
Keluar butiran air mata dari sudut mata Hani, Farel mengusapnya, Farel merasa jika Hani adalah seorang perawan, terbukti dirinya tidak mudah masuk ke dalam tubuh sang tetangga, apalagi Hani merasa kesakitan saat dirinya memaksa untuk masuk.
"Katakan padaku! Kamu masih gadis?" seru Farel disela-sela dirinya mengusap air mata Hani, perlahan Hani menganggukkan kepalanya dan membuka kedua matanya.
Hani menatap mata sang suami dengan sendu, Ia pun tersenyum sembari berkata, "Suamiku belum menyentuhku, Mas! Dia pergi sebelum menjamahku, tapi Aku rela jika harus kehilangan mahkota kesucian ku untuk ku serahkan padamu. Milikilah Aku, Mas! Aku ikhlas." ucapnya sembari tersenyum dan memberi harapan untuk Farel agar pria itu menjadi orang pertama yang menyentuh dirinya.
"Kamu yakin?" Farel berusaha untuk meyakinkan Hani. Dan Hani pun menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk mendapatkan serangan selanjutnya dari sang suami.
"Sangat yakin, dan Aku tidak akan menyesal telah memberikannya kepadamu, karena Aku sangat mencintaimu, Mas." tutur Hani yang memberikan celah untuk Farel agar pria itu bisa dengan mudah untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan semakin membuka lebar-lebar kedua kakinya.
Mendengar penuturan dari Hani, Farel pun mengecup kedua kelopak mata sang tetangga sembari dirinya meminta izin untuk melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
"Aku minta maaf yang sebesar-besarnya, terima kasih kamu telah mempercayakan kepadaku untuk menjadi yang pertama untukmu, Aku tidak akan lepas dari tanggung jawab, Aku akan segera menikahimu. Dan sekarang Aku meminta izin kepadamu untuk melanjutkannya." ucap Farel yang rupanya sudah tidak sabar ingin segera membenamkan diri sepenuhnya pada inti sang tetangga, sungguh pesona Hani membuat Farel tak bisa melepaskan Hani begitu saja.
"Lakukanlah, Mas! Aku sudah siap." balas Hani sembari memejamkan matanya. Farel tersenyum dan Ia pun mulai mengecup bibir mungil sang tetangga untuk memberikan kenyamanan sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam tubuh Hani.
Melalui sentuhan lembut itu, Hani pun perlahan mengikuti permainan Farel, Ia pun mengabaikan rasa sakit yang sebelumnya membuat Ia meringis kesakitan, padahal Farel belum membenamkan secara sempurna.
"Rileks! Jangan tegang, jika kamu terlalu tegang, kamu akan semakin sakit, hampir sedikit saja, Sayang!" bisik Farel sembari mencumbu Hani hingga akhirnya Hani bisa sedikit terlupa dengan rasa nyeri yang mulai melanda.
Kondisi di bawah sana yang semakin licin, memudahkan Farel untuk masuk dan membenamkan diri dengan sempurna. Hanya dengan dua kali hentakan, Farel berhasil membobol gawang keperawanan seorang gadis yang ternyata adalah janda perawan.
"Ahhhh ... Sayang! Kita berhasil." bisik Farel sembari bergerak pelan-pelan, agar sang tetangga bisa terbiasa dengan miliknya di bawah sana.
"Hmmm ... Mas!" rintih Hani sembari merremas-rremas rambut sang suami.
Akhirnya, perjuangan Farel untuk mendobrak pintu keperawanan Hani berhasil sudah, Hani yang awalnya meringis kesakitan, kini Ia pun mulai menikmati setiap gerakan Farel yang membuatnya mengeluarkan suara-suara emasnya. Dan lama-kelamaan suara keduanya saling bersahutan dengan manja. Farel yang sudah lama tidak mendapatkan sentuhan dari istrinya, kini Ia sudah mendapatkan kenyamanan bersama Sang tetangga, apalagi Sang tetangga masih seorang gadis, meskipun Hani mengaku sebagai seorang janda. Dan itu membuat Farel semakin betah berada di sisi Sang tetangga.
Kondisi malam yang disertai hujan, apalagi lampu padam, hanya ada sedikit penerangan yang membuat suasana kian romantis, tentu saja membuat keduanya begitu larut dalam pergulatan yang nikmat itu.
Hingga akhirnya, selang tiga puluh menit, lenguhan panjang pun mulai terdengar dari mulut keduanya, pertanda jika keduanya mengakhiri pertempuran malam ini. Farel pun tidak membuang bibit kecebong nya di luar, Ia membuangnya di dalam, membiarkannya berenang di dalam rahim Hani. Meskipun Ia sadar jika Hani adalah tetangganya.
...BERSAMBUNG...