
Di saat Hani dan Farel mereguk manisnya madu percintaan, di saat mereka berdua saling memeluk dan saling mendesaah, ada sepasang telinga yang mendengarkan mereka dari luar dinding, rupanya Arum sudah mengikuti Farel sedari sang majikan keluar lewat pintu belakang, ternyata Arum tidak sedang tidur, ia sengaja terjaga untuk menjadi satpam Farel.
Hingga akhirnya ia melihat Farel masuk ke dalam rumah Hani dengan mengendap-endap. Dan kejadian yang sudah diduga itupun terjadi, tentu saja Farel dan Hani sedang asyik bercinta, apalagi keduanya sedang bahagia dengan kehadiran janin dalam kandungan Hani. Seperti dunia hanya milik mereka berdua.
Hani dibuat melayang terbang ke Nirwana, ketika bibir pria itu mencumbu seluruh permukaan kulit Hani tanpa terkecuali, hingga akhirnya sentuhan bibir Farel berhenti di sebuah tempat yang sangat ia sukai, dimana itu adalah tempat dirinya menanamkan benih-benih cintanya lewat sana.
"Mas! Kamu mau apa?" tanya Hani ketika Ia melihat kepala sang suami berada di antara kedua pahanya yang terbuka. Farel menatap liar dan ia pun tampak menyunggingkan senyumnya. Dan setelah itu Ia pun membuat Hani semakin menggila dengan sensasi rasa yang diberikan oleh Farel saat pria itu mengecup, menggigit bahkan mellumat tempat itu dengan nikmatnya.
Hani tidak bisa berkata apa-apa, rasanya memaksa Hani terus merremas rambut Farel, sementara kepala Farel terus bergerak tak karuan sehingga keluar suara-suara indah yang memenuhi kamar Hani.
"Maaasss ... hentikan! Aku nggak kuat ...."
Mendengar rintihan dari sang tetangga, Farel semakin mempercepat gerakan lidahnya, hingga akhirnya ia merasa jika Hani semakin menggelinjang dan saat itulah Farel masuk dan menyempurnakan aktivitas itu.
Sementara di dalam kamar itu ada dua insan yang sedang dimabuk cinta, di sisi luar Arum sibuk menelepon Nindy untuk memberi tahukan jika suaminya sedang asyik bermain lato-lato dengan si janda genit sebelah rumah mereka.
Nindy yang saat itu sedang berjuang menghadapi sang Bos maniak yang selalu meminta jatah darinya, Ia tidak bisa mendengarkan suara dering telepon dari sang asisten rumah tangganya.
"Ampun, Mister! Tolong lepaskan saya!" pekik Nindy saat pria paruh baya itu menghajarnya habis-habisan.
Lagi-lagi Mister Ken menghujamkan dalam-dalam benda itu ke dasar tubuh Nindy, wanita itu meringis kesakitan, karena ia merasa kesakitan dan tersiksa, tiba-tiba terucap dari bibir Nindy jika dirinya sedang mengandung anak dari Mister Ken.
"Mister! Saya mohon jangan terlalu keras, saya sedang mengandung anak Anda, Mister! Anda bisa mencelakainya," pekik Nindy sembari menahan rasa sakit pada area intinya.
Sejenak Mister Ken berhenti dan menatap wajah Nindy yang terlihat lebam karena pukulan darinya, entah seperti apa pria itu memperlakukan Nindy saat bercinta, mungkin lebih buruk dari seekor binatang.
"Apa? Kamu hamil? Apa kamu pikir aku percaya jika ini adalah anakku? Sayangnya aku tidak percaya sama sekali."
Mister Ken tampak tertawa jahat karena pria itu memungkiri bahwa jika dirinya adalah ayah biologis dari janin yang dikandung oleh Nindy. Ia pun meneruskan aktivitasnya tanpa perduli jika Nindy mulai berteriak kesakitan, dan itu semakin membuat pria itu bersemangat.
Di tempat lain, tentu saja sang asisten rumah tangga, Arum. Ia tidak tahu kenapa Nindy tidak menjawab teleponnya, akhirnya Arum menuliskan pesan kepada Nindy jika dirinya mengetahui bahwa Farel sedang berada di rumah sang tetangga.
Arum pun kembali ke rumah dan Ia berinisiatif untuk melaporkan kejadian di rumah Hani itu kepada ketua RT dan warga sekitar untuk mengerebek pasangan mesum yang meresahkan warga sekitar yang tak lain adalah sang majikan sendiri, ia berharap tindakannya ini mendapat pujian dari warga sekitar karena sudah melaporkan kejadian yang melibatkan perzinahan sang majikan dan tetangga baru itu. Dan berharap Hani bisa segera diusir dari tempat tinggalnya sekarang.
...BERSAMBUNG ...