Menjadi Antagonis Novel

Menjadi Antagonis Novel
Episode 25


Happy Reading😘


***


Kelas yang diikuti Agatha dan Lucius tidak berjalan sesuai rencana. Dan kini tinggal giliran kelas terakhir yaitu kelas dansa. Kelas yang paling ditunggu-tunggu oleh Agatha namun dibenci oleh Lucius.


"Yang Mulia mari kita selesaikan kelas kita dengan kelas terakhir yaitu kelas dansa." Ujar Agatha dengan semangat menggebu.


Dirinya dan Lucius sudah berada di sebuah ruang khusus untuk menari. Gadis itu segera meminta Lucy untuk menyalakan musiknya.


Alunan musik pun mulai terdengar memenuhi ruangan itu. Agatha segera membungkukan badan sebagai tanda akan memulai dansa. Kaki putihnya kemudian berjalan menuju lantai dansa. Begitupun Lucius terpaksa mengikuti gadis itu.


Tubuh mereka mulai berdekatan, tangan kanan Lucius diletakan di pingggang kecil milik Agatha dan tangan kirinya memegang tangan kanan gadis itu. Sementara itu, Agatha menaruh tangan kirinya di bahu Lucius.


Mereka mulai menggerakan kaki sesuai irama musik di sebuah lantai dansa bergambarkan lingkaran.


"Yang Mulia, bukankah Saya berdansa dengan sangat baik." Agatha memuji diirnya sendiri dengan begitu percaya diri.


"Semua gadis berdansa sepertimu." Lontar Lucius dengan wajah datar.


Agatha berubah murung. "Semua gadis? Itu artinya Anda sudah berdansa dengan banyak gadis." Selidiknya. Gerakan kaki mereka tetap mengikuti irama musik.


Tidak bisa dibiarkan. Jangan sampai Lucius menyukai gadis lain, atau hidupku akan tamat.


"Tidak! Aku berpikir begitu karena sering melihat seorang lelaki berdansa dengan pasangannya dan kuperhatikan gaya dansa pasangannya sama denganmu." Koreksi lelaki itu cepat agar tidak timbul kesalahpahaman.


Agatha mengagguk mengerti. Lagipula mana mungkin Lucius yang memiliki sifat begitu bisa berdansa dengan seorang gadis. Gadis berambut merah itu terkikik sendiri.


Alunan musik pun terhenti. Mereka segera memisah dan saling membungkuk.


"Sekarang sudah saat nya menghadiri parade." Ujar Lucius. Ia mengeluarkan sapu tangan dan mengelap jemari tangannya.


"Yang Mulia, bisakah kita tidak perlu menghadiri parade itu." Lontar Agatha.


Lucius menggeleng. Gadis itupun pada akhirnya harus pasrah.


***


Mereka berdua telah berada di pusat kota yang ramai akan kerumunan orang. Lucius membawa dua pengawal pribadi nya, sementara Agatha hanya membawa Lucy.


Saat sedang berjalan, pandangan Agatha terpaku pada seorang gadis berambut emas yang sedang kebingungan di tengah lautan orang. Matanya terlihat sangat cemas memandang sekitar. Dan kakinya dibiarkan telanjang menapak tanah.


Agatha yakin gadis itu adalah Sheila. Dengan segera ia membalikan badan dan mencari Lucius. Namun, lelaki yang dicari nya itu sudah tak berada pada posisi semula. Agatha membulatkan matanya.


"Lucy, kemana perginya Yang Mulia?" Agatha bertanya dengan sedikit panik.


Agatha berdecak. Sekarang yang harus ia lakukan adalah mengikuti Sheila dan memastikan bahwa gadis itu tidak bertemu dengan Lucius.


Pandangan Agatha tak berhenti menatap Sheila dari jarak lumayan dekat diikuti dengan Lucy yang mengekori. Ia melihat Sheila tengah panik dan celingukan kesana kemari.


Beberapa saat kemudian, Sheila menabrak seorang lelaki. Lelaki itu adalah Lucius. Manik Agatha kembali membulat sempurna. Kaki nya segera bergegas menghampiri mereka berdua sebelum keduanya memulai pembicaraan.


"Ya, Yang Mulia." Agatha berkata dengan nafas yang beradu karena setengah lari.


Tak disangka, Sheila justru memeluk lengan Lucius dan menangis keras. Tunggu! Ini berbeda dengan cerita novelnya! Di novel, Sheila hanya menabrak Lucius kemudian mengatakan sesuatu. Intinya tidak sampai memeluk lengan lelaki itu.


"Tuan, tolong Saya. Majikan saya memaksa saya untuk melakukan hal tak senonoh." Ujar Sheila di tengah isakan.


Lucius yang merasa risih sontak saja melepaskan tangan gadis bermabut emas itu dari lengannya.


Sheila tak menyerah. Dengan gampang nya ia berlutut di kaki Lucius dan kembali memohon dengan tangisan. Dan itu malah membuat gelagatnya semakin aneh.


"Yang Mulia, apa sebaiknya kita pergi saja?" Lontar Agatha setengah melirik Sheila.


"Pengawal, singkirkan gadis ini!" Titah Lucius. Salah satu pengawal langsung menarik paksa Sheila yang tengah berlutut.


"Tidak, tidak, lepaskan aku! Tuan kumohon tolong aku." Gadis itu terus memberontak. Ia sekuat tenaga melepaskan genggaman pengawal dan kembali bersimpuh di hadapan Lucius.


Ia menagis. "Tuan kumohon selamatkan aku dari majikanku." Ujarnya dengan wajah memelas. Ia kemudian membenturkan kepala nya tanah berulang. "Kumohon Tuan. Kumohon." Lontar Sheila sembari menangis dan terus memukulkan kepalanya ke tanah hingga berdarah.


Kenapa Sheila ini aneh banget.


"Hentikan! Pengawal bawa gadis ini ke mansion!" Lucius mengganti perintahnya. Hal itu membuat Agatha terkejut.


"Yang Mulia apa maksud nya?" Tanya segera dengan alis berkerut. "Apakah Anda berniat membantu gadis ini. Bagaimana jika dia hanya mata-mata." Agatha berusaha berkompromi.


"Lakukan saja!" Ujar Lucius. Wajah Agatha berubah masam. Jangan sampai kejadian di novel itu menimpanya.


"Ayo." Lucius menggandeng tangan Agatha. Namun, gadis itu tak bergerak. "Yang Mulia, jangan katakan Anda tertarik dengan gadis tadi?"Ujarnya menunduk lesu.


"Apa maksudmu? Aku hanya menolongnya." Sanggah lelaki itu.


Agatha mendongak. "Kalau begitu berjanjilah bahwa Anda tidak akan tertarik pada gadis itu." Ia mengulurkan jari kelingkingnya. Lucius pun dengan pasrah membalas jari kelingking milik gadis itu.


***


Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘