Menjadi Antagonis Novel

Menjadi Antagonis Novel
Episode 16


Happy Reading😘


***


β€œ Kau pakai helm yang ada target sasaran itu di atas kepalamu sambil berkuda.” Ujar lelaki itu disertaii seringaian.


Agatha hanya menurut, Ia mengambil helm disebelah Julian. Yang seperti itu masih bisa dibilang wajar kan. Jadi tekniknya adalah Agatha yang berkuda dengan helm yang dilengkapi papan sasaran yang diletakan di helm khusus dan kemudian Julian akan memanah papan itu. Itu teknik yang awalnya dipikirkan Agatha. Gadis itu tidak takut karena ia yakin Julian adalah pemanah handal jadi tidak mungkin meleset.


Sebelum melakukan aksinya, Agatha menggelung rambut merahnya menggunakan ikat rambut pemberian Lucy agar tidak menggangggu. Kemudian, gadis itu bersiap dengan helm sasaran di kepalanya. Ia segera menunggangi kuda dengan hati-hati. Untung saja Agatha masih mengingat cara berkuda karena ingatannya bagus.


β€œ Siap....Mulai!”


Agatha memacu kudanya mengitari areal lapangan milik tim nya yang cukup luas. Dia terus berputar mengitari itu dengan kecepatan standar. Hal itu membuat Julian bosan. Lelaki itu kemudian menunjukan sebuah seringaian.


Dengan segera ia mengangkat busur panahnya dan menarik anak panah. Julian melemparkan tiga panah, benda itu ia biarkan meleset di dekat kaki kuda hingga membuat si kuda yang tadinya terkendali menjadi brutal karena panik.


β€œ A-apa?” Agatha tergagap saat kudanya tiba-tiba melaju dengan kencang mengitari areal lapangan tim nya.


Kenapa panah nya bisa sampai meleset? Tunggu! jangan-jangan dia sengaja melakukan itu.


β€œ Ini baru seru! Itulah balasan karena pernah menolak perintahku.” Gumam Julian dengan wajah sombongnya. Ia terlihat begitu senang melihat Agatha yang ketakutan.


Sepintas Agatha tak sengaja menyaksikan senyum puas terpancar mililk Julian. Gadis itu langsung paham.Ia menggertakan giiginya, kesal. Dengan amarah yang menggebu, Agatha berusaha mengarahkan kuda brutal itu kearah Julian agar lelaki itu juga merasakan akibatnya.


Tapi sayang, usahanya itu gagal karena kuda itu terus memberontak dan sulit dikendalikan. Satu-satunya harapan adalah meminta bantuan pada regu tim sebelah. Agatha mencoba berteriak tapi sepertinya percuma karena mungkin saja sekat pembatas itu sudah dialiri sihir yang membuat antar regu tidak bisa saling berkomunikasi.


Sial!Tidak ada cara lain, aku harus turun kalau tidak mau kuda ini membuatku terpental.


Agatha membuat ancang-ancang. Ia pernah belajar dulu, bagaimana untuk mengatasi situasi seperti ini. Gadis itu mengincar sisi kuda sabagai tempatnya turun. Ia melonggarkan kaki dari sanggurdi dan meluncur turun ke arah yang paling aman.


β€œ Ukh!” Rintihnya. Agatha kemudian menyadari bahwa kaki yang ia gunakan untuk tumpuan tadi lecet dan darah merembes dari celana panjangnya, mekipun ia mengenakan bot yang cukup panjang. Tapi ia tidak peduli, hal terpenting sekarang adalah menjahui areal itu karena kuda nya masih terus berlari.


β€œ Sial, susah sekali berdiri.” Ia terus berusaha di tengah kepanikannya sendiri.


β€œ Kau ini bodoh sekali! Mengendalikan kuda saja tidak bisa.” Julian sudah berhasil menjinakan kuda itu.Ia mendekat ke arah Agatha dengan wajah tak bersalah.


Hal itu tentu membuat Agatha makin kesal. Ia menunduk untuk menutupi kemarahannya.


Agatha mengepal erat.Ia mulai bangkit dan mengabaikan rasa sakit di kakinya. β€œ Hei Julian! Kau pikir semudah itukah kau mengatakan bahwa kau hanya bermain-main heh? AKU BARUSAJA BERJUANG UNTUK HIDUP, BAGAIMANA JIKA TADI AKU TIDAK BISA TURUN DAN—” Agatha mencengkram kuat baju Julian dengan pandangan bersungut.


β€œ Sudahlah membicarakan dengan orang seperti mu tidak ada gunanya.” Gadis berambut merah itu melepaskan cengkeramannya dan bergerak menjauh dari lelaki bernama Julian yang sedang memikirkan kata-kata Agatha.


Namun karena kakinya yang terluka, Agatha tak mampu berjalan lebih jauh lagi. Alhasil, ia memilih berhenti dan duduk di areal lapangan sembari meneggelamkan pandangannnya.


Hal itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja datang uluran tangan dari seseorang. Agatha mendongak dan melihat orang itu. orangn itu tak lain adalah Julian.


β€œ Kau?”


β€œ Cepatlah pegang! Tanganku pegal!” dengan ragu, Agatha menerima uluran tangan Julian. Lelaki itu tak segan memapah Agatha yang tangannya sudah kotor terkena pasir.


Ia kemudian menuntun Agatha ke pinggir lapangan. Dan meletakan gadis itu di bawah pohon.


β€œ Apa yang akan kau lakukan?” Tanya gadis itu ketika Julian mulai memainkan tangannya.


Lelaki itu tak menjawab Agatha. Ia sibuk sendiri dengan tangannya dan mulai mengeluarkan cahaya kebiruan. Cahaya itu adalah sihir penetral, sihir yang dimiliki Julian dan satu-satunya sihir yang tidak disegel. Sebenarnya Julian mempelajari beberapa sihir, namun semuanya tersendat sebab ada sihir penyegel. Semua itu karena Julian memilih untuk berada di sayap anak-anak yang tidak memiliki sihir. Hanya sihir penetralnya lah yang tetap ada, karena dianggap sihir yang tidak berbahaya dan juga sihir itu sudah ada sejak ia lahir.


β€œ Wah.” Agatha terkagum meilhat darah yang tadinya merembes seketika hilang.


β€œ Terimakasih.” Ujar Agatha.


Julian tentu terlalu gengsi menjawab pernyataan terimakasih dari Agatha. " Cih, aku hanya kasihan melihat orang lemah yang membentaku untuk mengemis bantuan." Balasnya Julian seadanya .


***




...(Julian Von Pensler)...


Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih ya😘