
Farel menyimpan kalungnya dan Ia pun memutuskan untuk mencari informasi tentang keadaan istri pertamanya, Hana. Farel memerintahkan sang asisten untuk menyiapkan mobil untuk pergi ke suatu tempat, dimana istri pertamanya tinggal.
"Dito, persiapkan mobil sekarang! Aku mau pergi ke suatu tempat." titah Farel sembari mengambil jasnya dan beranjak pergi.
"Baik Bos! Akan Saya siapkan." sahut Dito sembari mengantarkan sang Bos ke depan.
Setelah itu, Farel pun segera pergi ke tempat dimana istri yang tinggal, berharap dirinya masih bisa bertemu dengannya. Entah kenapa Farel merasa ingin sekali bertemu dengan istrinya. Apa mungkin efek mantra-mantra itu hilang karena kalung itu terlepas dari leher Farel.
Setelah beberapa saat, mobil Farel tiba di depan sebuah rumah mewah, dimana rumah itu adalah hadiah pernikahannya dengan Hana yang didapatkan dari Almarhum sang Ayah.
Farel menghentikan mobilnya dan melihat suasana rumah yang terlihat sepi dan sepertinya sudah tidak terawat. Tentu saja itu membuat Farel sangat terkejut, Ia pun langsung turun dari mobil dan segera berlari untuk memeriksa kondisi rumah itu.
Farel melihat kondisinya sangat tidak terawat, Ia pun segera mengecek ke dalam dan ternyata pintu rumah sudah terkunci. Ia pun segera memerintahkan Dito untuk membuka pintu itu secara paksa.
"Dobrak pintunya!" Dito pun membantu Farel untuk mendobrak pintu rumah itu. Setelah pintu itu terbuka, Farel melihat ke dalam rumah yang semua perabotannya ditutup oleh kain, masih utuh hanya saja banyak debu-debu yang menutupi fasilitas rumah itu.
"Kemana Hana?" batin Farel setelah berkeliling mengecek kondisi rumah yang memang tidak berpenghuni, selama hampir setahun Farel meninggalkan Hana.
Sebelum Farel keluar dari rumah itu, sejenak Ia melihat sebuah foto yang masih terpajang pada dinding ruang tamu. Foto dirinya bersama Hana saat menjadi pengantin baru.
Farel berdiri memandangi foto dirinya bersama istri pertamanya, sejenak Ia melihat Hana yang sedang tersenyum pada foto itu dan entah kenapa Farel teringat dengan senyum sang tetangga baru yang tinggal di sebelah rumahnya.
"Kenapa senyuman kalian sangat mirip sekali, Hana! Kamu dimana sekarang? Hana tidak mempunyai orang tua, dia tidak memiliki keluarga di kota ini, pergi kemana dia?" Farel pun tidak tahu kemana istrinya pergi.
"Bos! Sebaiknya kita tanya warga sekitar, siapa tahu ada yang tahu kemana istri Bos pergi." seru Dito memberikan solusi.
"Iya kamu benar, kita tanya warga, mereka pasti tahu kemana perginya Hana."
Setelah itu, Farel dan sang asisten segera pergi keluar dari rumah itu dan mereka akan menanyakan tentang keberadaan Hani yang sudah tidak ada di rumah itu lagi.
"Siapa wanita itu? Kenapa Ia pergi begitu saja saat melihatku?" tanya Farel yang tidak sengaja didengar oleh sang asisten. Dito segera melihat ke arah wanita yang sedang berjalan menjauhi mereka. Wanita itu tampak menutupi kepalanya dengan kerudung warna hitam dan memakai masker untuk menutupi wajahnya. Wanita itu tampak cepat-cepat pergi menjauh dari posisi Farel saat ini, namun rupanya Farel penasaran dengan sosok wanita itu, Ia pun segera berlari mengejar wanita itu.
Wanita itu cepat-cepat berlari dan akhirnya Ia bisa bersembunyi di sebuah tempat yang tidak akan bisa Farel ketahui, sementara itu Farel dan Dito tampak kelelahan mengejar wanita itu dan mereka pun kehilangan jejaknya.
"Haaa sial! Dia sudah lari." seru Farel yang sudah kehilangan jejak wanita itu. Ia pun tampak terengah-engah setelah mengejar wanita yang cukup menyita perhatiannya.
Sementara itu dibalik sebuah dinding, Hani melepaskan kerudungnya dan Ia pun menyimpannya di dalam tasnya, setelah dirasa aman dan jauh dari kejaran Farel, Hani pun berpura-pura menunggu Taksi di pinggir jalan.
Sang asisten tanpa sengaja melihat seorang wanita cantik yang sedang berdiri di pinggir jalan raya sembari menunggu taksi lewat, tentu saja Dito berkata kepada Bosnya jika ada wanita yang sedang berdiri diseberang jalan.
"Bos-bos, coba lihat wanita itu, beuhh cantik banget Bos! Sumpah baru kali ini saya melihat wanita secantik dia. Kenalan ah siapa tahu dikasih nomor telepon." ujar sang asisten sembari bersiap menghampiri Hani yang sedang berdiri menunggu taksi.
Spontan Farel melihat ke arah wanita yang ditunjukkan oleh sang asisten, sejenak Farel mengerutkan keningnya saat melihat wajah wanita itu, wajahnya sangat mirip seperti tetangga barunya sebelah rumah.
"Itu seperti Hani? Iya benar itu Hani."
Dito yang bersiap untuk segera menghampiri Hani tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh Farel dan melarang Dito untuk menghampiri Hani.
"Eh eh mau kemana kamu?" Farel terlihat menarik tangan Dito agar asistennya tidak menghampiri Hani.
"Saya mau nyamperin wanita itu, Bos!" jawab Dito sembari cengar-cengir.
"Kamu nggak perlu ke sana, kita masuk ke dalam mobil dan setelah itu kita hampiri dia, mungkin dia butuh tumpangan." ucap Farel kepada sang asisten.
Dito pun tidak bisa menolak permintaan dari Bosnya, Dito pun segera memerintahkan sopir untuk pergi dari tempat itu, namun sebelumnya, Dito tampak mendengus kesal karena Ia tidak jadi menghampiri wanita cantik itu yang tak lain adalah Hani, tetangga Farel.
...BERSAMBUNG ...