Menggoda Suami Tetangga

Menggoda Suami Tetangga
Aku mencintaimu


Mendengar keluhan dari sang tetangga, Farel dengan semangat akan membantu Hani untuk memberikan lilin kepada janda muda itu.


"Kamu jangan khawatir! Aku akan segera datang ke rumah mu, tunggu Aku!"


Setelah mengatakan hal itu, Farel pun tak lama-lama untuk membawakan lilin untuk sang tetangga, malam itu Farel keluar dari rumah dan datang ke rumah tetangganya, hujan diluar sangat deras, Farel menggunakan payung, hanya sekitar sepuluh langkah saja, Farel sudah tiba di depan rumah sang tetangga. Dengan sedikit basah kuyup, karena terpaan angin yang cukup kencang, membuat pakaian Farel sedikit basah, Ia pun sedikit menggigil kedinginan. Sembari mendekap tubuhnya yang terlihat menggigil, Farel mencoba mengetuk pintu rumah Hani. Dan tak berselang lama pintu itu terbuka.


"Mas Farel!" sebut Hani sembari menarik tangan Farel untuk masuk ke dalam rumahnya. Tentu saja Farel pun mengikuti sang pemilik rumah. Farel masuk ke dalam rumah Hani. Setelah itu Ia memberikan beberapa batang lilin untuk Hani.


"Ini lilinnya!" Farel menyerahkan tiga batang lilin kepada Hani, dan Hani pun menerimanya.


"Terima kasih banyak, Mas!"


Setelah menerima lilin itu, Hani segera menyalakan dua lilin, satu Ia letakkan di ruang tamu, dan satunya lagi Ia letakkan di ruang tengah, sementara di dalam kamar, Ia biarkan gelap.


Dalam suasana yang gelap itu, Hani merasakan jika Farel sedang kedinginan, Ia pun segera meminta Farel untuk duduk dan Ia akan membuatkan Farel minuman hangat.


"Mas Farel! Kamu kedinginan, Aku ambilkan minuman hangat dulu, ya!" seru Hani sembari beranjak pergi ke arah dapur. Namun, ternyata Farel tiba-tiba menghentikan langkahnya. Hani menoleh dan Farel pun langsung menarik tubuh Hani, hingga kini Hani berada di atas pangkuan sang Suami.


"Mas Farel! Apa yang kamu lakukan?" Hani berkata disela-sela debaran hatinya saat berhadapan langsung dengan sang suami.


"Entah ini dosa atau tidak, Aku merasa Aku sudah jatuh cinta kepadamu, Hani. Saat pertama kali kita berjumpa, Aku merasa jika kamu adalah wanita yang berbeda, Aku sadar jika Aku sudah memiliki istri, tapi tidak tahu kenapa jika berada di sampingmu, Aku merasa kamu adalah istriku, katakan! Apakah Aku bersalah sudah mencintai wanita lain selain istriku!" ucap Farel sembari mengusap wajah Hani dengan lembut.


Mendengar pengakuan dari Hani, Farel pun begitu bahagia, akhirnya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, mereka berdua pun larut dalam suasana malam itu, ciuman demi ciuman mereka lakukan. Apalagi Farel yang sudah sangat lama tidak merasakan hangat pelukan seorang istri. Farel begitu menikmati kebersamaannya bersama sang tetangga. Seolah-olah mereka akan menumpahkan segala hasrat malam itu juga.


"Hmm jangan, Mas!" pekik Hani saat tangan Farel mulai nakal bertamasya ke tempat yang lebih jauh. Spontan Hani berdiri dari posisi duduknya dari atas pangkuan Farel, dalam cahaya remang-remang lilin dalam ruangan itu, Hani pun terlihat berlari masuk ke dalam kamar, dirinya begitu malu, tentu saja baru kali ini sang suami memperlakukan dirinya seperti itu setelah mereka menikah dan akhirnya berpisah.


Hani merasa begitu gugup dan dadanya berdegup dengan kencang, karena dirinya belum pernah merasakan sentuhan dari Farel yang seperti itu, Farel pun tidak tinggal diam, seolah dirinya lupa jika ada Nindy, Farel pun mengejar Hani yang sedang masuk ke dalam kamarnya, saat Hani menutup pintu, tiba-tiba tangan Farel menahannya dan segera membuka pintu itu dengan cepat.


Tentu saja, Farel pun dengan mudah masuk ke dalam kamar Hani yang tidak ada cahaya penerangan, hanya cahaya dari lilin yang berada di ruang tengah tampak membias ke kamar Hani, sehingga kamarnya terlihat temaram dan romantis. Farel berjalan masuk ke dalam kamar Hani, sementara Hani tidak bisa berbuat apa-apa, karena bagaimanapun juga Farel adalah suaminya.


Farel menutup pintu kamar Hani, dan akhirnya singa yang kelaparan itu mendapatkan makanan malam ini, Dalam kamar itu keduanya terlibat hubungan yang begitu dekat layaknya suami istri.


"Mas jangan!" pekik Hani saat Farel mulai masuk ke dalam tubuhnya.


"Tidak ada siapapun di sini, hanya kita berdua. Aku mencintaimu, kamu juga mencintaiku. Apa salahnya kalau kita melakukannya, karena Aku tahu sebenarnya kamu juga menginginkannya, bukan!" bisik Farel ketika dirinya mulai membenamkan dirinya di suatu tempat yang masih belum terjamah oleh siapapun. Farel mengingat status janda yang disandang oleh Hani, membuatnya percaya diri jika dirinya dengan mudah akan masuk ke dalam raga Hani, tapi nyatanya justru Farel susah untuk masuk, seolah dirinya sedang berjuang untuk membobol gawang keperawanan seorang wanita.


"Akkhhh sakit, Mas!" pekik Hani saat merasakan rasa sakit yang belum pernah Ia alami. Spontan Farel terkejut dan menghentikan aktivitasnya saat mendengar rintihan dari bibir Hani. Meskipun saat itu masih seperempat perjalanan.


"Apa? Kamu sakit?" Farel menatap wajah Hani yang samar dalam cahaya temaram, sangat terlihat wajah meringis kesakitan dari Hani menahan sesuatu yang memaksa masuk ke dalam inti tubuhnya.


...BERSAMBUNG...