Menggoda Suami Tetangga

Menggoda Suami Tetangga
Cuma bayangan


"Kalau memang saya naksir Hani memangnya kenapa? Bapak-bapak mau apa?" seru Farel menantang bapak-bapak.


"Waaahhhh Pak Farel, itu nggak boleh Pak, Anda sudah punya istri cantik, kaya, kurang apa Bu Nindy sama Anda, seharusnya Anda bersyukur punya istri secantik Bu Nindy. Kok malah naksir tetangga baru." sahut Pak Dadang.


"Betul tuh, Pak Dadang! Anda seharusnya tahu diri dong, Pak Farel! Ngusir-ngusir kami, tapi bapak sendiri yang demen sama tuh janda, apaan!" sambung Pak Amir.


Karena semakin geram dengan ucapan ketiga pria itu, Farel pun membentak para tetangga yang berusaha untuk menggoda kekasihnya, Farel mengusir mereka dengan sedikit membentak, sehingga ketiga pria itu terkejut dan pergi meninggalkan Farel.


"Saya bilang pergi!!!!"


Pak Dadang, Pak Amir dan Pak Ujang terperanjat saat Farel dengan suara lantangnya mengusir ketiga pria itu.


"Sebaiknya kita pergi saja bapak-bapak, rupanya tetangga kita ada yang nggak suka lihat Hani digoda, wahhh ini nggak bener." ajak Pak Ujang yang berkata kepada dua tetangganya itu. Sementara Pak Amir tidak terima Farel berkata kasar kepadanya.


Pak Amir pun berkata kepada Farel dengan kesal, "Ingat ya Pak Farel, apa yang sudah Anda lakukan kepada kami adalah sebuah penghinaan, Anda memang tetangga Hani, tapi Anda bukan siapa-siapa nya janda itu, jadi Anda tidak berhak untuk melarang Kami bertemu dengan Hani. Karena kami juga tetangganya, bukan Pak Farel saja."


Setelah mengatakan hal itu, ketiga pria itu pergi meninggalkan Farel yang terlihat naik pitam karena para tetangganya sedang memperhatikan sang kekasih. Hingga akhirnya, Hani yang tidak sengaja mendengar ribut-ribut, Ia pun segera keluar dari halaman rumah dan melihat Farel yang sedang berdiri diluar pagar rumahnya.


Hani mendekati suaminya dan bertanya, "Mas Farel! Ada apa, Mas? Kok kamu ada di sini?"


Farel terkejut dan menoleh ke arah Hani dan berkata kepadanya, "Tidak apa-apa, itu cuma bapak-bapak yang tadi udah berani lihatin kamu, Aku nggak suka aja mereka lihat-lihat calon istriku, Aku usir mereka biar nggak kebiasaan."


Hani tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, kemudian Ia meraih tangan Farel dan berkata, "Ya ampun, Mas! Gitu aja kamu marah sih, jangan marah dong, nanti gantengnya ilang loh."


Mendengar rayuan dari Hani, Farel pun tersenyum, pria itu menatap wajah Hani yang sekilas mirip dengan Hana, terkadang Farel merasa jika Hana sedang bersamanya, tanpa berkedip, Farel menatap wajah sang tetangga begitu dalam, sehingga membuat Hani melambaikan tangannya di depan wajah Farel.


Farel terkesiap dan tampak mengerjapkan kedua matanya saat Hani mengejutkannya.


"Oh tidak, tidak apa-apa, hanya saja Aku merasa sedang melihat Hana di sini, entahlah mungkin saja itu cuma bayanganku saja." seru Farel yang bersiap untuk segera pergi ke kantornya.


"Hana? Sepertinya kamu teringat sekali dengannya, apa dulu hubungan kalian sangat dekat, emm ... maksudku apakah hubungan kalian itu lebih dari teman, misalnya kayak sahabatan gitu?" tanya Hani berpura-pura, Ia ingin memancing suaminya untuk berterus terang.


Farel hanya tersenyum sembari menundukkan wajahnya, kemudian Ia pun berkata kepada Hani, "Hana adalah gadis yang sangat baik, Aku menyesal karena Aku tidak tahu bagaimana dia bisa pergi, nanti Aku akan ceritakan kepadamu siapa sebenarnya Hana, tapi tidak sekarang. Aku harus segera pergi ke kantor, udah dulu ya! Nanti Aku akan menghubungimu, jaga dirimu! Jika ada apa-apa secepatnya kamu telepon aku, Oke!" ucap Farel sebelum pria itu masuk ke dalam mobilnya.


Hani pun mengangguk dan terlihat melepas kepergian sang tetangga dengan melambaikan tangannya.


"Hati-hati, Mas! Daaaahhhh ...."


Hani tampak melambaikan tangannya, dan Farel pun membalasnya dengan melambaikan tangan juga. Pagi itu Hani dibuat berbunga-bunga ternyata sang suami perlahan mulai perhatian kepada Hana, meskipun dalam skenario, Hana sudah mati. Nyatanya Farel masih teringat akan sosok Hana, Istri sahnya.


"Andai kamu tahu, jika Aku adalah istrimu, Mas! Aku adalah Hana." ucap lirih Hani sembari menatap kepergian mobil suaminya. Sementara di sisi lain, terlihat dua pasang mata yang sedang mengintip Hani dan Farel dari balik jendela dalam ruangan itu.


Nindy terlihat begitu terkejut saat Ia melihat dengan kepala mata sendiri jika suaminya tampak mesra dengan tetangga sebelah rumah.


"Brengsek! Mereka benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya mereka sedekat itu, pingin banget ku siram tuh muka si Hani dengan air comberan, jadi cewek kegatelan banget sih." umpat Nindy sambil memukul-mukul tembok, sementara sang asisten rumah tangga tampak mencoba mempengaruhi Nindy.


"Huuu dasar cewek murahan, Nyonya harus singkirkan tuh si Hani, jika tidak bisa-bisa Nyonya kehilangan Tuan Farel untuk selamanya, secara si Hani tuh lebih cantik dan lebih seksi, apalagi Tuan Farel udah incipin kue lapis legitnya, Nyonya! Pasti susah kalau laki-laki udah kena jepitan kue tetangga, bisa ambyar, Nyonya!" seru Arum sembari menggerak-gerakkan bola matanya memutar.


...BERSAMBUNG ...