
Disaat bersamaan, sebuah taksi lewat di depan Hani dan Ia pun segera menghentikannya, tanpa memperdulikan para tetangganya yang sedang ribut dengan suami-suaminya, hari itu Hani hendak menemui seseorang yang sangat berjasa dalam hidupnya, Madam Liu. Wanita yang sudah membuat penampilannya berubah dan tidak ada yang mengenali dirinya, termasuk suaminya sendiri.
Sedangkan Nindy, Ia pun segera pergi ke rumah Ki Sepuh untuk meminta solusi karena kalung pemberian Ki Sepuh sudah terlepas dari leher Farel, dan itulah yang menyebabkan sikap Farel berubah.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan menuju ke rumah Madam Liu, Hani akhirnya tiba di kediaman Madam Liu yang super mewah, tentu saja Hani mendapatkan perlakuan yang istimewa dari para pelayan Madam Liu.
"Mama ada?" tanya Hani kepada seorang pelayan.
"Ada, Nona! Madam sedang berada di ruang kerjanya." balas sang pelayan.
"Terima kasih."
Setelah itu, Hani segera menemui Madam Liu di ruang kerjanya, Ia melihat wanita yang masih terlihat bugar itu sedang berdiri sembari mencari buku di sebuah rak di samping kursi kerjanya.
"Mama!" panggil Hani kepada Madam Liu, seketika Madam Liu segera membalikkan badannya dan melihat siapa yang datang.
"Hani Sayang! Mama sangat rindu sekali denganmu, apa kabar kamu, Nak?" ucap Madam Liu sembari menghampiri Hani, mereka saling berpelukan dan melepaskan rindu.
"Hani baik-baik saja, Ma! Mama apa kabar? Hani juga rindu dengan Mama." jawabnya
Untuk sesaat Madam Liu melihat Aura wajah Hani yang terlihat berbeda, wanita yang memiliki sedikit pengetahuan untuk membaca microekspresi dari wajah seseorang, entah kenapa wajah Hani terlihat bahagia, namun ada sesuatu mengurangi aura dari Hani itu sendiri. Ibarat bunga, Hani terlihat layu, tidak seperti dulu saat Madam Liu bertemu dengan Hani saat gadis itu menabrakkan dirinya pada mobil Madam Liu, ada aura cantik dan segar yang terpancar dari wajah Hani meskipun wajahnya saat itu rusak karena kecelakaan. Namun, kali ini sungguh berbeda.
"Hani, Sayang! Katakan pada Mama, bagaimana misimu untuk mendapat kembali perhatian suamimu, apa kamu sudah berhasil?" tanya Madam Liu serius. Hani menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Mama selalu mendoakan supaya kamu bisa kembali bersama suamimu, Mama lihat kamu bahagia sekali hari ini, ada apa?" tanya Madam Liu penasaran.
"Mama lihat ada sesuatu yang berbeda dari biasanya, wajahmu pucat tapi kamu bahagia," ungkap Madam Liu sembari memperhatikan dalam-dalam bola mata sang anak angkat.
"Masa sih, Ma? Hani nggak merasa sakit kok, Hani baik-baik saja seperti biasanya." jawab Hani dengan santai, yang nyatanya Ia tidak merasakan sakit apapun.
"Kamu yakin? Ya sudah kalau kamu tidak sakit, hanya saja Mama melihat kamu sudah berubah, seperti ada sesuatu yang hilang dan mengurangi keindahan sebuah bunga, bunga itu sudah tidak harum lagi meskipun Ia masih terlihat cantik." mendengar ucapan dari Madam Liu, Hani pun menundukkan wajahnya dan Ia mengaku jika semalam dia sudah menyerahkan dirinya kepada sang suami.
Madam Liu tersenyum dan berkata, "Aku sudah menduganya, kenapa harus salah? Dia suamimu, dan pernikahan kalian masih sah, belum ada kata cerai, Farel hanya meninggalkan mu tanpa ada kata talak, itu artinya pernikahan kalian masih sah, dan hubungan kalian tentu saja halal. Itu artinya Farel sudah mulai terjerat dalam pesonamu. Mama ikut bahagia. Lantas! Kapan kamu akan membuka identitas asli mu di hadapan Farel, bukankah dia sudah jatuh cinta kepadamu?" tanya Madam Liu.
"Suatu hari nanti, Hani pasti akan katakan kepada semua orang siapa sebenarnya Hani, tapi untuk saat ini, Hani ingin memberikan pelajaran kepada Nindy, dia harus tahu bagaimana sakitnya saat suami pergi meninggalkannya bersama wanita lain, dari situ dia akan sadar merebut sesuatu yang bukan miliknya itu adalah perbuatan hina dan menjijikkan, karena dia akan tahu nantinya, betapa sakit dan hancurnya hati ketika sesuatu yang sudah menjadi milik kita dicuri oleh orang lain." ungkap Hani diselingi air matanya yang mulai terjatuh dari sudut matanya.
Madam Liu menepuk pundak sang anak angkat, memberikannya semangat dan dorongan untuk selalu kuat dan yakin akan mendapatkan kembali kebahagiaannya.
"Mama mengerti! Kamu wanita yang kuat, tunjukkan kepada wanita itu jika kamu bisa bangkit dari rasa sakit yang pernah Ia torehkan dalam hatimu, tinggal sedikit lagi untuk membuat Farel kembali kepadamu," ucap Madam Liu.
"Iya, Ma! Aku juga sangat berterima kasih sekali kepada Mama, kalau bukan karena Mama, mungkin sekarang Hani tidak akan pernah bisa seperti ini, mungkin Hani tidak akan pernah merasakan kasih sayang Mas Farel, Mama adalah malaikatku, Hani sangat sayang pada Mama."
Hani sudah menganggap Madam Liu sebagai Ibu kandungnya sendiri.
*
*
*
*
Di sisi lain, hari itu Nindy sudah sampai di rumah Ki Sepuh, Ia mengutarakan semua keluhannya kepada Ki Sepuh, dan Ia juga mengatakan jika kalung yang diberikan oleh Ki Sepuh sudah terlepas dari leher sang suami.
"Bagaimana, Ki? Apa yang harus Saya lakukan?" Nindy terlihat khawatir, karena kini perhatian suaminya mulai berubah.
"Untuk kali ini, Aku tidak bisa menolongmu, karena hanya kalung itu satu-satunya alat untuk membuat ku bisa mempengaruhi pikiran suamimu. Jadi, kali ini kamu harus berusaha sendiri untuk mendapatkan suamimu." ungkap Ki Sepuh yang membuat Nindy tak habis pikir. Pasti sangat tidak mudah menarik perhatian sang suami, karena pada dasarnya Farel tidak mencintainya.
...BERSAMBUNG...