
Akhirnya, Farel berada di dalam mobil dan segera memerintahkan sopir untuk mendekati tetangganya itu untuk menawarkan tumpangan.
Hani yang masih menunggu taksi lewat, Ia pun dikejutkan dengan sebuah mobil mewah yang tiba-tiba berhenti di depannya, Hani menoleh dan melihat seseorang yang duduk dibelakang membuka kaca mobilnya dan menyembulkan kepalanya. Seketika Hani terkejut saat melihat wajah Farel yang keluar dari dalam mobil.
"Mas Farel!" sebut Hani.
"Hani! Kamu kenapa berada di sini?" tanya Farel basa-basi.
"Emm iya, Mas! Ini aku dari rumah saudara, dan Aku mau pulang, ini lagi menunggu taksi lewat, tapi dari tadi taksi nya kok nggak ada yang lewat satupun." jawab Hani sembari melihat ke kanan dan ke kiri.
Sementara itu Dito tampak terkejut ternyata sang Bos sudah mengenal Hani terlebih dahulu, gagal sudah harapannya untuk mendekati Hani, karena tentu saja sang Bos dengan mudah mendapatkan perhatian dari Hani, wanita mana yang sanggup menolak pesona Farel sebagai pengusaha kaya yang tampan dan sukses, banyak wanita rela menjadi selingkuhannya. Tapi, sayangnya Farel tidak pernah tergoda dan Ia hanya mencintai istrinya, Nindy.
"Waduh! Kayanya ane kudu mundur pelan-pelan nih, si Bos bakalan menang jika dibandingkan dengan Aku, secara sudah banyak cewek yang ditolak Bos hanya sekedar ingin menjadi simpanannya, nah ini justru Bos yang menghampirinya, siapa sebenarnya wanita ini? Kok Bos terlihat sudah mengenalinya." batin Dito sembari memperhatikan wanita cantik yang sedang berbicara dengan Bosnya itu.
"Ya udah, daripada kamu nunggu terlalu lama, lagipula nggak baik pula wanita secantik kamu berdiri sendirian di pinggir jalan, lebih baik Aku antar kamu pulang, toh rumah kita sejalan, ayo masuk!" tawar Farel sembari turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Hani.
"Emm ... tapi Mas, nggak apa-apa nih! Nggak ada yang marah?" tanya Hani.
"Marah? Memangnya siapa yang marah?"
"Ya mungkin nanti istrinya nggak suka. Takut aja nanti dikiranya Aku macam-macam sama kamu.' ucap Hani yang merasa seolah-olah dirinya canggung naik ke dalam mobil Farel.
"Nggak apa-apa, istriku nggak akan marah, lagipula istriku jarang ada di rumah, jadi dia nggak mungkin ngurusin hal yang beginian. Sudahlah! Ayo masuk, sebentar lagi malam, mana mungkin Aku biarkan seorang wanita berdiri sendirian di sini, apalagi kamu adalah tetanggaku, sebagai tetangga yang baik tidak ada salahnya dong jika Aku membantumu." seru Farel.
"Ooohhh jadi cewek ini tetangga Bos, pantes aja, gila punya tetangga kayak gini, mana tahan." batin Dito
Akhirnya, Hani tidak punya pilihan lain lagi, karena gerimis juga sudah mulai rintik-rintik, Ia pun menerima tawaran Farel untuk pulang bareng.
Kini, Hani sudah berada di dalam mobil Farel, dan mobil pun mulai melaju ke jalan raya. Selama dalam perjalanan, Farel mencoba bertanya kepada Hani, asal keluarganya dari mana.
"Emm ... kalau boleh tahu, Hani asli orang mana?"
Hani menoleh ke arah Farel dan tersenyum sembari berkata, "Aku asli Surabaya, Mas. Aku datang ke sini untuk merantau."
"Hmm ... Aku sudah terbiasa hidup sendiri, Mas! Sejak suamiku pergi meninggalkanku dengan perempuan lain. Aku harus bisa bertahan hidup sendirian." mendengar pengakuan dari Hani, sejenak Farel mengerutkan keningnya, bagaimana bisa wanita secantik Hani ditinggal pergi oleh suaminya.
"Bodoh sekali laki-laki yang meninggalkan mu demi wanita lain, wanita secantik kamu berhak bahagia, suatu hari nanti kamu pasti bahagia, Hani!" ujar Farel yang secara tidak sadar sebenarnya dia lah yang dimaksud oleh Hani.
"Iya semoga, terima kasih banyak atas doanya, Mas!" balas Hani sembari memegang tangan Farel.
"Aku sangat beruntung sekali memiliki tetangga yang baik banget seperti kamu, Mas! Betapa bahagianya jadi istri kamu, pasti dia adalah wanita yang paling beruntung memiliki suami sepertimu." rupanya ucapan Hani seketika membuat Farel insecure, nyatanya istrinya sendiri tidak pernah memujinya seperti itu, Nindy selalu sibuk dengan urusan nya sendiri tanpa perduli lagi dengan apa yang dilakukan oleh dirinya.
Tatapan mata mereka bertemu, keduanya saling pandang, Hani mencoba tebar-tebar pesona kepada tetangganya itu, berharap sang tetangga mulai memperhatikannya.
"Kenapa setiap kali Aku memandangnya, seolah Aku sedang melihat Hana, Aku memang tidak mencintai Hana, tapi Aku tetap menghormati Hana sebagai istri pilihan Papa, tapi kenapa akhir-akhir ini Aku kepikiran Hana terus, dan Aku semakin teringat kembali tentang dirinya saat Aku melihat Hani, seolah yang berada di depan ku saat ini adalah Hana." batin Farel yang terus memandangi wajah Hani.
"Mas Farel! Aku tahu kamu tidak mencintaiku, tapi Aku akan berusaha untuk membuat mu mencintaiku, meskipun sebenarnya kamu tidak tahu siapa Aku sebenarnya, Aku akan tetap merebutmu dari Nindy, Aku tidak rela jika dirinya mendapat perhatian lebih darimu, karena Aku adalah istri pertama mu, mungkin ini jahat, tapi Nindy yang memulainya lebih dulu, dia merebutmu dari tanganku, dan kini Aku akan merebutmu dari tangannya, dia juga harus merasakan betapa sakitnya jika suami diambil oleh orang lain." batin Hani yang menatap bola mata suaminya yang mulai tertarik kepadanya.
Sang asisten yang melihat dari arah spion, jika Bos dan wanita tetangganya itu saling menatap, Dito pun berdehem untuk membuyarkan mereka berdua.
"Ehem ehem ....!" mendengar deheman dari sang asisten, baik Farel maupun Hani tampak memalingkan wajah mereka, Hani pun tampak sedang membenarkan posisi duduknya. Sementara Farel terlihat mengendurkan ikatan dasinya yang terasa sesak.
Setelah beberapa menit, akhirnya mobil Farel tiba di depan rumah Hani, sebelum Hani turun, tampaknya Farel meminta nomor telepon sang tetangga.
"Terima kasih atas tumpangan nya, Mas! Aku turun dulu!" pamit Hani sembari membuka pintu mobil.
"Tunggu dulu Hani!" seru Farel tiba-tiba. Hani menoleh ke arah sang tetangga dan bertanya, "Iya ... ada apa, Mas?"
"Boleh kita tukaran nomor telepon, mungkin saja kamu perlu bantuan di rumah, mengingat kamu tinggal sendirian. Jadi, biar Aku bisa bantu-bantu kamu." seru Farel dengan penuh harap.
"Oh ... boleh. Sebentar ya!" Sahut Hani sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Farel pun juga mengeluarkan ponselnya. Dan mereka berdua pun saling bertukar nomor telepon. Hingga akhirnya Hani benar-benar keluar dari mobil Farel.
...BERSAMBUNG ...