
Happy Reading😘
.
.
.
Untuk menghindari keramaian dan juga menghindari gosip, Agatha membawa Lucius ke taman belakang. Keadaan disana cukup sepi hanya ada gemerisik daun yang bernyanyi dan hewan sore yang saling bersahutan.
"Kenapa? Kenapa Anda melarang Saya dekat dengan lelaki lain, tetapi justru Anda sendiri membiarkan Sheila menempel pada Anda? Bukankah itu tidak adil." Agatha yang semula bergelayutan di tangan Lucius mendadak mundur , Ia mencoba membuat jarak.
Alis Lucius berkerut mendengar protes gadis dihadapannya. "Jadi kau akan dekat dengan lelaki lain jika aku tidak melarangnya?!" Ia bertanya penuh selidik.
Gadis berambut merah itu mendesis pelan. "Bukan! Anda salah menangkap maksud Saya." Agatha mulai menunduk untuk menciptakan suasana yang lebih dramatis.
"Lalu?"
Apakah gadis itu benar-benar harus mengatakan maksud yang sebenarnya? Dan kenapa juga Lucius harus terlahir sebagai makhluk yang tidak peka. Agatha akhirnya menghela nafas ringan.
"Mengapa Anda tidak mengerti juga. Sebenarnya saya cem-bu-ru." Sahutnya dengan mengeja kata 'cemburu'. Wajahnya berubah merah. Dia tidak benar-benar mengatakan itu, kalimatnya barusan itu hanya untuk menyelamatkan masa depannya. Setidaknya begitulah yang Agatha pikirkan.
Suasana berubah canggung. Kedua nya berubah kikuk.Agatha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian Ia cepat-cepat menganggkat gaunnya dengan anggun dan membungkukan badan.
"Sa-Saya pamit Yang Mulia." Ujarnya yang masih dalam suasana malu.
Namun, saat Ia berbalik. Lucius menarik lengan gadis itu hingga jarak diantara keduanya begitu dekat. Agatha bahkan bisa mendengar deru nafas Lucius. Tangan lelaki itu memegang pinggang Agatha. Detik berikutnya tak kalah mencengangkan, gadis itu melihat Lucius mulai mendekatkan wajahnya. Kalau sudah begini, menurut novel dan film maka akan terjadi sebuah adegan.
"Yang Mulia Saya masih 14 tahun. Mohon Anda mengerti." Agatha memejamkan mata saat mengatakan itu. Namun, wajah Lucius malah semakin dekat.
Cup.
Pada kenyataannya Lucius hanyalah mengecup kening Agatha. Gadis bermanik biru itu menyalahkan otaknya yang memiliki imajinasi liar.
"Jangan cemburu, aku tidak tertarik pada gadis lain." Bisik Lucius tepat di telinga Agatha. Hembusan nafasnya yang mengalun membuat kuping gadis itu geli.
Lelaki berperawakan tinggi itu melepaskan gadis dipelukannya. "Sa-Saya pamit Yang Mulia."Dengan langkah sedikit lunglai, gadis itu pergi dari hadapan Lucius.
Sementara itu,
Seorang wanita berambut pirang ikal mengendap keluar kediaman duke. Meski hubungannya dengan sang kakak merenggang, namun Margaret tetap diundang ke pesta pertunangan Anastasia. Alasannya tidak lain hanya agar keluarga Carrol tidak menjadi buah bibir para bangsawan dan tetap mempertahakankan citranya.
Selain alasan itu, Margaret juga tergabung dalam faksi parlementarin bersama para sekutu Duke Carrol. Wanita itu juga sudah melakukan investasi dalam faksi.
"Apa kau bilang , perkebunan di rosemburg gagal panen?"Margaret berteriak terkejut. Perkebunan anggur di rosemburg merupakan salah satu penghasil kucuran dana terbesarnya.Jika hasil besar maka resikonya pun sama besarnya. Ia telah mengeluarkan banyak uang untuk membeli lahan, bibit , pupuk bahkan pengairannya.
"Lakukan sesuatu atau aku akan rugi besar." Ia berkata dengan wajah frustasi. Bibirnya bergetar menandakan wanita itu tengah dilanda kepanikan.
"Tapi nyonya perputaran dana sudah tak bisa dilakukan lagi, mengingat tahun lalu harga pengairan meningkat hingga menghabiskan separuh dari dana yang anda berikan."
"Ck."Ia berdecak. Otaknya yang cerdik tak berhenti memikirkan sebuah rencana.
Margaret menyeringai. "Ah kalau begitu bakar kebun anggur itu dan sebarkan berita bahwa ada sekelompok berandalan yang membakar kebun itu. Ingat! tutup mulut para petani tentang gagal panen!"
"Tapi untuk apa nyonya? bukankah itu akan merugikan anda?" Tanya bawahan yang tak mengerti.
"Lakukan saja!"
"Ba-baik. Kalau begitu saya permisi Nyonya."Timpalnya yang langsung pergi.
"Dengan begini ak bisa menaklukan dua masalah sekaligus." Gumam wanita itu.
Tanpa Ia sadari seorang gadis tengah mendengar semua kejadian itu. Gadis itu bersembunyi di semak dekat pintu keluar.
***
Pagi harinya , Margaret segera berkunjung ke kediaman Duke seperti rencana yang sudah ia siapkan. Ia segera masuk ke ruang kerja Duke Carrol. Margaret memelas meminta belas kasih pada kakaknya untuk mengampuni kesalahan yang pernah ia lakukan.
"Kakak maaf kan aku."Wanita itu bersujud dihadapan duke Carrol. Membuat hati sang duke sedikit tergerak. Duke pun memberi ampun atas perlakuannya pada Anastasia.
"Karena kebun itu dibakar maka aku akan mengajukan asuransi untukmu ke administrasi pusat." Duke akhirnya menyetujui. Karena kedudukan Duke Carrol yang berpengaruh, maka akan lebih mudah untuk mendapatkan asuransi dibanding dengan Margaret.
"Terima kasih kak , maaf sudah merepotkan."
Wanita itu segera keluar dari ruangan tanpa mengetahui sisi duke yang sebenarnya. Pria paruh baya berambut pirang itu tertawa terbahak. Menertawakan adiknya itu. Sang Duke sudah bisa membaca gerak gerik Margaret dengan mudah.
"Kau pikir aku tidak tau jika kau sendiri yang membakarnya." Gumamnya. Duke bisa berkata begitu karena ia pernah turun langsung untuk melihat kondisi perkebunan di rosemburg. Perkebunan itu sangat luas dan dijaga sangat ketat. Bahkan burung akan berpikir dua kali untuk hinggap. Bagaimana mungkin sekelompok berandalan bisa masuk apalagi sampai membakar.
***
Dalam perjalanan keluar kediaman , pandangan Margaret terfokus pada seorang gadis berambut merah yang tengah duduk santai sembari meminum teh di taman depan. Dengan seringaian tajam, Margaret menghampiri Agatha.
"Kau berada disini rupanya."
Gadis itu menyelingak. Ia bangun dari posisi dan memberi salam singkat pada Margaret. "Duduklah bi." Agatha mempersilahkan. Magaret pun duduk bersebrangan dengan gadis itu.
"Hey pelayan kemari! Siapkan secangkir teh untuk bibi."Ujarnya asal memerintah. Pelayan itu menunduk dan mengiyakan Agatha. Dengan cepat, pelayan itu menuruti perintah.
"Kudengar Putra Mahkota memiliki simpanan di mansion nya?" Wanita itu menyeringai.
"Simpanan? Kupikir bukan simpanan bibi, lebih tepatnya Yang Mulia hanya memberikan tumpangan. Aku sangat percaya pada Yang Mulia." Balasnya dengan menukik senyum.
Sebelum Margaret kembali melemparkan sindiran pada Agatha. Gadis itu segera mendului. "Em..bibi, ngomong-ngomong apakah bibi mendengar berita skandal korupsi duke daerah Firenze? Para bangsawan sedang mendebatkan tentang skandal itu." Cerocosnya.
Margaret berubah seperti orang yang tengah menutupi sesuatu. "Jangan katakan bibi tidak mendengar gosip itu?" Ia menebak sesuatu yang sudah jelas ia ketahui.
"Padahal berita itu sedang menjadi perbincangan panas tapi malah langsung tertutup oleh berita perkebunan anggur terbesar di rosemburg telah dibakar."
"Jadi maksudmu aku bersekongkol?" Margaret meninggikan nada nya. Ia mulai terpancing amarah. Dan Agatha merasa senang. Batinnya ingin tertawa melihat wanita yang manipulatif kini tersulut amarah dengan mudah.
"Hsss ! bibi tenanglah. Silahkan diminum dulu teh nya." Lontar Agatha saat seorang pelayan datang dan menyodorkan cangkir kecil berisi teh hangat.
"Em...apakah ada dari kalimatku yang menyatakan hal itu?"Ia melanjutkan pembicaraan. Agatha sebenarnya tidak terlalu peduli tentang skandal duke daerah firenze. Ia hanya ingin menekan Margaret. Perasaan nya selalu menguap ketika mengingat bahwa wanita di depannya lah yang menekan Adelin dan menyiksa Anastasia.
"Cih! ternyata kau menjadi kurang ajar setelah aku tidak mengajarmu tatakrama." Timpal nya setelah ia meneguk teh.
"Tatakrama?Apakah bibi melupakan kejadian beberapa bulan lalu. Bi, kak ana sekarang sudah resmi bertunangan , bagaiamana jika tunangannya tau akan hal itu. apa menurut bibi tunangan kak Ana akan memaafkan bibi atau malah menuntut bibi?"
"Cih apaa yang kau inginkan." Ujarnya kesal. Ia menyadari bahwa dirinya masuk perangkap. Margaret akhirnya mengetahui alasan keponakan perempuannya itu hanya duduk sendiri di luar sembari minum teh. Gadis itu sengaja! Ia tau sikap Margaret yang suka mengurusi urusan orang lain. Otomatis Margaret akan tertarik dengan Agatha yang sedang sendiri karena Ia menganggapnya bodoh.
"Ya ampun ternyata bibi sangat pengertian. kalau begitu aku ingin bibi memberitahu dimana baron yang memiliki banyak....." ia menjeda " ....budak?"imbuhnya tanpa basa basi dan mengecilkan suaranya.
"Aku memiliki banyak kenalan baron. Baron yang kau maksud bernama Thad Newrince. Baron itu cukup tertutup. dia memiliki 100 budak, setengah dari budak itu diperjual belikan sedangkan setengahnya lagi untuk 'bersenang-senang.'"
Agatha mengangguk. "Begitu. aku tidak suka dibohongi, jadi bagaimana kalau bibi langsung yang menemaniku untuk bertemu baron Thad?" Tawarnya.
Margaret menyeringai. "Baiklah. Kalau begitu besok temui aku di alun-alun kota." Sahut wanita itu.
Agatha menaikan salah satu alisnya. Ia cukup curiga dengan perubahan ekspresi Margaret. "Dengar bi, jangan membuat rencana, jangan berani macam-macam. Bibi pikir aku tidak tau kalau bibi sendiri yang membakar perkebunan itu. bagaimana kalau aku menyebarkan nya."
"A-apa kenapa kau tiba-tiba membahas itu lagi?" Wanita dengan gaun hitam itu tergugup.
"Sudahlah intinya jangan berani macam-macam, karena bibi memiliki banyak masalah dengan hukuman besar." Timpal Agatha dengan wajah jengah. Wanita dengan rambut pirang itu segera menenggak teh nya hingga ludes. Ia segera bangun dan mengucapkan sampai jumpa.
"Baguslah, dengan begini aku akan membeli Sheila lalu status nya akan berubah menjadi budakku dan dia akan langsung dipindahkan ke penginapan dengan tenang." Gumam gadis itu dengan wajah serius.
"Nona-nona." Dari kejauhan Lucy setengah berlari. Ia barusaja kembali dari pasar.
"Ya?"Sahut gadis itu.
"Seperti dugaan anda, nona sheila ternyata tengah menjadi bahan gosip dipasaran. Meski jumlahnya tidak terlalu banyak , saya tetap khawatir karena gosip akan semakin panas jika ada yang menambahkan api." Terangnya dengan kepala tertunduk.
"Tenang saja. Yang terpenting namaku tidak dibawa-bawa. Lagipula kau tau kan orang yang menyebarkan berita buruk tentangku akan langsung jadi mayat." Ujar Agatha. Dengan perasaan ngeri Lucy pun mengiyakan. Entah kebetulan atau bagaimana, beberapa bulan belakangan setiap ada rumor buruk tentang Agatha, rumor itu tak bertahan lama dan si penyebar akan lenyap seperti abu yang tertiup angin.
***
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘