
Happy Reading 😘
.
.
.
Kapal Pesiar,
Masih dalam keadaan malam yang sama. Malam perpisahan yang menyesakan kedua orang itu. Meski raut wajah terlihat ceria , namun beda dengan kondisi hati yang merasa parau.
Sama hal nya dengan seorang gadis bermata emas itu. Ia merasa kesepian selama beberapa bulan belakangan. Walau dikelilingi pelayan, gadis itu merasa tak cukup. Karena orang yang diharapkan tak kunjung datang menemui nya.Keinginan sederhana yang sulit terwujud. Dibumbui rasa rindu tidaklah menyenangkan.
Hingga pada akhirnya, terdengar kabar bahwa academy Putra Mahkota mengadakan pesta halloween. Ini sebuah kesempatan. Ia tidak bisa terus terus san menemui Lucius di Istana karena Lucius yang melarangnya.
Maka dari itu, gadis pemilik mata emas memutuskan untuk menemui sang pujaan nya di sini. Di kapal pesiar. Ia memiliki keberuntungan yang bagus karena salah satu dari pelayan yang menemaninya ternyata adalah kawan akrab si penjaga pintu masuk. Berkat nya , gadis bernama Sheila itu diperbolehkan menyelinap masuk hanya dengan syarat tidak mengacau di dalam pesta.
Ia mencari kesana kemari. Melewati orang yang berlalu lalang dengan kesenangan. Sosok Sheila bak seorang dewi di tengah kegelapan. Karena gaun yang dikenakan sama sekali tak mencerminkan halloween, Ia mengenakan gaun putih dan hiasan sederhana yang melingkar di kepalanya.
"Aw! Hei gunakan matamu dengan benar saat berjalan!" Bentak seorang gadis ketika Sheila tak sengaja menabraknya. Gadis itu gugup. "Ma-maaf." Ia berkata dengan terbata.
"Dasar tolol!" Ia kembali menghardik dan kemudian berlenggang pergi begitu saja.
Sheila menggigit bibir bawahnya. Umpatan yang gadis tadi lontar kan padanya membuat Sheila teringat pada si majikan nya dulu.
Sheila kembali mencari Lucius di tengah keramaian yang memadati. Sudah tak terhitung gadis itu terjatuh karena orang menabraknya. Tapi ia tak peduli , yang terpenting adalah menemui sang tuan.
Beberapa saat kemudian, matanya terpaku pada seorang gadis berambut merah yang tengah berpelukan dengan lelaki. Ia terkejut. Matanya berubah sendu.
"Apakah Nona Agatha tidak menyukai tuan?" Gadis itu kesal bahkan sangat kesal. Padahal banyak di luar sana yang menginginkan tuan Lucius termasuk dirinya. Tapi bagaimana bisa tunangan nya sendiri malah berpelukan dengan lelaki asing. Sheila menggengam tangan nya erat. Ia berencana memperingatkan Agatha.
"Ukh! Dasar bodoh! Kau menumpahkan jus ku." Gadis itu kembali dimarahi oleh orang yang tak dikenal. Sheila tak sengaja menabrak orang hingga minuman yang dipegang orang itu jatuh.
Gadis dengan mata emas itu membungkuk berulang dan melontarkan kata maaf.
Sheila kembali mengedarkan pandangan. Netra nya kini menangkap nona Agatha tengah berbincang dengan lelaki yang barusaja dipeluknya, yang tak lain adalah Peter. Sheila melaju cepat ke arah Agatha. Kaki yang sudah lelah itu mendadak kembali kuat.
"No-Nona Agatha! " gertak Sheila menghentikan percakapan gadis dihadapannya. "Apa yang Anda lakukan dengan dia? Bukankah Anda sudah bertuna----ukh!" Ucapannya tercekat ketika Louis menarik lengan Sheila dengan kasar.
PLAK!
Satu tamparan melayang mulus ke pipi gadis itu. Sheila merasakan panas di pipinya. Pinggiran bibir nya pun mengeluarkan darah. Pelupuk mata gadis itu mulai dipenuhi cairan bening.
"Berani sekali kau berteriak pada keluarga ku!" Kecam Louis. "A-Aku tidak...." Gadis itu tak bisa menyelesaikan kalimatnya sendiri. Suara nya seakan tercekik.
Sheila berusaha mendongak dan menatap Louis. Ia kemudian berkata."Ta-Tapi Nona Agatha sudah berhianat!"
PLAK!
Tamparan kedua sukses membuat air mata Sheila berjatuhan. Sakit. Benar-benar sakit. Ia memegangi kedua pipinya.
"Berani sekali kau menuduh Agatha!"
"Kak." Agatha menepuk bahu Louis. Gadis bernama Agatha itu ingin membuat Louis sadar bahwa Ia telah menarik perhatian banyak orang. Gadis itu tak mau ada rumor tak enak yang beredar.
"Wah Nona Carrol berhianat? Pada siapa? "
"Entahlah. Dan siapa juga gadis itu, aku tak pernah melihat nya di academy."
"Ah iya! Itu gadis bodoh yang menabraku dan membuat gaunku kotor ! Gadis sialan , tampar saja lagi!"
"Tampar. Tampar. Tampar."
Banyak orang bersorak mengingkan Louis untuk kembali menindas Sheila. Sementara Sheila hanya bisa menangis. Tubuh dan hatinya benar-benar sakit. Padahal ia hanya ingin memberi peringatan pada nona Agatha agar tidak menghianati Lucius. Tapi kenapa masalahnya bertambah rumit. Kenapa malah dirinya yang disalahkan dan dipermalukan.
"Ada apa ini?" Lucius ikut berhadir setelah menyadari kerumunan orang itu banyak yang menyebut nama Agatha.
"Gadis kecil, syukurlah kau baik-baik saja." Steven mengekori Lucius. Gosip beredar dengan sangat cepat hingga terdengar ke telinga nya. Sementara Julian tetap datang untuk hanya sekedar memastikan Agatha baik-baik saja.
"Semua nya kembali dan nikmati pesta nya!" Lucius memerintah. Semua anak kembali ke aktivitas mereka masing-masing.
"Oh ternyata ada Nona manis. Sedang apa kau disini." Steven melirik ke arah Sheila. Gadis itu mendongak. Dengan mata buram , Sheila berusaha memfokuskan pandangannya. Dihadapannya ada Tuan bermata hijau dan Tuan Lucius!
Akhirnya aku menemukan tuan Lucius.
Dengan cepat Sheila melesat ke arah Lucius. "Tuan." Lirih nya pelan. Lucius tak menanggapi.
Sheila menelan saliva nya kasar dan berusaha berbicara. "Tuan, Nona Agatha telah berhianat." Ujarnya pelan. Hal itu tentu membuat rahang Louis~kakak Agatha~ kembali mengeras. Ia sudah marah.
"Hei! Apa yang kau katakan! Gadis kecil ini tak mungkin berhianat...." Steven menyerobot. Ia menjeda kalimatnya dan berjalan ke arah Sheila. "....jangan berbuat bodoh kalau kau masih sayang pada nyawamu." Ujarnya sembali memegang pelan leher gadis itu.
"Apa yang Anda bicarakan Nona? Aku dan Agatha hanya berteman." Peter angkat suara. Ia benar-benar tak mengerti dengan yang barusaja terjadi.
"Tapi kalian tadi---"
"Itu hanya pelukan persahabatan. Peter, dia akan pindah. Apa kau mengerti? Oh iya.....aku yakin kau tidak akan mengerti karena kau sama sekali tak memiliki sahabat , benar kan?"Cerocos Agatha. Ia sudah muak dengan drama yang Sheila buat.
Sheila menundukan kepalanya. Air matanya kembali terjatuh. Ia memang tak memiliki teman apalagi sahabat karena sedari kecil Ia dibesarkan di kandang para budak. Perkataan nona Agatha barusan itu benar-benar menyakitkan.
"Nona Anda terlalu kasar hiks." Gumam Sheila di tengah isakan.
"Kasar? Lalu saat kau menuduhku , apa itu tidak kasar? Apa kau tidak tau bagaimana jadi nya jika tersebar rumor dan membuat namaku buruk heh?!" Agatha berkata dengan jengah. Gadis itu enggan menatap wajah Sheila yang dipenuhi kucuran air mata.
"Katakan maaf pada Agatha." Lucuis memerintah.
"Eh? Ta-Tapi." Sheila tak bisa menentang Lucius. Ia mencengkram jemari nya kuat. "Maaf. Maafkan Saya Nona." Dengan berat hati gadis itu menuruti perintah.
"Mulai besok aku akan mengirimu ke penginapan." Lucius berkata dengan nada begitu dingin. Ia kemudian pergi begitu saja. Begitupun dengan yang lainnya.
Sheila masih tak percaya dengan ucapan Lucius. Gadis berambut putih keemasan itu terperanjat lemas. Kakinya sudah tak kuat menahan berat badan. "T-Tuan membuang ku hiks." Ia kembali menangis. Sebenarnya mengapa dia yang disalahkan?
"Tidak! Tidak bisa!" Dengan susah payah gadis itu bangkit. Ia kemudian mengejar Lucius. Beruntung lelaki itu masih berada dalam jangkauan matanya.
***
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘