
"Hani!"
"Hmm ...!"
"Kamu mempunyai tanda lahir di punggungmu?" tanya Farel sembari menatap mata Hani dalam-dalam. Hani pun terkejut, Farel mengetahui tanda lahir pada tubuhnya, mungkin malam itu Farel tidak melihatnya karena lampu padam, sehingga Farel belum tahu ada sebuah tanda pada punggung sang tetangga yang mirip dengan tanda lahir yang dimiliki oleh istrinya.
"Emm ... iya, Mas. Memangnya kenapa?" Hani balik bertanya.
"Tanda itu mirip sekali dengan tanda yang dimiliki oleh Hana, katakan padaku bagaimana bisa ada kesamaan antara tanda milikmu dan milik Hana?" Farel kembali membuat Hani harus bisa menjawabnya dengan logis.
"Apa? Aku dan Hana memiliki tanda yang sama? Bagaimana kamu bisa tahu Hana memiliki tanda di punggungnya? Kamu pernah melihatnya?" Hani balik bertanya, Ia pun penasaran bagaimana bisa Farel tahu jika dirinya memiliki tanda pada punggungnya, sementara saat itu Farel belum menyentuhnya sama sekali.
"Emm ... iya Aku tahu, Hana itu temanku. Jadi, dia cerita jika mempunyai tanda lahir di punggungnya, ya begitulah! Hanya saja sekarang Aku teringat Hana saat melihat tanda itu pada punggungmu!" balasnya sembari mengusap lembut wajah Hani.
Hani tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya pada leher sang tetangga. "Di dunia ini banyak yang memiliki kemiripan, tapi belum tentu sama, Aku bukan Hana mu, Mas! Hana mu sudah mati. Katakan padaku? Apa kamu merasa jika Aku ini adalah Hana?" ucap Hani mencoba memancing Farel untuk berpendapat tentang dirinya.
"Tidak! Wajahmu memang bukan Hana, kamu tidak mirip sama sekali dengan Hana. Tapi, entah kenapa aku merasa jika melihat Hana dalam dirimu. Seolah-olah sekarang Aku sedang berhadapan dengan Hana, ah ... mungkin itu cuma perasaanku saja." seru Farel mencoba mengelak. Hani menatap mata sang suami dan Ia tidak menyangka jika Farel masih teringat dengan dirinya, sejenak Hani berpikir apa mungkin guna-guna dari Nindy sudah tidak berpengaruh lagi terhadap Farel? Itu artinya banyak kesempatan untuk mendapatkan kembali Farel dari tangan sang adik sepupu.
"Kamu masih mengingatku, Mas! Aku lah Hana, Aku istrimu, Mas. Aku akan segera membawamu pulang ke rumah kita, dan kita akan hidup bahagia bersama, Aku sangat mencintaimu, Mas!" batin Hani dengan mata yang berkaca-kaca.
Farel pun melihat bola mata Hani yang dihiasi dengan embun yang berkaca-kaca, seketika Farel langsung memeluknya dengan erat, memeluk sang tetangga yang sudah membuatnya tergila-gila.
"Aku mencintaimu, Hani. Sangat mencintaimu." bisik Farel sembari mencumbu sang tetangga dengan mesra, dan lagi-lagi, untuk kedua kalinya sepasang kekasih itu terbuai dalam indahnya cinta, tak bisa dipungkiri, Hani pun begitu mabuk kepayang dengan apapun yang dilakukan Farel padanya. Bibirnya berdesis dan tubuhnya menggeliat, kala Farel mencoba kembali untuk menyalakan api asmara diantara mereka.
Dalam kamar mandi itu, Farel menanggalkan seluruh pakaiannya untuk ikut mandi bersama sang tetangga, keduanya mandi basah-basahan dibawah guyuran air shower yang mengalir membasahi tubuh keduanya.
Apapun yang terjadi, yang jelas kedua insan itu sedang dimabuk cinta, menyatukan kembali hasrat yang mungkin bagi orang lain itu adalah hubungan terlarang. Tapi sebenarnya hubungan mereka adalah sah dan tidak berdosa.
"Bolehkah Aku melakukannya lagi?" bisik Farel kala dirinya bersiap untuk menjelajah kembali taman bunga cinta yang sudah mulai membuatnya candu. Hani pun hanya menganggukkan kepalanya dan Ia pun bersiap untuk berlayar bersama dengan sang suami dalam samudera percintaan.
Farel menyeringai, dan Ia pun segera masuk ke dalam tubuh sang tetangga dengan sangat pelan namun pasti. Dalam beberapa detik, Farel berhasil membenamkan dirinya pada inti tubuh sang tetangga, sungguh benar-benar mereka berdua sangat menikmatinya.
Keluar suara-suara indah dari bibir Hani, suara yang membuat Farel semakin semangat untuk membawa sang tetangga melayang menuju ke angkasa, ditambah lagi sentuhan lain pada bagian yang lainnya, membuat Hani semakin tidak berdaya dengan apa yang dilakukan Farel kepadanya.
Sementara itu disaat Farel dan Hani sedang asyik-asyiknya menikmati permainan yang begitu nikmat. Di tempat lain, Nindy juga sedang merayu Bos pemilik rumah produksi yang sudah diincar oleh Nindy.
Mereka berdua berada di dalam sebuah kamar hotel, tentu saja bisa ditebak apa yang sedang mereka lakukan, jika ada pasangan berbeda jenis sedang dalam keadaan berduaan saja.
Nindy berada di atas tubuh Mister Ken dan sibuk memuaskan pria itu dengan imbalan berupa perpanjangan kontrak dan menjadi bintang nomor satu diantara artis-artis lain dibawah naungan Bos besar itu. Meskipun sedikit jijik, karena sang Bos bukanlah pria yang muda lagi, tapi demi karirnya, Nindy sanggup melakukan apa saja untuk mendapatkan obsesinya.
Mister Ken terlihat melenguh panjang setelah Nindy berhasil memuaskannya, mereka berdua pun terhempas di atas ranjang. Nafas Mister Ken tampak naik turun, terlihat pria yang sepatutnya menjadi Ayah Nindy itu sedang menikmati kepuasan batin yang diberikan oleh wanita muda yang merupakan artis dibawah naungan perusahaan miliknya.
Setelah dirasa cukup, Nindy pun segera bangkit dan pergi untuk membersikan dirinya, kalau tidak demi karirnya, Nindy tidak akan mau melayani pria tua itu.
"Sekarang Aku harus pergi, sumpah! Jijik banget, kalau saja bukan karena kamu seorang Bos, Aku nggak akan pernah mau melayani pria sepertimu." batin Nindy sembari beranjak pergi. Namun, rupanya tangan Nindy ditahan oleh Mister Ken, Nindy pun berhenti dan membalikkan badannya.
"Mau kemana kamu?" tanya Mister Ken dengan seringainya.
"Emm Saya mau pulang, Mister!" balas Nindy sembari menarik tangannya dari genggaman Mister Ken. Tapi, tidak semudah itu Mister Ken membiarkan Nindy pergi, pria matang itu segera menarik tangan Nindy hingga akhirnya wanita itu terjatuh di atas tempat tidur dan dengan cepat Mister Ken memangsa kembali makanan yang lezat yang sudah terhidang di depan matanya.
"Lepaskan Saya, Mister! Saya sudah capek, Saya mau pulang." rengek Nindy dikala Bos masih ingin bercinta dengannya.
"Membiarkanmu pulang? Itu hal yang bodoh yang pernah aku lakukan, ingat! Aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk kamu, dan sekarang kamu harus melayaniku setiap waktu, ini adalah kesepakatan diantara kita." ucap Mister Ken dengan tegas. Nindy pun tidak bisa menolak lagi. Ia pun terpaksa mengikuti perintah Mister Ken meskipun sebenarnya Ia tidak pernah menikmati hubungan itu. Nindy selalu merintih kesakitan pada saat Mister Ken menyentuhnya.
"Lepaskan Saya, Mister! Saya mau istirahat, sakit Mister!" rengek Nindy saat dibawah kungkungan pria itu. Mister Ken tidak akan pernah mendengar rengekan dari lawannya bercinta. Mister Ken meskipun berusia sangat matang, nyatanya Ia adalah seorang maniak s**s. Sial bagi Nindy, Ia harus melayani nafsu seorang pria yang memiliki hasrat yang begitu tinggi. Hingga akhirnya Nindy terlihat lemas dan pucat.
Setelah Mister Ken berhasil menyalurkan semua hasratnya, Ia pun melepaskan Nindy dalam kondisi lunglai tak berdaya. Nindy pun akhirnya bisa bernafas dengan lega. Namun, ada sesuatu yang membuat Nindy geleng-geleng kepala, Ia merasakan begitu nyeri pada inti tubuhnya dan saat Ia merabanya, Nindy membelalakkan matanya kala Ia merasa miliknya berubah seperti adonan kue yang diberikan baking powder banyak, sehingga terlihat lebih besar dan mengembang.
"Awwww ... gila nih apem! Kok bisa jadi kayak gini sih? Brengsek sakit banget." rintih Nindy saat dirinya mulai beranjak pergi ke kamar mandi dengan berjalan sedikit ngangkang karena terasa begitu nyeri pada pangkal pahanya.
...BERSAMBUNG...