
Nindy mengikuti suaminya sampai ke dalam rumah, Ia pun ingin penjelasan dari Farel terkait keinginan Farel untuk bercerai darinya. Karena Nindy tidak ingin kehilangan Farel.
"Mas! Kamu harus jelaskan sama aku, kenapa kamu ingin bercerai dariku? Ini tidak fair, Mas! Apa salahku padamu?" seru Nindy sembari berteriak. Farel yang saat itu sedang melepaskan ikatan dasinya dan hendak pergi ke kamar mandi, seketika dirinya terlihat kesal karena pertanyaan Nindy.
"Kamu tanya salahmu apa? Coba tanyakan pada dirimu sendiri, apa salahmu selama ini, aku sudah muak dengan semua perilaku mu, aku bosan kamu acuhkan terus, dan sekarang aku putuskan untuk berpisah darimu, kita akan bercerai." Balas Farel dengan tegas.
"Bukankah sedari dulu aku seperti itu, kamu tahu sendiri aku menjadi artis itu memang sudah menjadi impianku dari dulu, dan dulu kamu tidak mempermasalahkannya, tapi sekarang semenjak kehadiran tetangga genit itu, kamu berubah dan kamu sudah berani menyelingkuhi aku, Mas! Apa karena aku tidak mau memberimu anak sehingga kamu tega berbuat seperti itu? Jika itu maumu, baiklah aku akan menuruti permintaanmu untuk melahirkan anak darimu, asalkan kamu tidak menceraikan aku, dan aku akan memaafkan perselingkuhan mu dengan wanita jalaang itu." Ungkap Nindy.
Mendengar ucapan dari istrinya, Farel pun berkata sembari menatap wajah Nindy dengan tajam.
"Tapi sayangnya, aku tidak mau mempunyai anak lagi darimu, aku sudah bertekad untuk segera berpisah, dan setelah itu aku akan menikahi Hani, kamu suka atau tidak aku akan tetap menikahinya, karena aku sangat mencintai dia, dia tidak seperti kamu, Hani sangat penyayang, dia sangat mengerti perasaanku, dan sekarang bersiaplah untuk berpisah, karena saat ini juga aku langsung berikan talak tiga untukmu." Seru Farel dengan serius. Setelah itu Farel segera pergi dari hadapan istrinya.
"Tidak, Mas! Aku tidak mau diceraikan kamu, aku tidak mau ..." seru Nindy sembari mengejar Farel yang hendak pergi dari hadapannya. Namun, Farel tetap tidak mau perduli, Ia pun terus pergi tanpa memperdulikan Nindy yang saat itu tiba-tiba saja dirinya merasa kepalanya berputar-putar, hingga akhirnya Nindy pingsan dan akhirnya jatuh di atas lantai.
"Bruuukkk"
"Nindy! Kamu kenapa?" seru Farel sembari menepuk-nepuk pipi Nindy, karena mendapati istrinya yang tidak sadarkan diri, Farel pun segera mengangkat tubuh istrinya untuk ia bawa ke dalam kamar. Setelah itu Farel merebahkan tubuh Nindy dengan hati-hati.
Keadaan Nindy yang disaksikan oleh Arum, seketika membuat Arum menyimpulkan bahwa sang majikan sedang hamil, Ia pun segera memberi tahukan kepada Farel jika istrinya itu mungkin sedang mengalami tanda-tanda wanita yang sedang hamil.
"Nyonya kenapa, Tuan?" tanya Arum khawatir.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja dia pingsan, aku akan panggilkan Dokter." Seru Farel sembari menelepon Dokter.
"Waaahhhh sepertinya Tuan dan Nyonya sebentar lagi tidak akan merasa kesepian di rumah ini, kalau menurut pengamatan saya ya, Tuan. Nyonya sekarang tuh sedang hamil. Saya sangat yakin itu, nggak ada hujan nggak ada angin, tiba-tiba Nyonya pingsan gitu aja, saya sangat yakin jika Nyonya sekarang sedang mengandung anak, Tuan!" ungkap Arum yang membuat Farel mengerutkan keningnya.
"Apa, Nindy hamil? Aku rasa itu tidak mungkin. Sudah lama sekali aku tidak pernah menyentuhnya, terakhir kali aku menyentuhnya itupun tidak sampai keluar, jadi mana mungkin Nindy bisa hamil? Ah mungkin saja ini cuma perkiraan si Arum saja, sok tahu dia." Batin Farel yang tidak percaya begitu saja dengan ucapan dari asisten rumah tangganya.
...BERSAMBUNG...