
Ketukan pintu sama sekali tak mengejutkan Duke Carrol yang tengah berkutat pada cangklong di tangan nya. Ia menyeringai dan menduga pasti itu adalah Agatha. Yah itu tentu saja, karena tidak mungkin itu Louis atau Anastasia.
"Masuk." Izin diberikan. Agatha segera membuka pintu dan masuk. Ia duduk berdiri tak jauh dari Duke Carrol. Jika perhatikan lebih jelas , bola mata gadis itu tidak fokus dan cairan bening telah mendesak akan keluar.
"Duke, saya ingin meminta izin dari Anda." Agatha sangat tergesa hingga lupa tak mengucapkan salam. Duke menyadari itu , namun dia memilih untuk diam.
"Ya. Katakan." Duke menaruh kaki nya di atas meja. Kemudian menghisap dalam cangklong dan menghembuskan asap ke udara. Membuat siapa saja yang tidak tahan akan mual.
Agatha mengehela nafas ringan. Ia mencoba menjauh dari kepulan asap."Duke tolong izinkan saya pergi ke Rhodes." Suara gadis itu bergetar. Agatha mencengkram jemari nya kuat untuk mendengar balasan dari tuan kediaman itu.
"Tidak boleh!"
Bagaikan petir di siang bolong, Agatha tersambar secara langsung. Ia mengenggeleng tidak percaya dan bersujud di karpet yang terbentang di seluruh ruang kerja. Hawa dingin begitu mencekam, seakan ingin meremukan tulangnya.
"Saya mohon Tuan Duke. Saya pasti akan kembali dalam beberapa hari." Gadis itu membuat permohonan dengan merendahkan harga diri. Ia benar-benar menempelkan kepala di karpet. Siapa yang akan menyangka, gadis seperti Agatha akan melakukan semua itu.
Disebrang sana, Duke kembali menghempaskan nafas, membuat asap mengepul ke permukaan. Siapa saja pasti akan sesak jika tidak kuat. "Baiklah akan aku izinkan, tapi kau pergi tak lebih dari lima hari dan juga lewat jalur yang lebih jauh."
Agatha tak berani protes. Telah dizinkan saja itu seperti berkah. Ia bangun dari posisinya dan membungkuk berulang pada Duke. "Terimakasih, duke." Lontarnya. "Saya akan pergi hari ini juga." Sambung Agatha. Duke hanya menganguk.
Agatha keluar dari ruangan itu dan kembali ke kamar.
"Lucy, segera persiapkan gaun yang akan kubawa ke Rhodes." Perintahnya pada Lucy. Gadis berambut keriting itu hanya mengangguk dengan tatan cengo.
***
Di luar, kereta kuda telah disiapkan. Ada dua jenis. Sejenak, ia berpikir, untuk apa harus membawa dua kereta kuda sedangkan ia hanya akan pergi lima hari? Kereta kuda milik keluarga Carrol memang terbilang lebih besar dari semestinya, jadi cukup untuk membawa dua orang beserta barang-barang.
Meski begitu, Agatha memilih untuk mengabaikan. Mungkin saja , kereta yang satunya untuk Duke Carrol yang akan pergi ke sebuah pertemuan. Agatha akhirnya masuk ke dalam dengan Lucy. Ia sengaja mengajak Lucy untuk membantunya membawa berbagai keperluan. Tak lupa, ia juga dikawal oleh Diaz Marcelo---kesatria pelindung miliknya.
"Paman , ayo jalan."
Titah Agatha. Kereta kuda pun berjalan menyusur ke jalanan. Selama di jalan, gadis berambut merah itu hanya diam termenung. Ia begitu panik jika tiba disana dan orang yang diharapkan justru---
Ah sial! Agatha tak sanggup menahan nya lagi hingga air mata nya keluar begitu deras tanpa izin.
"Nona tenanglah. Semua akan baik-baik saja." Lucy memberi semangat. Agatha hanya mengangguk dan mengusap air mata yang tak kunjung terhenti.
***
Beberapa hari kemudian, Ia telah tiba di daerah Rhodes. Agatha sedikit heran, jika daerah itu telah melalui perang panjang , maka setidaknya kondisi masyarakat belum pulih. Namun yang ia dapati justru masyarakat yang tengah berbondong-bondong menggelar sebuah pertunjukan. Bahkan masyarakatnya tampat begitu makmur , terlihat dari wajah mereka yang penuh binar kebahagiaan.
Apa mereka menggelar pertunjukan untuk kekalahan Steven?
Ia terperanjat lemas. Lucy langsung menuntun dan menenangkan Agatha.
"Lucy, bagaimana jika rumor itu benar. Bagaimana jika jasad Steven benar-benar telah disembunyikan?" Ia bertanya gugup. Seakan harapan telah pupus. Ia mengacak rambutnya kasar dan menggoyangkan pundak Lucy.
"Tidak disangka, aku menyambutmu kemari hanya untuk mendengarkanmu mengatakan itu, sayang." Suara bariton itu mampu membangkitkan asistensi Agatha. Ia langsung berbalik dan memastikan. Seketika tubuhnya kaku. Matanya yang membulat sempurna itu perlahan rapuh dan menteskan air mata, terselip sebuah rasa syukur disana.
"Steve." Gumamnya tak jelas dan hanya berupa gerak bibir saja.
Lelaki itu mendekati Agatha"Jangan menangis."Lontarnya kemudian.
"Ba-bagaimana aku tidak menangis. Kau memerintahkan orang untuk menemuiku dan mengatakan bahwa kau telah tiada heh?Bagaimana aku bisa tidak menangis!"
"Sayang , tenanglah."
"Dasar bodoh! pembohong! menyebalkan!" Ujar nya seraya memukul Steven.
Steven merangkul Agatha dengan sangat erat hingga orang lain tak bisa memisahkan barang sedikitpun. Ia tersenyum sangat puas dan melemparkan tatapan pada rakyat agar mereka berpura-pura tidak memperhatikan dirinya dan Agatha.
"Tenanglah, mulai sekarang aku akan selalu berada disisimu." Lirihnya dengan mengecup pucuk kepala Agatha.
"Aku tidak butuh. Aku hanya sedikit syok."
"Kalau begitu baiklah. Aku akan pergi." Ujarnya sembari melepas pelukan.
"Ja-jangan pergi!"
"Lalu untuk apa aku ada disini?"
"Aku tidak tau! Aku , aku hanya tidak senang saat kau pergi."
Steven mengusap pelan pipi Agatha agar air mata nakal itu hilang. "Steve, untuk apa kau membohongiku?" Tanya Agatha dengan sedikit terisak.
"Itu sebuah ujian yang diberikan Duke. Lagipula orang yang menemuimu itu adalah mantan putra mahkota Rhodes."
"Apa maksudnya? Mantan Putra Mahkota?"
"Kemana ?"
"Ikut saja." Ia membawa Agatha naik ke kuda hitam miliknya. Agatha pun pasrah dan mengikuti.Sementara Lucy dan Diaz, mereka juga diam-diam mengekori.
Tak berapa lama kemudian, Steven telah tiba di bangunan mewah dengan nuasan klasik. Di depan terdapat sebuah pintu mirip tembok yang menjulang tinggi. Setelah masuk, ada banyak pohon yang tertanam rapi mengelilingi bangunan megah. Di tengahnya terdapat sebuah pancuran besar dengan patung dewi yunani yang tengah memegang kendi. Bahkan tiang besar yang menyangga bangunan itu seperti terbuat dari emas.
Agatha tertegun dengan keindahan tempat itu. Ia hampir tak berkedip.
"Ayo." Steven kembali mengandeng jemari Agatha dan manariknya masuk. Di dalam, tak kalah mewah. Semua nya serba biru dan merah. Semua pelayan telah berjajar rapi menyambut mereka di kanan dan kiri.
Apa Steven memenangkan peperangan? Semua orang tunduk padanya.
Selang beberapa waktu , mereka akhirnya tiba disebuah ruangan dengan karpet merah yang menjulang di tengah. Ini seperti aula. Di dalam aula istana itu, telah banyak petinggi istana yang hadir. Kebanyakan dari mereka adalah lelaki paruh baya dan wanita muda. Agatha hanya bisa tersenyum saat salah satu daru mereka membungkuk hormat.
Steven maju ke depan , ke tingkat yang lebih tinggi. Dimana para bangsawan itu dapat menyaksikam mereka dengan jelas.
"Agatha Loren de Carrol, maukah kau menjadi ratu dari Rhodes dan mendampingiku memimpin pemerintahan ini?" Steven membungkuk dan mengeluarkan cincin berlian bermata ruby, para pembesarpun ikut membungkuk.
"T-tapi Steve, tuan du--"
"Anakku , terima saja jika kau mau. Yang Mulia Steven telah banyak berkorban untuk mu. Harta, nyawa dan waktu ia korbankan untuk mendapat restu dariku. Jadi jika kau mau kau bisa menerimanya. Restu telah aku berikan sejak Yang Mulia Steven memenangkan peperangan dua tahun lalu dan diangkat menjadi raja beberapa bulan lalu." Duke tiba-tiba muncul diantara kerumunan bangsawan. Hal itu membuat Agatha terkejut. Ternyata benar dugaannya, kereta kuda yang satunya lagi memang dipersiapkan untuk Duke. Agatha menghela nafas.
"Tapi Luciu---"
"Apa kau menyukainya?"
Mendengar Steven mengatakannya, gadis berambut merah itu jadi berpikir. Agatha memang tak memiliki perasaan dengan Lucius. Ia mendekati Lucius hanya agar memiliki masa depan cerah kelak. Namun, ia tak bisa terus-terusan membohongi perasaanya sendiri. Agatha malu mengakui ini, tapi ia sudah menyadari bahwa dirinya menyukai Steven sejak ia membeli informasi mengenai penyerangan daerah Rhodes. Saat itu ia benar-benar khawatir jika daerah rhodes diserang. Namun, ia mencoba memendamnya dalam-dalam dengan tujuan agar tak memengaruhi misinya dalam mendekati Lucius.
Sayangnya , dalam mengejar hati Lucius, ada seorang pengganggu yaitu Sheila. Hal itu membuat ia menduga bahwa kemungkinan untuk mendapatkan Lucius sepenuhnya , akan begitu sulit, karena keberadaan Sheila didukung oleh Raja Korintus. Perlahan, hubungan mereka merenggang. Akan tetapi, Agatha justru tak peduli. Hal itu terbukti dengan dirinya yang hampir tak mengunjungi istana selama bertahun-tahun.
"Tidak, aku tidak menyukainya." Ia menjeda.
"A-aku menerima mu." jawabnya dengan suara rendah. Mungkin hanya steven yang mendengar itu.
Steven membalalakan matanya. Ia benar-benar tak percaya dengan jawaban agatha barusan. Jadi ia tersenyum iseng. "Apa yang kau katakan? Aku tidak dengar. "
"Aku menerima mu! Aku mau mendampingimu!" Pekik nya keras hingga para bangsawan berdiri dan tepuk tangan.
"Bagus." Dengan wajah puas, Steven memberikan cincin berlian itu pada Agatha. Lucy dan Diazpun hadie disaat-saat terakhir. Beruntung mereka sempat melihat nona mereka dipasangkan cincin.
***
Beberapa hari dari itu, pertunanganpun diadakan. Agatha melepas posisinya sebagai putri mahkota korintus dan menjadi calon ratu dari daerah rhodes.
Duke Carrol pun terlihat begitu bahagia. Dirinya bisa berpindah ke faksi Argenrdite milik Duke Max dengan bebas. Ia juga lega karena kedua putrinya telah mendapatkan kedudukan berpengaruh di daerahnya masing-masing. Lelaki paruh baya itu merasa berhasil mendidik anak-anak gadisnya meski tanpa bantuan seorang istri. Hanya tinggal Louis yang menikah. Ah tiba-tiba terpikir oleh sang Duke , bagaimana jika acara pernikahan Agatha dibarengi dengan pertunangan Louis? Lagipula calon Louis---Ghea Kurl---adalah orang Rhodes. Pintu untuk menuju akses begitu mudah.
"Ayah, aku ingin menyampaikan kabar bahagia." Anastasia menghampiri Duke yang tengah menatap Agatha dan Steven dengan tatapan sendu.
"Ya?"
"Aku sedang mengandung anak dari Duke Max." Ia menjeda. " Kata dokter* usia nya sudah tiga bulan, maaf baru memberitahumu sekarang. " Lontar Anastasia. (* Gelar kedokteran pertama kali diberikan oleh Schola Medica Salernitana sekitar tahun 1000, termasuk diberikan kepada seorang perempuan, yakni Trota of Salerno . Gelar ini diakui secara hukum pada tahun 1137 oleh Ruggeru II dari Sisilia dan pada tahun 1231 oleh Kaisar Friedrich II, dalam Konstitusi Melfi . Sumber : Wikipedia :))
"Tidak apa-apa, putriku. Aku turut senang." Tutur sang Duke dengan memeluk Anastasia. Ini kali pertama Duke Carrol tak segan memeluk putrinya. Mungkin karena kebahagian berlimpah yang diberikan dihari itu.
***
Okey segini dulu, epilognya nanti malam atau besok ya. Sekalian sama pernikahanya.
Saya sangat sangat dan sangat berterimakasih bagi yang telah mengikuti novel ini hingga sekarang.
Sedikit cerita, alur cerita sudah saya selesaikan sejak januari 2021(Ingat, hanya alurnya saja) jadi tidak bisa dirubah sedikitpun. Maaf bagi yang tidak setuju Agatha dengan Steven.
***
Happy Reading 😘
***
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), ikuti author ANWi dan tambah favorit ya. Terima kasih😘
***
Bila berkenan bisa mampir ke novel saya
- Ibu Dari Pemeran Antagonis Novel