
"Sorry Mas! Aku bercanda. Jangan dianggap serius, lagipula kamu juga sudah punya istri, nggak mungkinlah Aku suka sama kamu. Iya kan?" sahut Hani.
"Hmmm ... begitu, ya! Sayang sekali ya Aku sudah punya istri. Jika saja Aku belum punya istri, apa kamu mau sama Aku?" pertanyaan Farel membuat Hani tersenyum.
"Siapa sih yang nggak mau sama pria seperti kamu, Mas! Hanya perempuan bodoh saja yang menyia-nyiakan suami sepertimu, kalau Aku jadi istri kamu, Aku akan selalu menemanimu, membuatmu bahagia, dan tentu saja Aku akan melayanimu sebaik mungkin."
Perkataan Hani entah kenapa tiba-tiba membuat Farel melupakan istrinya untuk sejenak, selama ini Nindy memang sudah tidak terlalu perduli lagi dengannya, Farel sering merasa sendirian, Nindy yang dulu sering memanjakannya, justru kini wanita itu sibuk dengan syuting dan syuting, berangkat subuh. Pulang tengah malam. Dan itupun Farel sudah tertidur, sehingga tidak ada waktu untuk bermanja-manja sebagai suami istri. Dan itulah yang menyebabkan Nindy pun tidak kunjung hamil, jarangnya intensitas bertemu dan bercinta, menyebabkan Farel semakin jenuh dan bosan.
Sejak kedatangan tetangga barunya, Farel pun merasa ada chemistry, Ia merasa keluh kesahnya didengar oleh sang tetangga, entahlah mungkin perasaan terlarang itu perlahan mulai tumbuh subur di dalam hatinya.
Obrolan Hani dan Farel tiba-tiba terhenti saat Nindy masuk ke dalam kamar dan mendapati suaminya yang sedang senyum-senyum sambil menatap layar ponselnya, Nindy mendekati Farel dan langsung bertanya kepada sang suami.
"Ngobrol sama siapa kamu, Mas? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Nindy sembari menaikkan satu alisnya. Seketika Farel menutup ponselnya dan meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia pun berdiri dan menghadapi istrinya yang baru saja pulang dari syuting.
"Bukan urusanmu lagi, dengan siapa Aku ngobrol bukan lagi menjadi urusanmu, Nindy! Lebih baik kamu fokus saja dengan karirmu dan tidak perlu lagi repot-repot bertanya dengan siapa Aku berbicara, mengerti! Aku mau mandi dulu. Setelah ini Aku mau tidur. Aku ngantuk!" setelah mengatakan hal itu, Farel pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Nindy terlihat geram. Bagaimana bisa Farel berkata seperti itu padanya.
Nindy pun berusaha mengecek ponsel suaminya dan Ia ingin tahu dengan siapa Farel berbicara. Nindy mencoba membuka layar ponsel suaminya. Tapi nyatanya, Farel sudah mengunci layar ponsel miliknya, sehingga membuat Nindy tidak bisa lagi mengakses atau memeriksa chat-chat Farel dengan siapa saja Ia berbicara.
Sejenak Nindy berpikir untuk merayu suaminya agar tergila-gila lagi kepadanya, terlepas Nindy belum menyadari jika kalung yang dipakai oleh Farel sudah terlepas dari leher sang suami.
Di saat Farel sedang mandi, Nindy pun berusaha untuk melayani sang suami, Ia masuk ke dalam kamar mandi dan melepaskan semua pakaiannya berharap Farel akan tergoda melihat dirinya yang sedang telanjang bulat.
Farel yang saat itu sedang mandi di bawah guyuran air shower, tiba-tiba Ia merasa ada tangan yang melingkar pada pinggang seksinya. Seketika Farel langsung membalikkan badannya dan menatap sang istri yang sudah dalam kondisi tanpa sehelai benangpun.
"Nindy!"
"Maafkan aku, Mas! Mungkin selama ini Aku sudah mengabaikanmu, tapi malam ini Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu, pasti kamu sangat merindukannya, bukan!" seru Nindy sembari berusaha untuk mencium bibir sang suami, berharap mereka berdua akan bercinta saat itu juga. Namun, tiba-tiba saja Farel menolaknya dan berkata, "Emm maaf! Aku sedang tidak mood, Aku mau tidur. Kalau kamu mandi, mandi saja! Aku akan keluar." setelah mengatakan hal itu, Farel pun segera mengambil handuk dan keluar dari kamar mandi meninggalkan istrinya yang masih berdiri di bawah guyuran air shower.
"Mas! Kok kamu malah pergi sih?" teriak Nindy saat melihat Farel yang mulai membuka pintu.
"Brengsek! Bagaimana bisa Mas Farel menolakku, tidak biasanya dia seperti ini." umpat Nindy yang merasa ditolak oleh sang suami.
...BERSAMBUNG...