Menjadi Antagonis Novel

Menjadi Antagonis Novel
Episode 20


"Apa!" Kagetnya dengan mata yang membulat sempurna.


Agatha yang menyadari itu segera berkata, "Tidak Senior, orang aneh ini hanya berbohong."Ujarnya menepis perkataan Steven.


"Berbohong? Hei kau lah yang berbohong. Kita bahkan sudah berkencan di restoran waktu itu." Balas Steven tak kalah ngotot. Ia mengernyit sembari menatap Agatha.


Gadis berambut merah itu tau, restoran yang dimaksud Steven adalah restoran saat ia, Lucy dan Diaz pulang dari kasino.


"Kencan? Aku yakin kau menguntitmu waktu itu, jadi tidak ada unsur kencan sama sekali." Sanggah Agatha dengan mata mendelik. Ia sudah muak dengan Steven.


Mereka berdua jadi saling memandang tajam satu sama lain dengan posisi tubuh Agatha masih menempel di dinding dan tangan Steven mengunci tubuh Agatha.


Melihat hal itu entah kenapa Lucius kesal. Ia segera mendekat ke arah sahabatnya itu dan menarik paksa Steven menjauhi Agatha.


"Hei tenanglah Lucius, ada apa denganmu heh?" Steven mengangkat alisnya bingung. Bukankah biasanya Lucius selalu bersikap tidak peduli.Tapi ia tidak ambil pusing, mungkin saja Lucius kesal karena dirinya telah menggoda salah satu gadis di majelis siswa. Begitulah pikir Steven.


"Lanjutkan saja pekerjaan kalian! Jangan bertingkah seenaknya di wilayahku, Steve." Tegas lelaki bernama Lucius itu pada Steven. Ia kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang administrasi majelis siswa.


"Aneh."Gumam Steven. Sementara itu, Agatha justru tidak peduli dengan apa yang terjadi barusan. Yang terpenting dirinya masih hidup.


"Aku juga akan pergi ke kelas." Lontar Agatha sedikit keras agar Steven mendengar. Ia dengan cepat melesat ke arah pintu dan keluar dari ruangan.


***


"No-nona Carrol." Seseorang memanggil Agatha saat Ia itu baru saja keluar dari ruang administrasi. Gadis itu berencana menuju kelas itu menyelingak. Yang menyapanya ternyata adalah Wim, bawahan Steven.


Wim, seorang pria paruh baya berambut cokelat dengan jenggot di sekitar dagu nya. Ia sudah menjadi bawahan Steven sejak lelaki itu berusia dua puluh tahun.


"Ada apa?" Tanya Agatha sembari mendekat kearah Wim.


"Bisakah kita pergi ke taman belakang, ada yang ingin Saya bicarakan." Ujar Wim Agatha mengangguk, mereka akhirnya pergi ke taman belakang sekolah yang lumayan sepi.


Taman belakang,


Wim menunduk dan detik berikutnya berdehem sebelum menjelaskan maksudnya. "Nona, begini sebaiknya Nona menerima tuan Steven. Dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia mau." Jelas Wim dengan serius.


Agatha menghela nafas. Mungkin hanya ada satu cara untuk mengehentikan Steven. "Dengar dan beritahu tuanmu bahwa aku sudah memiliki tunangan." Balasnya seraya mengecilkan suara.


Wim tidak terkejut. "Saya dan Tuan Steven sudah tau bahwa Anda sudah bertunangan. Hanya saja dia tetap ingin Anda menjadi kekasihnya karena Anda memiliki banyak kemiripan dengan orang itu" Terang Wim lagi.


"Siapa orang itu?" Tanya Agatha penuh selidik dengan mengernyitkan alis nya.


"Gadis pendiam berambut merah. Sewaktu kecil, tuan Steven pergi ke daerah Korintus ini bersama dengan keluarga kerajaan karena di kerajaannya terjadi pemberontakan besar-besaran. Keluarga tuan kemari untuk meminta kerja sama."


Mendengar penyataan itu Agatha cukup dibuat terkejut. Apa! Kerajaan, itu artinya Steven adalah seorang bangsawan. Agatha tadinya mengira bahwa Steven hanyalah pengusaha kaya yang berhasil merintis karir nya hingga sukses besar.


"Jadi tolong terima saja tuan, atau dia akan terus merasa bersalah, Nona." Pinta Wim dengan memohon.


Agatha geleng-geleng."Hadeh...kau kan tinggal selidiki saja informasi dari gadis itu. Buktikan bahwa gadis itu benar-benar meninggal atau hanya pindah ke daerah lain." Ujarnya.


"Saat itu tidak bisa dilakukan karena keadaan kerajaan yang genting. Bertahun-tahun kemudian setelah kerajaan membaik barulah tuan akhirnya menyelidiki gadis itu. Namun, semua informasi tentang gadis itu seakan lenyap begitu saja. Tidak ada secuil infornasi, yang ada hanya data bahwa dia pernah bersekolah di tempat yang sama dengan tuan."


"Siapa nama gadis itu?"


"Kalau saya tidak salah ingat, namanya adalah Adelin."


"Begitu." Agatha mulai terlihat berpikir.


Namun detik berikutnya kepala gadis itu terasa sangat sakit. Samar-samar terlintas ingatan yang merasuki otaknya tanpa permisi.


Dua orang gadis duduk di karpet dengan dua boneka.


"Ini boneka milikmu dan yang itu milikku. Ayah yang membelikannya."seorang gadis menyodorkan boneka pada Agatha.


"Tidak aku tidak mau, aku mau yang seperti mu."


"Tapi...ya sudah baiklah." ujar gadis asing itu dengan senyum mengembang.


"Kenapa kau tidak menolakku? Kau harusnya mempertahankan sesuatu yang menjadi milikmu sendiri. Begitu kata ayah." Agatha kecil menasihati dengan marah-marah.


***


"Nona, Nona." Wim memanggil Agatha dengan sedikit panik. "Apakah Anda baik-baik saja?" Tanyanya.


"Tidak, kepalaku sedikit pusing. Tolong katakan pada Steven bahwa aku tidak mungkin bisa menjadi kekasihnya." Ujar Agatha yang langsung pergi


***


Happy Reading 😘


Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘


Bila berkenan, silahkan kunjungi novel keduaku :


" Terjebak Dalam Game "


Bisa langsung cek profileku. Terimakasih😘