batu terbesar pun tak mungkin bisa meruntuhkannya.


Kini tibalah saat nya untuk mengumumkan secara resmi pertunangan Agatha dan Lucius. Sebenarnya gadis itu sudah banyak mengulur waktu agar pengumuman resmi diundur. Namun apa daya, tanpa sepengetahuan Agatha, Raja telah membagikan undangan kepada pada bangsawan dan masyarakat untuk hadir ke perjamuan besar-besaran di istana. Yah tentunya untuk membahas calon tunangan putra mahkota.


"Wah Nona terlihat sangat cantik." Lucy memuji.


Gadis berambut merah itu justru tak senang, "Sudah kukatakan jangan terlalu mencolok." Kesal nya. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin. Rambut nya yang digelung ke atas dan menyisakan beberapa helai di depan , terlihat begitu manis.


"Huh pada dasarnya wajah Agatha memang sudah terlalu cantik." Ia bergumam. Agatha mengenakan gaun merah darah dengan pita berwarna hitam yang mengikat pinggangnya.


Sebuah ketukan membuyarkan lamunan Agatha yang tengah memandang dirinya di cermin. "Sudah waktu nya berangkat." Ujar Anastasia dengan wajah datar.


"Baik." Sahut Agatha. Ia mulai bangun dari posisi dan Lucy membantu gadis itu untuk membenahi gaun yang bercecer di lantai. Melihat itu, Agatha berdecak, sebenarnya kenapa gaun nya harus seribet itu padahal ini hanya pengumuman bukan lamaran ataupun pernikahan.


***


Pagi hari,


Istana Korintus,


Di luar bangunan mewah bernuansa putih itu , telah ramai rakyat berbondong-bondong untuk menyaksikan siapa gerangan yang akan menjadi Putri Mahkota kelak. Mereka disuguhi oleh berbagai hidangan ringan yang tersaji rapi di atas meja makanan.


Sementara di bagian dalam Istana , tampak pemandangan glamour ala abad pertengahan yang menghiasi setiap sudut ruangan. Para bangsawan berbisik dan menantikan hal yang sama. Keluarga Carrol pun termasuk diantara mereka. Hanya saja Carrol sedikit menyelinap dan mengurangi interaksi dengan bangsawan lainnya.


"Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Putra Mahkota memasuki ruangan." Pekik seorang pengawal yang berjaga.


Raja dan Putra Mahkota saling berdampingan memasuki ruangan. Mereka mengenakan jaket bulu dengan pernak-pernik di sekitarnya. Mahkota pun tak luput menjadi hiasan sang raja. Lucius duduk dan Raja pun sama.


"Baiklah rakyat ku dan para bangsawan yang telah hadir. Langsung saja." Raja menutup matanya sejenak lalu kembali membuka nya perlahan. Pandangan Raja jelalatan kesana kemari, mencoba mencari keberadaan gadis yang akan menjadi menantu nya diantara kerumuman.


Setelah menemukan, lelaki berkumis tebal itu tersenyum. "Aku mengumumkan bahwa Putri dari Duke Carrol yang bernama Agatha Loren de Carrol adalah tunangan Putra Mahkota Lucius dan akan menjadi Putri Mahkota selanjutnya." Ujar nya lantang. Sontak saja para bangsawan mulai gaduh dan memperbincangkan hal tersebut.


"Putri Duke Carrol? Setauku Duke hanya memiliki dua putri. Kalau yang pertama sudah lamaran itu berarti putri terakhirnya, rambut merah si kasar." A


"Huh itu pasti karena kedudukan Duke." C


"Hah? Duke hanya punya dua putri?" D


Melihat aula berubah gaduh, para pengawal di sebelah raja langsung bertindak. "Diam!" Satu seruan mampu menenangkan aula.


Setelah tenang, Raja mempersilahkan Agatha untuk maju ke depan dan menampakan sosok nya pada para bangsawan dan rakyat~meski rakyat hanya bisa melongok dengan berjinjit.


Agatha mengangkat gaunya dibantu oleh Lucy. Agatha memang sengaja membawa Lucy ikut bersama dengannya agar bisa membantu. Setelah tertata, gadis ber-iris mata biru itu berlenggang maju ke arah depan. Para bangsawan yang menyadari itu, langsung minggir dan membuka jalan.


Dengan hati-hati, Agatha berjalan menuju singgasana. Namun, saat ia hampir selesai menuntaskan langkahnya melewati para bangsawan, tiba-tiba dari kerumunan itu terdorong seorang gadis kecil dengan rambut putih emas. Gadis itu mengenakan gaun sama mewahnya dengan Agatha. Rambut nya digerai dan diberi hiasan, menampilkan kesan elegan.


Sontak, mata para bangsawan tertuju pada kedua gadis itu. Yang mana yang tunangan Lucius? Begitu yang mereka pikirkan. Diantara mereka memang ada yang masih awam dengan putri duke. Tetapi ada juga yang mengetahui karena rambut merahnya.


"Yang rambut merah atau putih emas?"


"Entahlah! Aku juga tidak peduli."


"Yang merah , yang benar."


"Hah? Kupikir yang putih emas, dia terlihat lebih cocok."


"Hmm seperti nya yang merah. Lihat! Penampilan nya jauh lebih berkelas."


Begitulah kasak kusuk yang terjadi. Mata bangsawan yang terus menatap Agatha, membuat gadis itu risih. Lucius yang menyadari hal itu, langsung berdiri dan menuju Agatha.


Lelaki berperawakan tinggi itu menatap lurus ke arah Agatha, seakan Sheila dan yang lain tak terlihat sama sekali.


"Tuan." Lirih Sheila. Wajahnya memerah. Mungkin kah Tuan Lucius akan menjemput nya? Namun pikiran itu segera tertampik setelah Lucius menggenggam tangan Agatha dan membawa gadis itu ke atas singgasana.


"Dasar tidak tau malu! tatapan apa itu tadi!" Kecam salah seorang bangsawan diantara kerumunan yang ada---pada Sheila.


Gadis bernama Sheila itu menunduk. Bukankah 'Orang Itu' sudah berjanji jika dirinya datang dan muncul di saat-saat pengumuman, maka Tuan Lucius akan menggenggam tangannta erat dan tak akan melepaskan nya. Tapi mengapa semua nya berbeda? Gadis itu kemudian berlari menerobos orang-orang.


Sementara, disana juga ada seorang lelaki ber-iris hijau yang menatap nanar ke arah kedua pasangan itu. Ia masih tak rela melepaskan Agatha begitu saja. Padahal dirinya adalah seorang pemain gadis yang sering menyakiti hati para gadis. Namun, kenapa kini harus hatinya yang seakan dipermainkan. Apakah ini semua karma?


***


Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘