
"Brengsek! Aku harus mencari cara untuk menjauhkan suamiku dari wanita itu, tapi bagaimana caranya? Aku jarang di rumah, tidak mungkin Aku mengawasi suamiku setiap hari. Terus Aku juga harus mendekati produser tua bangka itu. Jika tidak, karirku akan meredup, Ki Sepuh sepertinya sudah tidak mau membantuku, Aku harus membuat wanita itu tidak betah tinggal di rumahnya, dan Aku berharap wanita itu segera pergi dari lingkungan sekitarku, jika tidak Maka Farel bisa tergoda dengannya." ucap Nindy seusai dirinya menemui Ki Sepuh.
Ia pun berencana untuk mengajak suaminya malam ini untuk makan malam di luar, berharap dirinya bisa mengambil perhatian dari suaminya yang akhir-akhir ini mulai berkurang. Farel yang dulu tergila-gila dengan istrinya, kini Farel sudah berubah menjadi sosok yang dingin kepada Nindy. Dan untuk sementara Nindy meminta izin untuk break syuting, Ia ingin fokus sejenak untuk memberikan perhatian khusus kepada suaminya. Karena Ia khawatir jika Farel harus benar-benar pergi meninggalkan dirinya.
"Aku harus bisa mengambil perhatian Mas Farel lagi, setidaknya dimulai dengan makan malam bersama, Aku akan membuat Mas Farel jatuh cinta lagi kepadaku, biarpun tanpa bantuan Ki Sepuh, Aku pasti bisa meluluhkan hati suamiku." tekad Nindy sungguh-sungguh.
Hari itu juga, Nindy menghubungi suaminya dan mengatakan bahwa malam ini Nindy ingin makan malam berdua dengan sang suami.
"Halo Mas!"
"Nindy! Ada apa? Aku sedang sibuk, tolong jangan ganggu aku dulu!" balas Farel yang saat itu dirinya sedang sibuk memeriksa laporan keuangan.
"Tunggu Mas, iya Aku minta maaf jika sudah mengganggu pekerjaanmu. Tapi, malam ini kamu bisa kan meluangkan waktu sebentar untuk kita makan malam? Sudah lama kita tidak pergi berdua, pasti kamu juga sangat merindukannya, bukan?" rayu Nindy agar Farel bisa mengabulkan permintaannya.
"Maaf! Malam ini Aku tidak bisa, Aku sepertinya banyak pekerjaan, mungkin Aku pulang agak larut malam, Aku harus mengecek segala laporan akhir bulan. Kamu pergi saja sendiri, oke!" kata-kata terakhir sebelum Farel menutup ponselnya. Ia pun melanjutkan kembali pekerjaannya memeriksa dokumen-dokumen penting.
Sedangkan Nindy terlihat sangat kesal, karena Farel menolak ajakannya untuk makan malam, "Brengsek! Baru kali ini Mas Farel menolak ajakanku, biasanya dia yang semangat untuk mengajak keluar rumah, benar-benar Aku harus menemukan kalung itu, harus!" ucap Nindy kesal, harapan satu-satunya adalah dirinya harus menemukan kalung itu dan segera memasangnya pada leher suaminya, agar pengaruh pengasihan dari Ki Sepuh bisa berpengaruh seperti dulu.
*
*
*
Setelah cukup lama Hani menemui Madam Liu, Ia pun akhirnya pamit pulang. Dan setelah Hani keluar dari rumah mewah Madam Liu, Ia pun terlihat mengeluarkan ponselnya dan iseng menghubungi Farel.
Farel melihat layar ponselnya menyala, sekilas Ia melihat siapa yang sedang menghubunginya, jika itu Nindy dipastikan Farel tidak akan mengangkatnya. Tapi, kali ini bukan Nindy yang sedang menelpon dirinya. Tapi sang tetangga, Hani.
"Hani!!!!"
Tampak wajah bahagia terpancar dari seorang Farel, kesibukan memeriksa berkas-berkas laporan kantor, memaksa dirinya untuk istirahat sejenak, mengangkat telepon dari wanita yang sudah membuatnya kelimpungan.
"Halo, Sayang!" kata pertama yang keluar dari bibir Farel yang memaksa Hani tersenyum malu.
"Halo, Mas! Kamu lagi ngapain?"
"Biasa, memeriksa beberapa dokumen penting." jawab Farel sembari merebahkan punggungnya pada sandaran tempat duduknya.
"Eh eh jangan dong, ngapain ditutup. Nggak apa-apa kok, nanti Aku bisa tangani. Aku kangen banget sama kamu." lagi-lagi kata rayuan Farel membuat Hani senyum-senyum sendiri.
"Gombal!" sahut Hani.
"Loh kok gombal sih! Beneran aku kangen banget sama kamu, rasanya semalam masih kurang panjang, cepat banget tahu-tahu udah pagi, padahal Aku kan belum nambah." goda Farel sembari tertawa kecil.
"Apa sih kamu, Mas! Ada-ada saja." sahut Hani yang pastinya hatinya begitu berbunga-bunga.
"Kenapa kamu telpon Aku? Kamu pasti kangen kan?" tanya Farel.
"Kok tahu sih." balas Hani genit.
"Tahu dong! Bukan cuma kamu saja yang kangen, Aku lebih parah. Rasanya ingin sekali segera pulang dan bertemu denganmu, menghabiskan malam panjang bersamamu, Aku akan segera menikahimu, agar kita tidak kucing-kucingan lagi seperti ini." ucap Farel sungguh-sungguh.
"Nanti malam, Aku akan menunggumu di rumah, Mas! Tapi, apa tidak ketahuan istrimu, Mas? Aku takut saja nanti dia akan melabrak ku lagi di rumah." ungkap Hani yang melaporkan perbuatan Nindy kepada Farel.
"Apa? Istriku melabrak kamu?" Farel tak menyangka jika Nindy bisa berbuat seperti itu kepada Hani, rupanya Nindy sudah mencium perselingkuhan mereka berdua.
"Iya, Mas! Dia maki-maki Aku, dia bilang Aku suruh jauh-jauh dari kamu, ya Aku nggak mau dong, Mas! Dia juga udah ngancam Aku gitu. Pokoknya kamu harus ceraikan istri Kamu, Mas! Kamu cinta kan sama Aku?"
Mendengar keluh kesah dari Hani, Farel pun tidak terima jika Nindy mengancam Hani.
"Kamu tidak usah khawatir, Nindy tidak akan berani lagi ganggu kamu, Aku pastikan itu." balas Farel.
"Bener, Mas? Kamu nggak bohong?"
"Mana mungkin Aku bohong, kamu bisa percaya Aku, hmm!" ucap Farel meyakinkan Hani.
"Terima kasih banyak, Mas! Kamu benar-benar pria yang baik," ucap Hani yang membuat Farel senyum-senyum sendiri.
"Untukmu apapun akan Aku lakukan, Sayang!" balas Farel dengan suara seraknya.
...BERSAMBUNG...