
Farel hanyalah manusia biasa, tentu saja masih ada rasa iba dalam hatinya untuk Nindy, setelah mendapatkan kabar jika Nindy berada di rumah sakit, hari itu juga Farel dan Hana datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Nindy yang dikabarkan mengalami pendarahan hebat dan kehilangan banyak darah.
Di dalam sebuah kamar ICU di sebuah rumah sakit, terlihat seorang wanita terbaring lemah dengan sejumlah selang infus yang terpasang pada tubuhnya, artis cantik yang biasa wira wiri di televisi itu kini terbaring lemah di atas ranjang dengan kondisi yang memilukan, wajahnya bengap dan penuh luka lebam, bibirnya pucat dan Ia terlihat menggigil. Nindy ditemukan oleh manajernya terkapar di dalam sebuah kamar hotel dengan keadaan yang mengenaskan, dengan darah yang segar yang keluar dari area intinya, di duga Nindy mengalami kekerasan sekksual.
Nindy, yang terbiasa tampil cantik dan energik kini dirinya seperti mayat hidup yang hanya mengandalkan selang oksigen untuk bernafas. Pesona seorang Nindy seketika hilang dengan adanya insiden yang hampir saja merenggut nyawanya, beruntung sang manajer menemukannya dengan cepat, jika terlambat sedikit saja, Nindy dipastikan akan meninggal dunia.
Farel dan Hana datang dan melihat kondisi Nindy dari kejauhan, Hana tampak menggelengkan kepalanya melihat kondisi sang sepupu yang sangat parah. Kemudian Farel menanyakan kepada dokter tentang apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya.
"Dokter! Bagaimana Nindy mengalami hal seperti itu, apa yang terjadi padanya?" tanya Farel penasaran. Kemudian dokter pun dengan sangat menyesal harus mengatakan tentang kondisi Nindy.
"Begini Pak Farel, Bu Nindy ditemukan dengan kondisi yang sangat parah, beliau mengalami pendarahan hebat, karena diketahui bu Nindy sedang mengandung lima Minggu, sehingga kondisinya tidak kuat untuk melakukan hubungan badan yang ekstrim, bu Nindy mengalami kekerasan sekksual yang sangat parah, dan orang yang biasa melakukan hal seperti ini adalah mereka yang memiliki penyimpangan sekksual, sepertinya istri Anda baru saja berhubungan dengan pria yang sudah saya sebutkan tadi. Dan dengan sangat menyesal, bayi yang dikandung oleh bu Nindy tidak bisa kami selamatkan. Dan kami terpaksa mengangkat rahim bu Nindy karena luka akibat pendarahan itu akan menjadi infeksi jika tidak segera diangkat." Ungkap sang dokter yang membuat Farel penasaran dengan pria mana istrinya berhubungan.
"Nindy hamil, dokter? Apakah pria itu adalah ayah dari bayi yang dikandung oleh Nindy?" pertanyaan Farel membuat sang dokter bertanya-tanya.
"Anda bertanya kepada saya? Bukankah Anda adalah suaminya?" tanya sang dokter heran.
"Betul, saya memang suaminya, tapi saya merasa jika anak itu bukanlah darah daging saya, dan sekarang Nindy tidak akan bisa punya anak lagi, dokter?"
Dokter pun mengiyakan pertanyaan Farel.
"Benar sekali, Pak Farel. Bu Nindy selamanya tidak akan bisa mengandung lagi, dan semoga saja kejadian yang menimpa bu Nindy tidak mempengaruhi psikologisnya, karena pastinya beliau akan mengalami trauma berat." Seru sang dokter yang membuat Farel menghela nafas panjang.
"Bolehkah kami menemuinya, dokter?" tanya Hana tiba-tiba.
"Tentu saja, Nyonya! Tapi, kami hanya mengizinkan satu orang saja yang bisa masuk ke dalam ICU, mengingat kondisi bu Nindy masih sangat lemah." Ucap dokter menjelaskan.
"Terima kasih banyak, dokter!" Balas Hana yang akhirnya ia bisa bertemu dengan saudara sepupunya itu.
Hana memakai pakaian medis sebelum dirinya masuk ke dalam ruang ICU, sementara itu Farel terlihat menunggu sang istri untuk bertemu dengan Nindy.
Setelah semuanya siap, Hana pun mulai membuka pintu ruangan ICU itu. Perlahan kakinya melangkah mendekati Nindy yang saat itu sedang terbaring lemah. Hana melihat kondisi Nindy yang sangat memprihatikan, wajahnya penuh luka lebam, entah apa yang sudah dilakukan oleh pria itu sehingga membuat Nindy dalam kondisi separah itu.
"Astaga, Nindy! Apa yang sudah terjadi denganmu? Siapa yang sudah melakukan hal ini kepadamu? Benar-benar kejam." Ucap Hana lirih, dirinya sungguh tak tega melihat kondisi sang sepupu. Nindy memang bersalah kepada Hana, tapi apakah Hana tega untuk menertawakan kondisi sang sepupu di saat seperti ini, rasanya Hana akan menjadi wanita yang kejam jika dirinya sampai menertawakan Nindy yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Perlahan, Nindy membuka kedua matanya, samar ia melihat seseorang yang sedang berdiri di sampingnya, dengan suara yang lemah, Nindy bertanya siapa yang sedang berada di sampingnya.
"Si ... a ... pa?" tanya Nindy lemah dengan gerakan kelopak mata yang sangat sayu dan seolah enggan untuk membuka.
"Nindy, ini aku. Saudara sepupumu, Hana!" jawab Hana yang seketika membuat Nindy menangis.
"Hana ...."
Terdengar suara lemah Nindy diiringi tangisnya.
...BERSAMBUNG...