Menggoda Suami Tetangga

Menggoda Suami Tetangga
Nafas terakhir


Nindy menoleh ke arah sumber suara, dimana berdiri seorang wanita cantik yang tentu saja sangat Nindy kenali. Iya, wanita itu adalah tetangganya yang sedang menjalin hubungan terlarang dengan sang suami.


Spontan Nindy menatap benci kepada wanita yang dilihatnya, tapi ada yang aneh, kenapa Hani menyebutkan jika dirinya bernama Hana.


Tangan Nindy bergerak menunjuk ke arah Hana, dengan suara yang tertahan Nindy berusaha untuk mengusir Hana dari kamarnya.


"Per-pergi kamu! A-aku tidak sudi lagi melihatmu, pergi kamu dari sini!" usir Nindy kepada Hana. Nindy yang saat itu belum tahu jika Hani adalah Hana, saudari sepupunya. Ia terlihat sangat marah.


Hana pun dengan terpaksa mengatakan yang sebenarnya tentang jati dirinya kepada sang sepupu. Siapa dia dan tujuannya datang ke dalam rumah tangga Farel dan Nindy.


"Nindy! Aku mengerti perasaanmu, aku turut menyesal dengan kejadian yang menimpa mu. Tapi, aku harus berkata jujur padamu, agar kamu tidak salah paham lagi mengenai diriku yang menjalin hubungan dengan suamimu." Ungkap Hana yang terpaksa harus mengatakannya.


Nindy pun semakin tidak mengerti apa yang diucapkan oleh tetangganya itu. Hingga akhirnya sebuah kebenaran harus ia terima di saat Hana mengatakan jika dirinya adalah sang sepupu bernama Hana. Bagaikan disambar petir, bagaimana bisa ia tahu jika Hana adalah Hani dalam situasi seperti ini, Kakak sepupunya ternyata tetangganya yang sendiri. Mengingat, jika wajah Hana tidaklah secantik sekarang.


"Tidak! Itu tidak mungkin, tidak mungkin kamu Hana, kamu pasti orang lain, Hana tidak mungkin berwajah seperti ini?" seru Nindy sembari menahan rasa sakit pada area perutnya akibat bekas operasi pengangkatan rahimnya yang baru beberapa jam dilakukan oleh dokter.


"Itu benar, Nindy! Aku adalah Hana, sepupu mu yang suaminya kamu rebut dari tangannya, aku datang ke sini memang sengaja untuk merebut kembali suamiku, dan sekarang aku sudah mendapatkan suamiku kembali, maaf Nindy kali ini kamu harus menyerah. Karena Mas Farel sudah menceraikan mu." Mendengar pengakuan dari Hana, Nindy tak lantas percaya begitu saja, karena wajah Hana sekarang sangatlah berbeda dengan dulu yang tampak masih biasa dan tak secantik sekarang.


"Apa yang kamu katakan! Hana tidak mungkin seperti ini!" seru Nindy sembari menahan rasa sakit yang luar biasa pada tubuhnya itu, apalagi setelah ia mendengar jika Hani adalah Hana, maka rasa nyeri itu semakin sakit.


Nindy hanya diam terpaku, tatapan matanya mulai kosong, mungkin ini adalah karma yang diterima olehnya karena apa yang sudah dilakukannya selama ini, tak ada jawaban dari wanita itu, ia hanya menatap kosong atap kamar rumah sakit dimana ia dirawat. Entah apa yang ada dalam bayangan Nindy, wanita itu seolah kehilangan konsentrasinya.


Sejenak, Hana memperhatikan ekspresi wajah adik sepupunya itu, Hana melihat jika tatapan kosong itu terlihat dengan jelas pada bola mata Nindy.


Hana mencoba memanggil nama Nindy berulang kali, tapi tetap saja tak ada jawaban, hingga akhirnya ia pun memberi tahukan kepada dokter tentang apa yang terjadi kepada adik sepupunya itu.


"Dokter! Tolong lihat kondisi Nindy, saya rasa ada yang aneh dengannya."


Kemudian sang dokter pun datang ke kamar Nindy dan segera melihat kondisinya.


Setelah cukup lama Hana dan Farel menunggu Dokter keluar dari ruangan perawatan Nindy, akhirnya sang dokter keluar dengan mengabarkan sesuatu yang akan membuat Farel dan Hana pasti terkejut.


"Dokter! Apa yang terjadi pada Nindy? Apa dia baik-baik saja?" tanya Farel. Sang dokter pun dengan sangat terpaksa harus mengatakan jika Nindy sudah mengembuskan nafas terakhirnya.


...TAMAT...