
Happy Readingπ
***
Upacara penutupan berjalan dengan lancar. Semua murid pun dipersilahkan pulang. Agatha berlenggang santai keluar menuju pintu keluar. Namun, disana terlihat ada yang sedang kesusahan dengan dikerumuni para gadis. Dia Julian. Lelaki itu terlihat jengah menghadapi banyaknya gadis yang menawarkan tumpangan karena ban kereta kuda milik Julian meletus. Ia yakin salah satu dari gadis itu yang melakukannya.
β Sayangku ban kereta kudamu meletus ya, pulanglah bersamaku.β
β Ah senior tampan ikutlah bersama kekasihmu ini.β
β Senior ku, kumohon nikahi aku.β
Tak ada jawaban dari Julian. Ia hanya duduk diam di kereta kuda sambil menunggu si kusir kembali dengan kereta kuda yang baru.
Agatha yang melihat itu menahan tawa. βKasihan.β Gumamnya.
β Oi gadis bodoh!β Pekik Julian yang melihat Agatha. Ia mendapatkan ide untuk menghindari para gadis itu.
β Aaa aku disapa oleh Senior Julian.β Gadis a
β Bukan kau tapi aku.β Gadis b
β Apa yang kalian katakan!Senior Julian itu menyapaku.β Gadis c
β Kalian tidak mengerti! Yang disapa Senior itu aku1β Gadis d
Agatha pura-pura tak dengar dan memilih untuk melanjutkan berjalan ke arah kereta kudanya.
β Apa kau tuli?β Lelaki itu sudah kesal. Ia memutuskan menuju Agatha dengan melewati lautan gadis yang mengerumuninya seperti semut.
Julian menghentika Agatha dengan mencekal tangannya. Pasalnya, lelaki itu tau Agatha tak akan berhenti jika hanya dipanggil.
β Aku ikut denganmu! Dengar ya jangan menolak, karena aku sudah mengeluarkan energiku untuk menolongmu. Jadi kau harus balas budi. Cepat antar aku!β Perintahnya dengan menudingkan jari telunjuk di depan wajah Agatha.
Gadis berambut merah itu menghela nafas. β Senior lihat. Banyak gadis yang menginginkanmu.β Ujarnya dengan memadang para gadis yangmasih mengikuti Julian.
β Aku tidak peduli. Aku hanya ingin ikut denganmu.β
β Kenapa?β
β Tck! Karena hanya kau yang harus balas budi.βBalas nya dengan sangat malas.β Cepat!β
β Baiklah, baiklah.βAgatha akhirnya menyetujui dengan berat hati. βAku harus mengantarmu kemana?β Tanya nya dengan nada ketus.
β Mansion Penslerβs Beleverly.βSahut Julian.
β Paman kusir sudah dengar kan?β Ujar Agatha memastikan.
β Iya, Nona.β
Mereka akhirnya pergi. Hal itu tentu membuat paragadis kecewa berat dan patah hati.
***
Langit sudah mulai petang. Kereta kuda milik Agatha pun telah sampai di mansion yang ditinggali oleh Julian selama dia berada di daerah Korintus. Mansion itu bergaya klasik mewah dengan lampion sebagai penerangan.
β Sudah sampai. Kau turunlah.βPinta Agatha.
Julian tidak menanggapi dan turun begitu saja. Ia hendak pergi, Namun Agatha dengan cekatan berkata, β Setidaknya katakan terimakasih , aku sudah mengantarmu dan membuatku terlambat pulang ke rumah loh.β Agatha tersenyum masam.
Julian memutar bola matanya. β Lidahku akan keseleo jika mengatakannya.β Balasnya datar. Ia kemudian pergi memasuki gerbang mansion.
β Iiih ada ya manusia model kayak gitu.β Agatha terheran. βPaman kusir langsung pulang ke kediaman saja ya.β Ujar Agatha sedikit berteriak agar terdengar.
β Baik Nona.β
Saat diperjalanan mneuju kediaman, kereta kuda milik Agatha menabrak seseorang. β Nona, ada orang yang tertabrak.β Pekik si kusir panik.
Agatha langsung turun. β Maaf, Anda tidak apa-apa?β Ujar Agatha yang langsungmenghampiri gadis yang tertabrak.
Melihat rambut gadis itu, Agatha jadi merasa tidak asing. Tanpa ragu ia segera menyibakan rambut gadis itu sembari membantunya berdiri.
Alangkah terkejutnya ia saat mengetahui gadis itu memiliki manik emas yang hanya dimiliki tokoh utama wanita dalam novel. Matanya membulat sempurna.
β Kau, apakah namamu adalah Sheila?β
β Bagaimana Nona bisa mengetahui itu?β Balas gadis itu
Ah gila! Bukankah ini terlalu cepat.
β Maaf Nona saya harus segera pergi. Tuan saya masih mengejar saya.β Sheila beranjak meninggalkan Agatha. Ia berlari ke arah yang tak menentu.
Sementara itu, Agatha masih terguncang dengan kejadian barusan. Bagaimana bisa ia bertemu Sheila disini, kisahnya benar-benar sudah melenceng jauh dari novel aslinya.
***
Minggu demi minggu berjalan sebagaimana mestinya. Belakangan ini tidak ada hal spesial kecuali saat kedatangan Viscountess Margaret. Agatha berhasil membuktikan kekerasan yang Viscountess Margaret lakukan pada Anastasia.
Hal itu tentu membuat hubungan adik kakak itu semakin harmonis. Anastasia tidak pernah menggangu Agatha dan juga sebaliknya.
***
Hari ini tibalah saat nya kompetisi berburu diadakan. Kompetisi ini akan dihadiri oleh ketua majelis siswa, Lucius dan juga seorang investor terbesar di Academy, Steven.
" Bagaimana anak-anak kalian sudah siap?" Tanya pak guru berkepala botak.
" Siap Pak!"
" Baik, sedia, siap, mulai!" Terompet tanda mulai pun di bunyikan. Semua murid segera berburu di rute dan rintangan yang sudah dijelaskan oleh pak guru tadi. Mereka masuk ke hutan.
Semua nya sangat fokus dengan perburuannya masing-masing.
Hingga tiba saatnya pengumuman pemenang diadakan.
" Pemenang kompetisi kali ini adalah...tim Agatha-Julian." Ujar seorang wanita berbadan seksi yang biasanya bersama pak guru berkepala botak.
" Yess. Akhirnya koin itu menjadi milikku." Gumam Agatha yang kegirangan. Ia melompat-lompat tanpa sadar.
" Oi bodoh! Kau menang juga karena aku." Julian tak terima. " Aku sembilan puluh persen dan kau sepuluh persen." Jelasnya kemudian.
" Uuh kau masih selamat dan sehat begitu. Lihat aku! Wajahku lecet sedikit dan tanganku juga lecet karena jatuh! Aku butuh koin itu untuk pengobatan."
Julian mengangkat satu alisnya. " Huff ya sudahlah, ambil saja semuanya. Aku juga tidak suka berebut masalah koin."
" Kau serius? Tidak boleh memintanya lagi loh ya."
" Hmm."
" Yes. Terima kasih Senior Julian yang tampan." Agatha memuji Julian tanpa sadar.
Gadis itu tidak menyadari bahwa tingkahnya diperhatikan oleh dua orang manusia.
Kenapa gadis kecil itu bisa tersenyum sangat lebar. Aku tidak pernah melihatnya begitu. Pikir Steven dengan tetap mempertahankan wajah tersenyum yang mempesona.
Hmm aneh. Dulu, Agatha hanya tersenyum kepadaku. Pikir Lucius dengan wajah datar menatap mereka berdua.
"Namanya Julian ya, lihat saja bagaimana aku akan memperlakukanmu di majelis siswa nanti." Steven bergumam. Ia merasa sangat percaya diri karena dirinya adalah investor terbesar, ia bisa membuat keputusan yang ia mau.
***
...(Sheila)...
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih yaπ