
Farel terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa, sungguh jahat sekali dirinya pernah berbuat seperti itu kepada sang istri, meninggalkannya hanya demi menikahi Nindy. Menyesal pun percuma, kini Hana sudah tidak ada lagi di dunia ini. Farel hanya bisa meratapi kepergian sang istri dan mendoakan semoga Hana mendapatkan kebahagiaan di sisi-Nya.
"Halo Mas, Mas Farel kenapa?" tanya Hani yang membuat Farel terkesiap karena dirinya melamun kan tentang istri pertamanya.
"Oh iya Hani, maaf tidak apa-apa kok, em kalau boleh tahu apa kamu tahu di mana pusara Hana?" pertanyaan yang membuat Hani mengerutkan keningnya.
"Ngomong-ngomong kenapa Mas Farel tiba-tiba bertanya tentang Hana? Apa Mas punya hubungan dengan Hana?" Hani pun penasaran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Farel yang mendadak ingin mengetahui tentang keberadaan Hana.
"Emm ... Hana, dia adalah temanku, dan Aku tidak tahu kabarnya setahun belakangan ini, dan sekarang Aku mendapatkan kenyataan jika Hana sudah pergi untuk selamanya. Oh ya Hani, bisakah kamu mengantarkan ku datang ke pusara Hana?"
"Bisa." balas Hani spontan. Farel pun sangat bahagia, akhirnya dirinya bisa meminta maaf kepada Hana meskipun kini sang istri telah pergi untuk selamanya, Hana bukan istri pilihannya, tapi setidaknya Farel berusaha untuk menghormatinya meskipun sang istri sudah meninggal dunia.
"Kalau begitu, kalau besok kamu ada waktu, Aku ingin kamu mengantarkan ku ke pusara Hana, bisa?"
"Tentu saja, Mas! Aku pasti selalu ada untukmu." jawabnya lembut.
"Terima kasih Hani, selamat malam!" kalimat terakhir yang diucapkan Farel sebelum menutup ponselnya. Namun, tiba-tiba Hani menahannya. "Tunggu Mas!"
Farel pun meletakkan kembali ponselnya pada telinganya. "Iya ada apa lagi?"
"Nggak apa-apa, cuma mau bilang, selamat tidur, semoga mimpi indah malam ini."
Farel tersenyum mendengar ucapan dari Hani, bukannya menutup ponselnya, Farel pun mengajak Hani untuk berbincang, karena Farel merasa Hani sangat care dan selalu nyambung jika diajak ngobrol.
"Ngomong-ngomong, kamu lagi ngapain?" pertanyaan Farel membuat Hani tersenyum.
"Nggak ngapa-ngapain, Mas! Aku mau tidur, eh kamunya nelpon." balas Hani dengan suara manjanya.
"Waduh aku ganggu dong?" Farel pun semakin mengambil posisi berbaring sembari bertelepon ria dengan sang tetangga.
"He em ganggu banget, tanggung jawab hayo, Aku jadi nggak bisa tidur nih." celetuk Hani.
Farel pun tertawa kecil sembari berkata, "Sorry-sorry, tadi Aku kepikiran kamu pas kita ketemu di sana. Eh nggak tahunya Aku mendengar berita ini, ya Sudahlah, mungkin ini sudah takdir Hana."
Farel pun hanya bisa menghela nafas panjang, karena dirinya juga ikut andil membuat sengsara kehidupan Hana.
"Oh ya, Mas! Aku nggak apa-apa nih telpon kamu malam-malam, istri kamu nggak marah?" tanya Hani mulai memancing ke topik pembicaraan yang lebih dekat.
"Nggak lah, nggak ada yang marah, istriku jarang ada di rumah. Aku justru merasa tidak kesepian kalau ada kamu, ada teman ngobrol baru." balas Farel sembari tersenyum.
"Emm istri kamu jarang pulang? Ya ampun kasihan banget kamu, Mas! Pasti kesepian banget." ucap Hani dengan nada manjanya.
"Ya ... begitulah,"
"Aku mau kok jadi teman ngobrol kamu, itupun kalau kamu setuju." tawar Hani yang berharap bisa mendapatkan perhatian dari Farel.
"Beneran! Ya mau banget lah, tapi kamu juga nggak ada yang marah nih, takutnya nanti pacar kamu marah atau gimana."
Hani tertawa mendengar ucapan dari Farel, "Ya ampun, Mas! Aku belum punya pacar, lagipula Aku tidak mau menjalin hubungan dengan pria manapun, Aku masih ingin menyendiri dulu, Aku juga belum nemuin pria yang cocok aja." ungkap Hani.
"Jangan kelamaan menyendiri, nggak baik nanti banyak yang tergoda sama kamu." goda Farel.
"Tergoda sama Aku? Memangnya siapa Mas yang suka dengan janda sepertiku, Aku ini udah seken, bukan ORI lagi." Hani pun semakin berkata yang membuat Farel semakin tertawa lebar.
"Ya ada aja lah, kalau Aku yang tergoda, gimana hayo!" lagi-lagi Farel melontarkan kalimat yang membuat Hani cengar-cengir.
"Kalau kamu yang menggoda, hmm mungkin Aku pikir-pikir dulu." jawabnya yang berharap bisa menjebak Farel untuk masuk ke dalam perangkapnya.
"Serius?"
"Hmm ...!"
Sejenak keduanya pun saling tersenyum, meskipun keduanya tidak bisa melihat wajah masing-masing, namun bisa dipastikan keduanya menunjukkan wajah bahagia.
...BERSAMBUNG...