Menjadi Antagonis Novel

Menjadi Antagonis Novel
Episode 29


Happy Reading 😘


.


.


.


.


.


Agatha tengah berada dalam perjalanan pulang dari mansion setelah Ia memastikan bahwa Lucius telah kembali ke istana. Dirinya merasa begitu lega saat Lucius dan Sheila tidak berada dalam atap yang sama. Jadi tak perlu ada yang menjadi pikiran. Hanya saja yang membuatnya heran sekarang adalah , mengapa tiba-tiba Diaz ikut menjemput dirinya dengan menunggangi kuda sendiri.


Yah , meski begitu Agatha tak ambil pusing. Mungkin saja duke lah memerintahkan. Karena Diaz tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa seizin duke.


Gadis dengan manik biru itu menatap keramaian jalan dari jendela kecil sembari menopang dagunya. Tidak ada yang aneh, sampai sesosok wajah tak asing tengah berbincang dengan seseorang. Agatha melihat sosok wanita itu tengah membicarakan sesuatu yang serius. Seperti melakukan transaksi pembelian informasi rahasia.


Diperhatikannya lekat wanita itu. Agatha yakin bahwa wanita yang mengenakan jubah adalah Margaret. Di kepalanya terbalut jubah hitam. Namun, wajahnya masih tetap terlihat dari samping.


Alhasil gadis itu meminta si kusir untuk berhenti. Ia berencana mencari tau informasi apa yang wanita itu beli.


Beberapa saat kemudian, Margaret terlihat telah berhasil menyelesaikan negosisasinya. Ia kemudian pergi dengan hati-hati.


Agatha segera turun dari kereta kuda dengan ditemani Diaz untuk berjaga-jaga. Sementara Lucy tetap diam di kereta kuda tanpa mengetahui apapun.


"Sir Marcello , hentikan orang itu." Jari telunjuk Agatha ia arah kan ke orang yang baru saja berbincang dengan Margaret. Dengan cepat, orang itu berhasil diringkus oleh Diaz. Agatha memerintahkan lelaki paruh baya bernama Diaz Marcello itu untuk membawa tawanannya ke gang sempit yang sepi.


"Katakan apa yang baru saja dibeli oleh orang tadi?!" Gadis itu menekan tengkuk lelaki berkacamata di hadapannya. Terlihat lelaki itu sangat marah. Ia menggertakan giginya. "Anak kecil sepertimu lebih baik bermain saja." Hardiknya.


Agatha menampar kasar pipi lelaki itu. "Katakan!" Ia meninggikan nada suara nya.


Kening lelaki itu berkerut. "Itu rahasia. Tapi jika kau mau membayar lebih, maka aku akan mengatakannya." Tawarnya.


Agatha menyeringai. "Baiklah. Aku akan membayarmu." Gadis bermanik biru itu mengeluarkan dua buah kantung berisi koin emas. Koin-koin itu ia dapatkan dari hasil memenangkan kompetisi berkuda.


"Satu juta koin emas."


"Kalau begitu , sama saja aku rugi." Timpal si lelaki.


Agatha menghela nafas. Mencoba untuk bersabar. Gadis itu kembali mengeluarkan kantung ketiga nya yang ia dapat dari kasino.


"Dua juta koin emas."Mendengar nominal itu, si lelaki penjual informasi tak bisa berpaling. Matanya menatap lapar ke arah tiga kantung di tangan Agatha. Ia meneguk saliva nya. "Penyerangan diam diam pada daerah hijau oleh daerah Firenze esok hari. Dan skandal korupsi Duke daerah Firenz." Lontarnya.


"Daerah hijau?" Alis Agatha terangkat sebelah.


"Iya, itu adalah julukan dari daerah Rhodes karena orang-orang disana memiliki manik dan rambut hijau. Kedua daerah itu memang sering berperang sejak lama. Sudah kuduga , anak-anak seperti mu lebih baik bermain saja." Terang lelaki itu dengan mata yang terus setia menatap kantung.


"Benar Nona , setau Saya ada orang dari daerah Rhodes dengan rambut dan manik hijau yang sempat berkunjung ke kediaman." Diaz memperkuat kalimat si lelaki berkacamata.


Rambut hijau, mata hijau dan pernah berkunjung ke kediaman. Tidak salah lagi, daerah Steven lah yang akan diserang diam-diam. Pikir gadis itu.


"Tinggal dimana keluargamu?" Agatha bertanya. Tak ada jawaban. "Dimana!"


"D- di daerah Penethes pusat ibu kota, distrik ke 8 rumah nomer 311." Sahut nya cepat.


"Baiklah, Sir Marcello, ayo kita kembali."


"Tapi Nona, orang ini sudah melihat wajah kita." Ujar Diaz sembari melirik orang yang ia sekap kedua lengannya.


Sontak saja si lelaki penjual informasi terkejut. Matanya melotot sempurna. "Eh? Ini tidak sesuai kesepakatan." Protes nya.


Agatha menyeringai."Tentu saja ini sesuai kesepakatan. Aku akan kirimkan koin ini untuk keluarga mu sebagai gantinya."


"Dasar gadis licik sialan!" Umpat lelaki itu saat tubuhnya diseret oleh Diaz.


***


"Pak kusir segera kembali ke mansion kerajaan." Titah Agatha. Ia tau bahwa daerah itu pasti daerah yang ditinggali oleh Steven. Mengingat lelaki itu memiliki manik dan rambut hijau.Dan alasannya untuk kembali ke mansion adalah karena ia sempat melihat Steven masih berada di mansion saat dirinya akan pulang.


Tak butuh waktu lama untuk mencapai mansion. Agatha segera turun. Gadis itu mempercepat langkahnya menuju ruang kerja. Tanpa pikir panjang ia membuka daun pintu.


Di dalam Steven tengah duduk dengan serius sembari mengerjakan beberapa kertas. Lelaki itu menyelingak mendengar pintu dibuka. "Wah sayang, ada apa?" Tanya nya dengan berusaha tersenyum seperti biasa.


Agatha menghampiri lelaki bermanik hijau itu. "Steve dengar! Daerahmu itu akan diserang secara diam-diam."Ujarnya seraya menggebrak meja.


Gadis itu kemudian menjelaskan apa yang telah terjadi dengan mendetail dan teliti. Steven mendengarkan Agatha dengan tak berpaling memandangi wajah gadis itu. Meski sudah memandang nya berkali-kali pun, Agatha tetap sangat cantik. Apalagi kini, wajahnya terlihat begitu serius ketika menerangkan suatu kejadian.


"...begitu kejadiannya." Akhirnya Agatha selesai menjelaskan. "Steve, apa kau mendengarku?!" Kening nya tampak berkerut ketika menyadari Steven terus menatap nya tanpa berkedip.


"Tuan Steve!!" Gadis itu sedikit meninggikan oktaf suaranya. Steven menggedikan bahunya karena terkejut. Detik berikutnya , ia mengambil jemari Agatha dan kemudian mengecup punggung tangan gadis itu. "Tenang saja. Tidak akan terjadi apa apa." Lontarnya.


Melihat itu, gadis bermanik biru mengambil paksa tangannya. Wajahnya sedikit malu. "Tidak akan terjadi apa apanya! Bagaimana jika daerahmu benar-benar diserang dan jatuh ke tangan daerah musuh!" Kesal Agatha. Ia bersilang tangan.


"Putra Mahkota di daerahku itu sangat cerdik. Dia pasti bisa menangani semuanya."Sahut Steven. Ia kemudian berdiri dan mengusap lembut surai Agatha. "Aku senang kau menghawatirkanku."


"Huh."


***


Sementara itu,


Semilir angin berhembus menggoyangkan daun kering dari dahan pohon drys. Daun itu jatuh tepat di kepala seorang gadis dengan surai putih keemasan. Sheila tengah duduk dan menggambar sesuatu di atas kertas berserat. Disebelahnya, terdapat seorang pelayan wanita bertubuh tinggi yang curi-curi pandang pada aktivitas gadis itu.


"Apa yang nona lakukan?" Pelayan dengan tinggi 170 cm itu melongok ke arah kertas berserat di pangkuan Sheila. Kepalanya yang panjang memudahkan dirinya untuk mengintip ke kertas itu.


"Ini , apa menurutmu cantik?" Dengan ragu, Sheila memperlihatkan hasil gambarannya. Disana Ia menggambar Lucius, Agatha dan dirinya tengah bersanding bersama. "Bagaimana?" Gadis itu mengulang pertanyaan nya karena tak ada respon dari si pelayan.


"Apa maksud gambaran Anda, Nona?" Tanya pelayan dengan rambut diikat keatas yang masih memperhatikan ke arah kertas. "Ini Tuan Lucius dan Nona Agatha lalu ini aku." Sahut gadis itu malu-malu.


Si pelayan bertubuh tinggi itu sedikit heran. "Hah? Untuk apa ada Anda disana? Setau saya yang menjadi pendamping Yang Mulia Putra Mahkota hanya Nona Carrol." Tanya pelayan itu dengan polosnya.


Mendengar pertanyaan itu, Sheila tertunduk lesu memajukan bibirnya. "Apa tidak boleh jika aku juga menjadi pendamping tuan?" gadis itu meremas alat gambar.


Saking kaget nya, si pelayan langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya mengeluarkan binar. "Boleh Nona , tentu saja boleh. Nona adalah orang yang cantik , baik dan lembut. Siapapun pasti akan langsung menyukai Nona." Ucapnya terlampau senang.


Wajah Sheila kembali sumringah. Ia tersenyum. "Terimakasih." Lontarnya sembari menatap ke arah gambar yang ia buat.


"Tapi apakah Yang Mulia Lucius akan menerima Nona?"


Pertanyaan itu kembali menambah beban pikiran Sheila. Apakah Lucius bisa menerima dirinya? Jemari Sheila mengusap lembut gambar Lucius di kertas serat itu.


"Entahlah." Lirihnya pelan.


***


Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘