Menjadi Antagonis Novel

Menjadi Antagonis Novel
Episode 6


Keluarga Carrol memutuskan meningalkan perjamuan lebih awal dari semestinya karena Duke Carrol mendadak ada urusan. Entah urusan apa itu, yang jelas Sang Duke terlihat sangat tergesa. Ketiga anaknya pun terpaksa harus kembali.


Kediaman Carrol,


Agatha tengah duduk santai di pohon besar yang ada di taman untuk menikmati suasana sore. Ia membawa sebuah buku dan menyergap secangkir teh ditangannya.


“ Kapan ya Sheila muncul.” Meski sedang membaca namun pikiannya yang liar tetap membaur ke berbagai arah. Ia masih tak bisa tenang selama statusnya masih sebagai tunangan Lucius.


“ Ah iya!Dia akan bertemu tokoh utama pria saat parade terbesar kota diadakan. Tokoh utama wanita adalah seorang gadis yang merupakan budak seorang Baron yang berusaha kabur. Dirinya menyamar sebagai salah satu anggota parade itu dan BOOM! si gadis tak sengaja menabrak tokoh utama pria lalu kedua nya saling bertatapan. Setelahnya, si tokoh utama wanita mengatakan sesuatu yang membuat tokoh utama pria tertarik.” Agatha begitu mendalami kisah Lucius dan Sheila sambil membayangkan adegan romantis mereka, dirinya tak berani mengucapkan nama karena takut ada yang dengar. Ia menyesap teh yang sudah dibawanya sampai ludes.


“ Ternyata kau pandai berkayal ya.” Suara familiar itu muncul dari dahan tertinggi. Agatha sudah dapat menebaknya, itu Louis.


Agatha mendongak ke atas dan melemparkan tatapan penuh selidik.“ Sedang apa kakak disitu? Kakak menguping ya.”


Louis turun dari dahan pohon“ Apa yang aku dapatkan dengan mengupimu hah? Paling hanya kisah konyol yang kau katakan tadi.” Lontarnya sembari mendekat ke arah Agatha.


Tatapan Agatha tak berubah, ia masih setia dengan dahi yang berkerut dan mata melotot meminta penjelasan . Louis yang menyadari itu menjadi kikuk. “ Ekhem, dengar ya kisah nya ada bagian yang salah. Seharusnya tokoh utama pria hanya menjadikan gadis yang kau sebut itu sebagai budak saja.”Louis berkata dengan tangan bersilang.


Agatha menatap lurus ke arah kakaknya. “ Tau darimana kau kak? Dan kenapa tokoh utama pria hanya boleh menjadikan gadis itu sebagai budak?”


“ Itu tentu saja karena mereka tidak cocok. Aku yakin seratus persen, tokoh utama prianya pasti seorang bangsawan kan. Karena seorang bangsawan sudah terbiasa menjodohkan anak mereka sewaktu kecil, maka dapat disimpulkan bahwa tokoh utama pria itu sudah memiliki calon tunangan. Dan budak itu hanya menjadi halangan, kau paham?” Terang Louis dengan wajah tidak enak dipandang.


Agatha tertarik dengan jawaban kakanya itu. Ia kembali bertanya“ Tapi bagaimana jika sejak awal tokoh utama pria sangat membenci calon tunangannya. Karena dia tau calon tunangannya hanya menginginkan kekuasaan dan gelar saja?”


Lelaki berambut pirang itu nampak malas“ Kau pikir aku seleluasa itu untuk melanjutkan kisah konyolmu. Aku ada urusan.”Louis langsung menghilang begitu saja.


Agatha berdecak kesal. Tapi apa yang dikatakan Louis juga tidak sepenuhnya salah. Bagaimananpun Lucius sudah mempunyai calon tunangan, harusnya dia tidak seenaknya membatalkan pertunangan Agatha dan malah mengangkat Sheila sebagai tunangan dan juga Putri Mahkota. Itu tidak adil.


Sejak pembatalan pertunangan itu, sikap Agatha menjadi tidak keruan. Ia bahkan rela mempelajari sihir kegelapan hanya demi bisa bersanding dengan Lucius atau lebih tepatnya mendapatkan hak kekuasaannya. Agatha juga terus berusaha mencelakai Sheila.


“ Sebenernya Agatha gak sepenuhnya salah juga. Dia hanya mencoba mengambil apa yang menjadi hak nya, namun hanya caranya saja yang salah.” Gumam gadis berambut merah itu.


“ Aku tidak mau dipermalukan dengan adanya pembatalan pertunangan itu. Aku harus membatalkannya duluan sebelum Lucius yang melakukannya.” Agatha bergumam pelan dan menutup buku yang dibacanya.


***


Esperandto Academy,


Esperandto adalah sebuah sekolah yang memiliki dua bidang yaitu akademik dan sihir. Bagunan di sayap kiri berisi anak-anak yang padai sihir, sedangkan sayap sayap bagian kanan nya untuk anak yang tidak memiliki sihir. Anak-anak yang ahli dalam sihir hanya berjumlah 10 persen dan sisanya adalah anak murid biasa.


Agatha sendiri termasuk siswi yang tidak memiliki sihir. Agatha berlengang bingung setelah memasuki sebuah bangunan sekolah yang begitu besar. Bahkan sekolah itu lebih terlihat seperti sebuah kastil.


“Nona Carrol!” pekik seorang lelaki berambut perak yang tak lain adalah Peter. Ia berlari ke arah Agatha dengan merangkul beberapa buku dengan susah payah.


Agatha menyelingak. Matanya menyipit untuk memastikan orang yang telah menyapanya.


“ Pagi juga, Tuan Cyrano.”


“ Anu...tolong panggil saya Peter saja, Nona. Saya tidak biasa dipanggil seperti itu.” Peter tersenyum canggung. Ia menggaruk kepala bagian belakangnya.


“ Baiklah. Tapi kau juga panggil aku Agatha saja.”


“ Baik No—, maksudnya Agatha. Ayo masuk kelas.” Beruntung sekali Agatha dan Peter berada dalam satu kelas.


Dalam perjalanan mereka berbincang.


“ Peter, apa yang akan terjadi jika seorang anak tidak memiliki kemampuan sihir sejak kecil tapi ia ingin belajar sihir kegelapan?” Tanya Agatha sembari mengusap bagian punggungnya yang terasa nyeri akibat banyaknya buku didalam tas.


Peter berpikir sejenak. “ Menurut buku yang pernah Saya baca, pada awalnya anak itu akan baik-baik saja namun beberapa tahun kemudian jiwa anak itu akan termakan sedikit demi sedikit oleh sihir kegelapan itu.” Terangnya.


Agatha bergidik ngeri saat mendengarnya.


“ Lihat itu si pegganggu Putra Mahkota bersama dengan anak lelaki lain.”


“ Wah, sifatnya memang parah.”


“ Sudah kuduga dia itu pemain lelaki.”


Di sepanjang lorong, Agatha bertemu dengan segerombol gadis penggosip. Ia mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku kuku miliknya memutih.


“ Jangan keras-keras nanti dengar.”


“ Siapa peduli! Lihat lelaki yang disebelahnya itu aneh sekali. Tubuhnya begitu pucat dan tangan nya diperban pasti ulah si tolol itu.” Sekumpulan gadis itu tak berhenti melontarkan kata-kata kasar di sepanjang lorong.


“ Diam kalian semua! Berani bicara lagi, kupotong lidah kalian!” Gertak Agatha dengann tampang bersungut. Kesabarannya sudah habis. Sekarang, aura antogonis nya benar-benar terpancar jelas. Peter cukup dibuat terkejut dengan gertakan Agatha.


Seketika seisi lorong menjadi begitu senyap. Bukan tanpa alasan, namun mereka tau bahwa apapun yang Agatha katakan akan Ia lakukan.


“ Dia tak akan pernah berubah.” Tanpa Agatha sadari, seorang lelaki berambut hitam kecoketan tak sengaja melihat kejadian itu.Ya itu Lucius.


“ Ayo Peter kita pergi.” Agatha menggandeng lengan Peter dan berjalan cepat melalu para gadis yang bergidik ngeri. Sementara itu, Lucius terlihat mengerutkan kening nya, keheranan. Dulu Agatha tak memilki teman lelaki karena Agatha hanya mengincar dirinya. Namun mengapa sekarang malah dia bersama dengan anak lelaki itu.


Sebisa mungkin aku harus menemui Putra Mahkota dan membicarakan tentang pertunangan secepatnya. Pikir gadis itu.


***


Happy Reading😘


Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘